Review: Fair Game (2010)


Masih ingat dengan Nothing but the Truth (2008)? Film thriller politik arahan sutradara Rod Lurie yang terinspirasi dari kisah nyata mengenai seorang jurnalis The New York Post, Judith Miller, yang terpaksa harus mendekam di penjara setelah ia menolak permintaan pemerintahan Amerika Serikat untuk membuka rahasia siapa narasumber yang ia gunakan dalam sebuah berita yang ia tulis? Fair Game adalah film yang masih berputar di pembahasan masalah yang sama, namun kali ini menggunakan sudut pandang yang berbeda. Jika Nothing but the Truth mengupas masalah tersebut – dengan jalan cerita fiktif — dari sudut pandang sang jurnalis, maka Fair Game mengambil ceritanya dari sudut pandang Valerie Plame, seorang agen Central Intelligence Agency yang ditulis beritanya oleh Judith Miller dan menyebabkan Miller dijebloskan ke penjara.

Namun, berbeda dengan Nothing but the Truth, Fair Game adalah sebuah kisah yang benar-benar diangkat dari sebuah kisah nyata, mengenai Valerie Palmer yang dibocorkan identitasnya sebagai seorang agen rahasia CIA oleh pemerintahan Amerika Serikat kepada masyarakat luas, serta sempat menjadi kasus yang begitu mengguncang Gedung Putih dan pemerintahan Presiden George Walker Bush yang ketika itu sedang menghadapi banyak tentangan akibat invasinya ke wilayah Irak. Naskah cerita film ini sendiri ditulis oleh Jez Butterworth dan Tom Butterworth (Birthday Girl, 2001) berdasarkan memoir yang ditulis oleh Joseph Wilson, The Politics of Truth (2004), dan Valerie Palmer, Fair Game: My Life as a Spy, My Betrayal by the White House (2007).

Disutradarai oleh Doug Liman (The Bourne Identity, 2002), Fair Game mengisahkan mengenai kehidupan seorang diplomat Amerika Serikat, Joseph Wilson (Sean Penn), dan istrinya, Valerie Plame (Naomi Watts), yang bekerja sebagai seorang agen rahasia CIA. Ketika pemerintahan George Walker Bush sedang berada di ambang perang dengan pemerintahan Irak yang dipimpin Saddam Hussein pada tahun 2002, atas permintaan CIA, Joseph kemudian melakukan perjalanan ke Nigeria untuk meneliti adanya kemungkinan bahwa pihak Irak membeli bahan dasar pembuatan bom atom dari negara tersebut. Perjalanan yang berakhir dengan kesimpulan bahwa pihak Nigeria sama sekali tidak melakukan transaksi apapun dengan pihak Irak.

Walau bukti yang menunjukkan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal sangat minim, pada pertengahan tahun 2003, Presiden George Walker Bush menyatakan akan menggempur Irak atas kecurigaan bahwa “pemerintahan Irak membeli uranium dalam jumlah besar dari salah satu negara Afrika.” Joseph, berdasarkan kunjungan yang ia buat, menyadari bahwa sang Presiden telah melakukan sebuah kebohongan publik, dan menunjukkan rasa ketidaksukaannya atas keputusan Presiden tersebut dengan menuliskan sebuah artikel di The New York Times yang berisi pernyataan bahwa Presiden George Walker Bush telah membesar-besarkan fakta dalam mendapatkan alasan untuk menyerang negara lain. Pemerintahan dan negara Amerika Serikat pun guncang karenanya. Seminggu kemudian, sebuah artikel di The Washington Post mengungkapkan identitas istri Joseph Wilson sebagai seorang agen rahasia CIA – suatu hal yang sangat terlarang. Kehidupan Joseph dan Valerie pun mulai goyah, ketika masyarakat dan pemerintah mulai menuding mereka sebagai pengkhianat negara.

Walau diarahkan oleh Doug Liman, yang berpengalaman dalam mengarahkan film ber-genre thriller politik seperti The Bourne Identity dan film bernuansa action seperti Mr & Mrs Smith (2005) dan Jumper (2008), serta mengulik kehidupan sekitar seorang agen CIA, jangan mengharapkan bahwa Fair Game akan berakhir sebagai sebuah thriller politik yang diselingi berbagai adegan action yang menegangkan. Semenjak awal, Liman seperti telah menegaskan bahwa film ini adalah sebuah drama politik, dengan pengenalan lebih dalam mengenai kehidupan seorang agen CIA di awal cerita dan diteruskan dengan kisah perlawanan antara ‘rakyat biasa’ dengan pemerintah semenjak pertengahan cerita. Dipenuhi dengan dialog-dialog politik yang cukup ‘berisi,’ Fair Game terlihat cukup melelahkan bagi mereka yang kurang menyukai politik sebagai bahan pembicaraan mereka.

Menggunakan premis politik di dalam jalan ceritanya, bagian terbaik dari Fair Game justru datang ketika film ini berjalan dalam menceritakan bagaimana pengaruh dunia politik tersebut kepada kelanggengan hubungan pernikahan Joseph dan Valerie. Di bagian ini, Liman mampu dengan baik – dan dibantu dengan akting kelas atas dari Seann Penn dan Naomi Watts – mengolah setiap unsur konflik drama pernikahan yang ada sehingga membuat Fair Game lebih humanis. Sayangnya, kehadiran unsur drama tadi justru membuat unsur politik yang menjadi perbincangan utama menjadi tersingkirkan dan terkesan digarap setengah hati. Eksekusi Liman atas konflik politik yang terjadi di dalam jalan cerita Fair Game juga begitu melelahkan, dengan memasukkan terlalu banyak dialog yang sebenarnya kurang esensial dan memberikan pemecahan masalah dalam jangka waktu yang terlalu lama. Fair Game juga memuat terlalu banyak karakter pendukung yang porsi peran mereka kadang dipertanyakan kegunaannya pada jalan ceritra utama.

Entah bagaimana kalau karakter utama film ini tidak diperankan oleh pasangan Naomi Watts dan Sean Penn. Merupakan kali ketiga mereka berpasangan dalam sebuah film, Watts dan Penn menampilkan akting terbaik mereka selama film ini berjalan. Begitu menegangkan di saat yang tepat, namun tak pernah kehilangan momen untuk tampil dramatis ketika diperlukan, khususnya Sean Penn, yang dengan latar belakang politik yang sering dijajaki aktor ini, membuatnya tampil begitu mengena sebagai seorang ‘pembangkang’ politik. Jajaran pemeran pendukung Fair Game juga memberikan permainan yang tak mengecewakan, walaupun mereka dihalangi keterbatasan karakter mereka untuk dapat lebih menonjol di dalam jalan cerita.

Sebenarnya, Fair Game sama sekali tidak mengecewakan. Memang pengaruh asal naskah cerita film ini yang berasal dari memoir karya Valerie Plame membuat jalan cerita film ini berasal dari satu sudut pandang saja — serta terkadang membuat Liman terkesan bingung untuk menempatkan film ini sebagai sebuah thriller politik murni atau sebuah kisah drama pernikahan yang dipengaruhi dunia politik, namun permainan Naomi Watts dan Sean Penn membuat Fair Game menjadi satu tingkat lebih baik. Tidak sebegitu memikat jika dibandingkan dengan Nothing but the Truth yang lihai memanfaatkan sentimentalitas karakternya untuk menarik perhatian penontonnya, namun Fair Game cukup mampu tampil menjadi sebuah thriller politik yang cerdas… walau kadang menjemukan. Tapi… bukankah politik selalu menjemukan?

Fair Game (River Road Entertainment/Participant Media/Imagenation Abu Dhabi/Hypnotic/Weed Road/Zucker Pictures/Summit Entertainment, 2010)

Fair Game (2010)

Directed by Doug Liman Produced by Jez Butterworth, Akiva Goldsman, Doug Liman, Bill Pohlad, Jerry Zucker, Janet Zucker Written by Jez Butterworth, John-Henry Butterworth (screenplay), Valerie Plame (memoir) Starring Naomi Watts, Sean Penn, Khaled El Nabawy, Ty Burrell, Sam Shepard, Bruce McGill, Broke Smith, Michael Kelly, Noah Emmerich, David Denman, David Andrews, Geoffrey Cantor, Adam LeFevre, Nassar, Satya Bhabha Music by John Powell Cinematography Doug Liman, Robert Baumgartner Editing by Christopher Tellefsen Studio River Road Entertainment/Participant Media/Imagenation Abu Dhabi/Hypnotic/Weed Road/Zucker Pictures Distributed by Summit Entertainment Running time 108 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Fair Game (2010)”

  1. nonton film ini dipertengahan film saya sempat mengalami ngantuk berat bukan karena ngantuk krn kurang tidur tetapi ceritanya yg agak kurang memacu detak jantung, ternyata film ini adalah kisah nyata, apa boleh buat memang alur ceritanya demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s