Review: Made in Dagenham (2010)


Seperti halnya The Fighter (2010), Made in Dagenham sama sekali tidak menawarkan sebuah terobosan baru di dalam penceritaannya. Diangkat dari kisah nyata mengenai upaya pekerja wanita untuk mendapatkan upah yang setara di perusahaan produsen mobil Ford pada tahun 1968, Made in Dagenham justru mengikuti setiap pola drama yang pernah ada mengenai kisah sekelompok orang yang berusaha untuk mendapatkan status hidup yang lebih baik. Jajaran pemeran Made in Dagenham yang membuat film ini mampu tampil menghibur dan inspiratif, khususnya penampilan sang aktris utama, Sally Hawkins, yang begitu mampu mengeksplorasi setiap emosi yang dibutuhkan karakternya untuk dapat tampil memikat hati setiap penonton film ini.

Disutradarai oleh Nigel Cole (Calendar Girls, 2003), Made in Dagenham memfokuskan kisahnya pada perjuangan 187 pekerja wanita di perusahaan produsen mobil Ford di kota Dagenham, Inggris, dalam usahanya untuk mendapatkan upah yang setara dengan para pekerja pria. Secara khusus, film ini mengambil sudut pandang ceritanya dari sisi seorang Rita O’Grady (Sally Hawkins), yang menjadi juru bicara para pekerja wanita tersebut untuk berdiskusi dengan pihak manajamen Ford Motor Company. Walau pada awalnya hanya dianggap sebagai sebuah gertakan belaka, secara perlahan aksi para pekerja wanita ini – yang memutuskan untuk tidak bekerja jika keinginan mereka tidak tercapai – mulai mendapatkan perhatian yang besar. Hal yang kemudian diikuti dengan berbagai pengaruh terhadap kehidupan pribadi masing-masing para pekerja tersebut.

Rita, yang awalnya memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama suami, Eddie (Daniel Mays), bersama kedua anaknya, kini semakin jauh dari keluarganya. Tekanan pribadi tersebut semakin menguat ketika para pekerja pria, yang akhirnya terpengaruh dengan ketiadaan pekerja wanita, mulai berusaha menekan Rita dan kelompoknya untuk menyudahi aksi mogok kerja mereka. Namun, Rita terus memegang teguh niatnya untuk mendapatkan persamaan hak. Sebuah keteguhan hati yang akhirnya mendapatkan perhatian dari Sekretaris Negara, Barbara Castle (Miranda Richardson).

Walau memiliki jalan cerita yang mudah ditebak, penulis naskah, Billy Ivory, cukup mampu merangkai kisah yang dapat tampil begitu menarik, khususnya ketika ia berhasil memasukkan beberapa elemen komedi yang harus diakui sangat menyegarkan untuk disaksikan. Ivory juga lihai dalam menyertakan deretan drama penuh dialog menyentuh yang ketika berhasil dieksekusi dengan baik oleh Nigel Cole, menjadi sama sekali tidak terasa sebagai sebuah drama cheesy maupun berlebihan. Beberapa bagian penceritaan film ini memang terkesan terlalu datar, namun bagian-bagian tersebut cukup minim untuk dapat mengurangi poin keunggulan Made in Dagenham.

Sally Hawkins, yang memperoleh kepopulerannya setelah kesuksesan Happy-Go-Lucky (2008) namun secara mengejutkan tidak dimanfaatkan secara maksimal dalam Never Let Me Go (2010), kembali bersinar dalam aktingnya di film ini. Melalui penampilan yang diberikan oleh Hawkins, karakter Rita O’Grady terasa begitu hidup dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Setiap penonton dipastikan akan dapat merasakan kekuatan, kecerdasan sekaligus kerapuhan karakter Rita O’Grady berkat permainan cemerlang Hawkins.

Sama cemerlangnya dengan Hawkins, para aktris pendukung Made in Dagenham juga memberikan penampilan akting yang semakin mengukuhkan kualitas departemen akting film ini. Mulai Miranda Richardson yang tampil berapi-api sebagai Sekretaris Negara Berbara Castle, Rosamund Pike yang tampil begitu rapuh lewat perannya sebagai seorang istri yang merasa tertekan akibat perlakuan suaminya hingga Geraldine James yang tampil rapuh sebagai sahabat Rita, Connie. Tidak hanya aktris, para aktor juga tampil sempurna dalam memerankan karakter mereka di film ini. Yang paling menonjol tentu saja Daniel Mays dan Bob Hoskins yang mendapatkan peran cukup esensial di dalam jalan cerita Made in Dagenham.

Didukung dengan jalan cerita yang inspiratif dan begitu menyenangkan untuk disimak, Made in Dagenham kemudian dikemas sedemikian rupa dengan tata kostum yang begitu berwarna dan menarik, tata musik yang sangat menghibur serta yang paling utama, kualitas departemen akting yang begitu unggul. Sally Hawkins kembali membuktikan dirinya adalah seorang aktris yang patut untuk dihormati atas kemampuannya dalam membawakan setiap emosi dengan sempurna dalam setiap penampilannya. Walau bukan sebuah karya yang istimewa, Made in Dagenham adalah sebuah karya yang cukup solid dan becita rasa tinggi.

Made in Dagenham (BBC Films/Number 9 Films/Sony Pictures Classics, 2010)

Made in Dagenham (2010)

Directed by Nigel Cole Produced by Stephen Woolley, Elizabeth Karlsen Written by Billy Ivory Starring Sally Hawkins, Miranda Richardson, Rosamund Pike, Jaime Winstone, Bob Hoskins, Richard Schiff, John Sessions, Kenneth Cranham, Daniel Mays, Rupert Graves, Andrea Riseborough, Geraldine James, Matt King, Roger Lloyd Pack, Richard Bailey Music by David Arnold Cinematography John de Borman Editing by Michael Parker Studio BBC Films/Number 9 Films Distributed by Sony Pictures Classics Running time 113 minutes Country United Kingdom Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s