Review: A Barefoot Dream (2010)


Oh well… setidaknya masyarakat Korea Selatan dapat mengetahui walaupun film mereka kembali gagal untuk terpilih sebagai nominasi Best Foreign Language Film di ajang The 83rd Annual Academy Awards yang lalu, A Barefoot Dream dapat membuktikan bahwa para pembuat film mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang sama sekali tidak mengecewakan ketika menggunakan latar belakang lokasi cerita yang tidak berada di dalam negara mereka sendiri dan deretan talenta yang mayoritas diisi talenta negara lain yang belum terlatih – suatu hal yang masih sangat jarang dilakukan oleh sineas perfilman Korea Selatan.

Dengan jalan cerita yang terinspirasi dari kisah nyata seorang pelatih sepakbola, Kim Sin-Hwan, yang berhasil membawa tim sepakbola junior amatir negara Timor Leste untuk memenangkan sebuah kompetisi sepakbola di Hiroshima, Jepang, pada tahun 2004, A Barefoot Dream memenuhi seluruh ekspektasi elemen filmis yang diharapkan akan hadir dalam sebuah film yang bertema usaha sekelompok orang untuk menjadi lebih baik dan berusaha untuk meraih seluruh impian hidup mereka. Walau terdengar sangat klise, sutradara Kim Tae-gyun mampu menghadirkan setiap elemen tersebut dengan baik dan menjadikan film ini terlihat begitu inspiratif bagi setiap penontonnya.

Sayangnya, rintangan terbesar film ini untuk mampu meraih hati penonton secara sepenuhnya justru berada pada sang karakter utama. Bukan masalah kemampuan akting yang ditampilkan oleh aktor Park Heui-sun dalam memerankan karakter sang pelatih sepakbola, Kim Weon-gwang, namun lebih pada karakterisasi yang diterapkan pada karakter itu sendiri. A Barefoot Dream menghabiskan 45 menit awal kisahnya untuk mengenalkan karakter Kim Weon-gwang, seorang mantan pemain sepakbola Korea Selatan yang sepertinya sedang berusaha untuk lari dari kehidupannya untuk menjadi seorang pengusaha. Ketika gagal dalam usahanya sebagai seorang pemburu buaya di Sumatera, Indonesia pada tahun 2003, atas saran seorang reporter Yu Bo-hyeon (Kim Seo-hyeong), ia kemudian berangkat ke Timor Leste, sebuah negara kecil yang baru saja memperoleh kemerdekaannya dari Indonesia dan dianggap akan membuka banyak peluang bisnis bagi Kim disana. Dari sinilah karakterisasi ‘buruk’ akan seorang Kim Weon-gwang mulai terbentuk.

A Barefoot Dream kemudian mengisahkan Kim tiba di Timor Leste dan membuka usaha sebuah toko penjualan alat-alat olahraga. Di tengah-tengah krisis ekonomi yang melanda masyarakat Timor Leste, tentu tak seorangpun yang mampu untuk membeli berbagai peralatan olahraga tersebut yang dijual Kim dengan harga sangat mahal. Agar tidak merugi, Kim lalu memberikan berbagai perlengkapan olahraga sepakbola pada anak-anak Timor Leste dengan persyaratan bahwa mereka membayar Kim sebesar US$1 setiap harinya selama dua bulan. Kim digambarkan begitu tidak simpatik dengan keadaan sekitarnya, dan ini dilakukan lewat segala perkataan dan tindakannya selama terus-menerus pada durasi awal film ini. Ditambah dengan latar belakang kedatangan Kim ke Timor Leste yang akan mengingatkan banyak masyarakat negara berkembang atau tertinggal bahwa kedatangan pengusaha asing dari negara maju ke negara mereka adalah murni untuk mencari keuntungan pribadi semata, karakter Kim berkembang menjadi seorang karakter yang tidak akan mudah untuk disukai.

Walau tidak sepenuhnya berhasil menghapus kesan buruk pertama yang telah diciptakan atas karakter Kim, pada menit-menit selanjutnyalah karakter ini mulai dapat terlihat begitu manusiawi, ketika ia mulai merasa dekat dan menyadari keadaan hidup anak-anak Timor Leste yang ada di sekitarnya. Naskah cerita yang ditulis oleh Kim Gwang-hun menyederhanakan seluruh latar belakang sosial dan politik yang ada di antara karakter-karakter film ini dan memilih untuk lebih berfokus pada perjuangan Kim dalam membantu anak-anak didiknya mencapai mimpi mereka. Sebuah pilihan yang cukup tepat dan akan mampu memuaskan seluruh penonton film yang memang menggemari film-film sejenis.

Terlepas dari berbagai kelemahan lain yang ada di naskah cerita – mulai dari alur cerita yang seperti terus menciptakan adanya keberadaan masalah dalam kehidupan karakternya untuk membuat film ini terkesan lebih kompleks hingga adegan final pertarungan sepakbola yang berjalan demikian lama dan klise – sutradara Kim Tae-gyun berhasil memadukan tampilan gambar yang indah dan tata musik yang emosional untuk mengisi tiap adegan film ini dan menjadikannya bekerja lebih baik. Departemen akting juga tidak mengecewakan ketika dirinya berhasil mengarahkan setiap pemain, baik aktor yang telah berpengalaman maupun para pemain cilik yang belum pernah mengenyam dunia akting sama sekali, dengan sangat baik.

Seperti premis film ini sendiri, tidak ada yang benar-benar istimewa dari A Barefoot Dream. Mereka yang memang menggemari film-film sejenis akan terbuai dengan apa yang dihasilkan oleh sutradara Kim Tae-gyun ketika ia berhasil menghasilkan tiap adegan untuk mampu bercerita dan menghasilkan sisi emosional yang cukup terasa. Sinematografi yang mampu menangkap keindahan dari kumuhnya lingkungan Timor Leste dan tata musik yang cukup emosional berhasil menjadi poin keunggulan tersendiri dari A Barefoot Dream. Cukup bagus, namun jauh dari kata istimewa.

A Barefoot Dream (Camp B (SK)/Showbox/Mediaplex, 2010)

A Barefoot Dream (Maen-bal-eui Ggoom) (2010)

Directed by Kim Tae-gyun Produced by Kim Tae-gyun, Ryu Jeong-hun Written by Kim Gwang-hun Starring Park Heui-sun, Go Chang-seok, Shimizu Kei, Shin Cheol-jin, Do Yong-gu, Im Weon-heui, Kim Seo-hyeong, Jo Jin-woong, Francisco Varela, Fernando Pinto, Junior Da Costa, Marciano Miguel, Mateus Soares, Zefancy Diaz, Osvaldo Freitas, Gabriel Da Costa, Marlina Simoes, Agostinho Martins, Xanana Gusmão Music by Kim Jun-seok Cinematography Jeong Han-cheol Editing by Shin Min-gyeong Studio Camp B (SK)/Showbox/Mediaplex Distributed by Showbox/Mediaplex Running time 119 minutes Country South Korea Language Korean, English, Tetum, Indonesian.

5 thoughts on “Review: A Barefoot Dream (2010)”

  1. btw, terlepas dari sinematografi, saya menggarisbawahi adanya kalimat “terinspirasi dari kisah nyata”, saya sangat mempertanyakan keabsahan kalimat tersebut, apa agan ada info terkait “inspirasi” dari film tersebut?

    1. bener kok. coba google aja Kim Shin-hwan. tim u-16 timor leste pernah ngalahin tim U-16 Indonesia 2-0. pelatihnya ya org ini juga.

  2. Cari aza nama pelatih “Kim Sin Hwan” di internet. Itulah sesungguhnya nama pelatih Korea yg dijadikan inspirasi film ini. Diinternet juga bisa di cari daftar pertandingan apa saja yg sdh diikuti anak asuhannya (U-20 TLS) sampai sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s