Review: The Warrior’s Way (2010)


The Warrior’s Way sebenarnya memiliki potensi cukup besar untuk menjadi sebuah film yang dapat tampil menghibur, khususnya bagi mereka yang memang menggemari film-film yang memasukkan unsur martial arts ke dalam jalan ceritanya. Sutradara, Sngmo Lee, bahkan memulai The Warrior’s Way dengan cukup mengesankan: berisi narasi yang memperkenalkan sang karakter utama, dan dilanjutkan dengan adegan pertarungan dengan menggunakan special effect a la 300 (2007). Sayangnya, film ini kemudian tenggelam dengan berbagai hal klise yang terdapat di berbagai sudut jalan cerita serta karakterisasi yang terlalu dangkal untuk setiap karakter yang membuat The Warrior’s Way semakin kurang menarik untuk diikuti.

Berlatar belakang kisah di abad 19, The Warrior’s Way mengisahkan pembelotan yang dilakukan oleh seorang pejuang, Yang (Jang Dong Gun), terhadap kelompoknya setelah ia menolak untuk membunuh seorang bayi yang merupakan keturunan terakhir dari kelompok yang menjadi musuh abadi dari kelompok Yang berasal. Segera setelah resmi menjadi buronan utama dari kelompoknya sendiri, Yang memutuskan untuk membawa bayi yang ia selamatkan ke wilayah Barat dan mendarat di sebuah wilayah tandus Amerika Serikat.

Di wilayah tersebut, Yang sebenarnya mencari teman lamanya, yang merupakan anggota sebuah kelompok sirkus keliling. Disambut oleh seorang manusia kerdil yang dikenal dengan nama Eight Ball (Tony Cox), ia akhirnya mengetahui bahwa teman lamanya telah meninggal dunia. Walau begitu, demi keamanan diri dan sang bayi, Yang akhirnya memutuskan untuk tinggal di daerah tersebut. Di sana, Yang kemudian belajar mengenai arti kehidupan sebenarnya, sekaligus berkenalan dengan Lynne (Kate Bosworth), seorang wanita cantik yang memiliki masa lalu yang kelam. Kini, setelah menjalin hubungan yang erat dengan seluruh anggota sirkus tersebut, Yang kemudian membantu mereka untuk melawan teror The Colonel (Danny Huston) yang sering berbuat brutal terhadap para anggota sirkus semenjak lama. Tantangan tak berhenti di situ. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang telah lama memburu Yang akhirnya mengetahui keberadaannya dan segera berusaha untuk melenyapkannya.

Terdapat banyak hal yang dapat dikeluhkan dari masa 100 menit The Warrior’s Way berjalan, namun tampilan visual yang disajikan di sepanjang menit-menit tersebut bukanlah salah satunya. Memiliki sinematografi yang sangat indah, yang sanggup menghadirkan tampilan warna terang yang begitu memikat, setiap adegan di film ini sangatlah menarik untuk disaksikan. Satu sisi lain yang tampil sempurna di The Warrior’s Way adalah iringan musik karya komposer Javier Navarette, yang menampilkan begitu banyak elemen musik dan suara untuk menghasilkan aliran emosi di banyak adegan.

Penilaian yang berbeda, sayangnya, harus diberikan pada apa yang dilakukan Lee untuk mengeksekusi jalan cerita The Warrior’s Way. Awalnya mengisahkan mengenai usaha sang petarung untuk melarikan diri dari kelompoknya, The Warrior’s Way kemudian kehilangan arah ceritanya dengan memasukkan berbagai unsur klise dari sebuah film yang menceritakan mengenai seorang karakter dalam usahanya untuk menemukan kembali siapa jati dirinya. Penyelesaian kisah petualangan Yang juga dihadirkan seperti terburu-buru. Mungkin bermaksud untuk memadukan martial arts dengan pertarungan a la western, Lee sayangnya gagal membuat bagian ini menjadi mampu untuk dapat terlihat menarik.

Yang lebih buruk lagi, The Warrior’s Way memiliki deretan karakter yang sama sekali tidak menarik, mulai dari karakter utamanya — penggambaran Yang oleh Jang Dong Gun terlihat tidak karismatik dan begitu membosankan — hingga beberapa karakter pendukung – Kate Bosworth tampil baik untuk menghidupkan karakternya yang dangkal – semakin membuat The Warrior’s Way terlihat menyedihkan. Walaupun karakter Ron, seorang pria tua pemabuk, yang dimainkan oleh Geoffrey Rush memiliki peran yang sangat minimal, namun kehadiran karakter inilah yang seringkali menghidupkan suasana di beberapa adegan. Selain Ron, karakter The Colonel yang diperankan oleh Danny Huston harus diakui juga mampu tampil lebih berwarna daripada deretan karakter protagonis yang cenderung ditampilkan sangat datar.

Tampilan visual yang cukup mengesankan di sepanjang The Warrior’s Way sayangnya gagal disamai oleh tampilan kualitas jalan cerita yang dihadirkan film ini. Sebagai seorang sutradara, yang juga menuliskan naskah film ini, Sngmo Lee terlihat begitu kebingungan untuk mengisi jalan cerita film ini agar dapat tampil menarik. Sayang, terlalu banyaknya hal klise dengan karakter-karakter yang dangkal membuat film ini terlihat begitu melelahkan untuk diikuti selama 100 menit masa tayangnya.

The Warrior's Way (Sad Flute/Cultur Unplugged Studios/Fuse Media/Relativity Media, 2010)

The Warrior’s Way (2010)

Directed by Sngmoo Lee Produced by Barrie M. Osborne, Lee Joo-Ick, Michael Peyser Written by Sngmoo Lee Starring Jang Dong Gun, Geoffrey Rush, Kate Bosworth, Danny Huston, Tony Cox, Ti Lung, Analin Rudd Music by Javier Navarrete Cinematography Woo-Hyung Kim Editing by Jonno Woodford-Robinson Studio Sad Flute/Cultur Unplugged Studios/Fuse Media Distributed by Relativity Media Running time 100 minutes Country United States Language English

4 thoughts on “Review: The Warrior’s Way (2010)”

  1. iya uda’, jelek banged ni film ….
    dr awal dah mati bosen aku dibuatnya ….
    aku nonton ini gara gara si geoffrey rush aja ……
    hampir ga ada scene yang aku suka …
    ga ada chemistry juga tuh si bosworth ama dong gun ….
    kaku banged …. -_____-

    kecuali, yahhhhh, jang dong gun yang mwaaanisssss ….. heuheuheu … :malu

  2. berarti menurut anda dokumenternya justin bieber never say never lebih bagus dari warrior way ini yah? Hmmm….

    1. Yep. Film dokumenternya Justin Bieber (jauh) lebih bagus daripada The Warrior’s Way. Dan Anda bukan penggemar Justin Bieber sepertinya? Coba ditonton dulu film tersebut. Walau bukan seorang penggemar, bahkan jika Anda orang yang sangat membenci seorang Bieber, saya yakin Anda tidak akan dapat mengatakan film dokumenter tersebut sebagai sebuah karya ‘sampah’ tanpa harus diiming-imingi dengan bayaran Rp100 juta seperti yang dilakukan oleh salah satu rumah produksi nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s