Review: The Illusionist (2010)


Tujuh tahun setelah merilis The Triplets of Belleville (Les Triplettes de Belleville), yang sukses secara komersial dan berhasil meraih dua nominasi Academy Awards – termasuk nominasi Best Animated Feature, sutradara Sylvain Chomet merilis The Illusionist (L’illusionniste). Masih menggunakan teknik animasi tradisional yang sama seperti yang digunakan pada The Triplets of Belleville, The Illusionist mengadaptasi kisahnya berdasarkan sebuah naskah cerita yang dibuat oleh sutradara dan komedian Perancis, Jacques Tati, pada tahun 1956 yang belum pernah diproduksi sebelumnya hingga akhirnya putri Tati memberikan naskah tersebut pada Chomet.

Naskah cerita itu sendiri merupakan sebuah surat cinta Tati bagi putrinya sebagai perwujudan rasa bersalah Tati yang amat mendalam akibat membiarkan terbangunnya jarak dalam hubungan keduanya yang dikarenakan masalah perkerjaan yang selalu menyita waktu Tati. Wajar jika Chomet kemudian memilih untuk memenuhi gambar-gambar The Illusionist dengan warna-warna kelam yang merefleksikan kegalauan dan kepedihan hati Tati. Hal ini yang mungkin akan membuat sebagian dari para penonton muda, yang biasanya selalu menjadi pasar utama bagi film-film animasi, akan kurang mampu menikmati The Illusionist.

The Illusionist mengenalkan penontonnya pada seorang ilusionis bernama Tatischeff (Jean-Claude Donda). Di masa ketika sebuah pertunjukan seorang ilusionis tidak lagi mampu menarik penonton sebanyak sebuah pertunjukan musik, Tatischeff menerima tawaran untuk tampil di sebuah bar kecil yang berlokasi di sebuah kota terpencil Skotlandia. Walau begitu, pertunjukan tersebut menjadi kali pertama dalam beberapa tahun terakhir bagi Tatischeff dimana semua penontonnya merasa sangat antusias dengan pertunjukan yang ia tampilkan. Pertunjukan tersebut juga mengenalkan Tatischeff pada Alice (Eilidh Rankin), seorang gadis pelayan di bar tersebut yang sangat mengagumi kemampuan dirinya.

Begitu kagumnya Alice pada Tatischeff, Alice akhirnya mengikuti perjalanan Tatischeff ke Edinburgh. Bagi Alice, kemampuan Tatischeff adalah suatu hal yang nyata. Rasa kagum ini terus bertambah ketika seluruh keinginan Alice mampu dipenuhi oleh Tatischeff – suatu hal yang bagi Alice merupakan sebuah keajaiban, namun bagi Tatischeff adalah sebuah usaha yang membutuhkan kerja keras untuk mewujudkannya. Walaupun tidak mengharapkan sesuatu yang istimewa dari Alice, lama-kelamaan Tatischeff menjalin hubungan yang spesial dengannya, menyerupai sebuah hubungan ayah dan anak sebagai perwujudan dari sebuah masa lalu Tatischeff tentang seseorang yang ia sayangi dan ia simpan dengan erat di memorinya.

The Illusionist sama sekali tidak menawarkan banyak dialog – sesekali dialog dalam bahasa Inggris dapat terdengar bersamaan dengan dialog dalam bahasa Perancis oleh Tatischeff dan dialog berbahasa Gaelic oleh Alice. Kedua karakter ini lebih banyak berkomunikasi lewat gestur tubuh mereka, dan penonton, tentunya, harus memberikan perhatian lebih untuk dapat memahami cara berkomunikasi ini. Bukan hal yang sulit, karena Sylvain mampu menterjemahkan bentuk komunikasi tersebut dalam ragam bahasa tubuh yang mudah dipahami dari setiap karakternya.

Efek minimalisnya dialog dalam film ini juga membuat penonton ‘dipaksa’ untuk menyerap dan memperhatikan segala aspek filmis dari The Illusionist. Dari segi jalan cerita, seiring berjalannya durasi film, hubungan antara Tatischeff dan Alice berjalan kian dalam… namun menuju ke sebuah arah yang berbeda. Tatischeff – setelah menjalani berbagai jenis pekerjaan di luar sebagai seorang ilusionis – merindukan gemerlapnya sambutan meriah para penonton atas penampilannya. Sementara Alice – yang kemudian berkenalan dengan seorang pria tampan di kota Edinburgh – terjebak dalam gemerlapnya kehidupan kota: menikmati mewahnya restoran mahal hingga pakaian yang fashionable. Dengan ritme yang lamban, rasa kesedihan yang ditawarkan dari kedua karakter ini – yang mulai merasa kehilangan satu sama lain – akan mulai terasa menusuk hati para penontonnya. Ditambah dengan iringan musik yang juga disusun oleh Chomet, The Illusionist benar-benar akan mampu menguras habis sisi sentimental setiap penontonnya.

Selain tata musik, walaupun masih menawarkan teknik animasi tradisional — yang sepertinya semakin jarang terlihat di tengah-tengah gempuran film-film animasi dengan teknologi komputer – The Illusionist tetap mampu tampil memikat dalam setiap gambarnya. Berbeda dengan dua karakter utamanya yang melankolis, gambaran latar belakang setiap lokasi dalam film The Illusionist ditampilkan dengan sangat lembut dan begitu indah. Tidak begitu menonjol jika dibandingkan dengan The Triplets of Belleville, namun tetap berhasil menjadi sebuah pencapaian yang sangat memuaskan.

Sangat menyegarkan untuk melihat sebuah film animasi yang benar-benar mampu membawakan sebuah tema dan jalan cerita yang begitu dewasa, apalagi untuk mengetahu bahwa Sylvain Chomet masih belum kehilangan sentuhan emasnya dalam menggarap film animasi yang ia produksi. The Illusionist menjadi sebuah karya yang tampil meyakinkan, terlepas dari jalan ceritanya yang mengandung kadar melankolis yang terlalu mendalam sehingga sedikit sulit untuk dapat disukai banyak kalangan luas. Walau melankolis, Chomet tetap mampu menyelipkan banyak pesan yang berisi harapan mengenai hidup. Sebuah karya yang sangat personal dan menyentuh.

The Illusionist (L’illusionniste) (Pathé/Django Films/Ciné B/France 3 Cinéma/Canal+/CinéCinéma/France Télévision/Sony Pictures Classics, 2010)

The Illusionist (L’illusionniste) (2010)

Directed by Sylvain Chomet Produced by Bob Last, Sally Chomet Written by Jacques Tati (original screenplay), Sylvain Chomet (adaptation) Starring Jean-Claude Donda, Eilidh Rankin Music by Sylvain Chomet Studio Pathé/Django Films/Ciné B/France 3 Cinéma/Canal+/CinéCinéma/France Télévision Distributed by Sony Pictures Classics Running time 80 minutes Country United Kingdom, France Language English, French, Gaelic

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s