Review: The Greatest (2009)


Bennett Brewer (Aaron Johnson) telah menyukai teman satu sekolahnya, Rose (Carey Mulligan), semenjak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah tersebut. Bennett, sayangnya, tidak memiliki cukup keberanian untuk menyapa Rose secara langsung, yang membuatnya menghabiskan masa empat tahun sekolahnya untuk menjadi pengagum rahasia Rose – yang ternyata juga telah lama menyukai Bennett. Di hari terakhir sekolahnya, Bennett akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Rose. Berdua mereka akhirnya menghabiskan satu hari bersama, bersenang-senang, bercinta dan mencoba untuk mengetahui satu sama lain lebih dalam. Namun, hari yang indah tersebut berakhir tragis setelah sebuah kecelakaan yang dialami mereka kemudian merenggut nyawa Bennett untuk selama-lamanya.

The Greatest, bagaimanapun, bukanlah sebuah film yang murni menceritakan mengenai kisah hubungan antara Bennett dan Rose. Kisah percintaan dua remaja tersebut malah hanya menjadi plot kisah pendukung dari kisah utama yang menceritakan mengenai bagaimana keluarga Bennett mencoba bertahan setelah kematian putera mereka. Ibu Bennett, Grace (Susan Sarandon), adalah orang yang paling menderita akibat kematian Bennett. Ia terlihat begitu depresi sehingga gagal untuk mengetahui bahwa suaminya, Allen (Pierce Brosnan), dan putera keduanya, Ryan (Johnny Simmons), juga merasakan rasa kepedihan yang sama mendalamnya namun menyimpan rasa tersebut dan mencoba untuk tetap melangkah ke depan.

Kisah mengenai pasangan orangtua yang harus menerima keadaan bahwa anak yang mereka sayangi meninggal dunia secara tiba-tiba memang bukanlah sebuah plot kisah baru di industri film Hollywood. Susan Sarandon bahkan pernah membintangi film bertema sama, Moonlight Mile (2002), dimana ia berperan menjadi ibu dari seorang aktris yang meninggal secara tragis karena dibunuh penggemarnya. The Greatest memiliki plot cerita yang sangat mudah ditebak, dengan mengikuti seluruh formula film-film sebelumnya yang bertema sama. Hanya saja, kali ini plot tersebut ditambah dengan kisah kedatangan Rose ke rumah pasangan Brewer dan mengungkapkan bahwa ia tengah mengandung anak Bennett.

Sutradara sekaligus penulis naskah, Shana Feste, memang sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam debut penyutradaraannya ini. Ia mencurahkan seluruh perhatian kisah film ini pada pasangan orangtua Bennett, sehingga penonton dipastikan telah mengetahui bahwa mereka akan menyaksikan salah satu dari pasangan tersebut akan menutupi dirinya dengan seluruh rasa luka yang ia rasakan, yang kemudian akan mempengaruhi kisah percintaannya dengan pasangannya dan kemudian akan membuat mereka berdua lupa mengenai adanya kehadiran anak lain dalam pernikahan mereka. Plot yang sangat mudah untuk ditebak ini yang membuat The Greatest hampir kehilangan seluruh daya tarik dalam ceritanya.

Sementara itu, plot mengenai Rose yang sedang mengandung anak Bennett sendiri tidak begitu dapat dikembangkan dan disajikan dengan baik untuk tampil setara dengan plot utama film ini. Padahal, karakter Rose ditulis dengan karakterisasi yang begitu berwarna – yang membuat kehadiran karakternya menjadi sesuatu yang menyegarkan jika disandingkan dengan karakter Grace, Allen dan Ryan. Kehadiran karakter Rose pada setiap adegan di film inilah yang menjadi salah satu detak kehidupan yang mampu membuat The Greatest tertahan untuk tidak terjatuh menjadi sebuah film yang mudah ditebak dan begitu membosankan.

Alasan lain untuk menyaksikan film ini tentu saja adalah untuk menyaksikan kemampuan akting yang sangat memuaskan dari jajaran pemeran film ini. Susan Sarandon bermain sempurna sebagai seorang ibu yang berduka dan hampir kehilangan seluruh hidupnya setelah ditinggalkan sang anak. Pierce Brosnan, secara mengejutkan, mampu untuk menampilkan sisi sensitifnya. Namun, tentu saja, Carey Mulligan menjadi bintang yang paling bersinar. Ia mampu menghidupkan karakter Rose dengan sedemikian rupa sehingga karakter tersebut terasa begitu berwarna dan menjadi begitu menyenangkan setiap karakter tersebut hadir dalam adegan-adegannya.

Shana Feste, untungnya, tidak lantas menghadirkan sebuah kisah yang begitu konvensional dengan cara yang terlalu berlebihan. Tentu saja, Anda akan menemukan beberapa adegan khas film-film bertema sama — dua orang yang saling berteriak satu sama lain atau seorang karakter yang menangis tanpa henti – di film ini. Namun hal itu hanya berhenti pada titik tersebut. Tidak lebih. Feste cukup cerdas untuk menghadirkan jalan cerita, susunan dialog serta deretan karakter dengan penuh kesederhanaan. Ini yang membuat The Greatest masih mampu terlihat berjalan dengan kisah cerita yang nyata walau terlalu mudah ditebak dan sedikit kurang mampu menjalin komunikasi emosional dengan penontonnya.

The Greatest (Barbarian Film Group/Oceana Media Finance/Silverwood Films/Irish DreamTime/Paladin, 2009)

The Greatest (2009)

Directed by Shana Feste Produced by Lynette Howell, Beau St. Clair Written by Shana Feste Starring Pierce Brosnan, Susan Sarandon, Carey Mulligan, Aaron Johnson, Johnny Simmons, Michael Shannon Music by Christophe Beck Cinematography John Bailey Editing by Cara Silverman Studio Barbarian Film Group/Oceana Media Finance/Silverwood Films/Irish DreamTime Distributed by Paladin Running time 98 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s