Review: Waiting for “Superman” (2010)


Sebagai seorang spesialis pembuat film-film dokumenter, Davis Guggenheim tahu banyak mengenai bagaimana cara mengolah data statistik yang membosankan hingga beragam komentar berbagai pihak mengenai suatu hal yang ingin ia representasikan kepada para penontonnya, menjadi sebuah drama – lengkap dengan kehadiran para karakter yang menjadi korban, antagonis dan protagonis – yang seringkali menyentuh dan secara tidak langsung mampu merubah cara pandang seseorang tentang suatu hal. Guggenheim melakukannya dengan sukses lewat An Incovenient Tuth (2006), film peraih Academy Awards yang menyentuh mengenai permasalahan global warming, dan kini mencoba cara pendekatan yang sama untuk menggali mengenai kebobrokan sistem pendidikan di Amerika Serikat lewat Waiting for “Superman.

Waiting for “Superman” sebenarnya hanya menawarkan cara pandang yang cukup terbatas dalam menggambarkan permasalahan yang ingin dibicarakan. Namun, film dokumenter ini cukup berhasil dalam memberikan gambaran mengenai beberapa hal yang salah dalam sistem pendidikan di Amerika Serikat (dan mungkin di beberapa belahan dunia lainnya?). Yang mampu membawa Waiting for “Superman” menjadi sebuah kisah yang sangat menyentuh adalah cara Guggenheim yang sangat dekat dalam menggambarkan beberapa orangtua yang berusaha untuk menemukan tempat terbaik bagi anak-anak mereka dalam melanjutkan pendidikan. Sistem pendidikan yang salah — serta ketidakmampuan secara finansial, untuk beberapa orang diantaranya – mungkin membuat sebuah halangan yang besar bagi para orangtua tersebut. Walau begitu, seperti yang digambarkan Guggenheim, mereka tidak mau begitu saja menyerah pada keadaan demi masa depan anak mereka.

Tidak hanya di Amerika Serikat, permasalahan di dunia pendidikan menyangkup berbagai hal yang sangat luas: mulai dari cara pengajaran yang salah, orang-orang yang melakukan proses pengajaran, kurikulum bahan pengajaran, hingga – yang sepertinya menjadi masalah utama di setiap negara – dana yang tak mencukupi untuk memberikan pengajaran yang layak. Waiting on “Superman” tidak menyentuh topik-topik tersebut secara mendalam. Film ini justru terlihat memfokuskan diri untuk menyalahkan beberapa pihak yang sepertinya menghalangi niat beberapa orang lainnya untuk melakukan reformasi di dunia pendidikan Amerika Serikat.

Cara penyelesaian masalah yang ditawarkan oleh Guggenheim juga terlihat sebagai sebuah usaha yang terlalu ‘menyederhanakan’ permasalahan. Waiting for “Superman” berulangkali menegaskan bahwa pendidikan yang baik akan didapat dari guru-guru yang berkualitas, yang kemudian mengarahkan film ini untuk menempatkan charter school (sekolah yang mendapatkan dananya dari dana masyarakat umum namun melakukan proses pengajaran dengan sistem yang sedikit berbeda dari sekolah umum) sebagai pilihan terbaik bagi anak-anak – khususnya bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk masuk ke sekolah swasta. Tentu saja masalah pendidikan tidak sesederhana itu, walaupun, Waiting for “Superman” berhasil untuk menawarkan beberapa argumen yang sangat kuat untuk mendukung pendapatnya tersebut.

Terlepas dari kelemahan-kelemahan tersebut, Guggenheim sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah seorang pembuat film dokumenter yang sangat handal dan tahu bagaimana cara menyajikan data dan fakta yang membosankan menjadi sebuah bahan pemikiran yang sangat mendalam lewat berbagai bentuk grafis dan narasi yang provokatif, menggugah sekaligus menyentuh. Guggenheim juga berhasil dengan baik membentuk unsur drama dari setiap karakter orangtua dan anak yang ia gali kehidupannya. Begitu humanis, dan pada beberapa titik, akan sanggup membuat penontonnya untuk meneteskan air mata mereka.

Seperti halnya An Inconvenient Truth yang mengedepankan politisi Amerika Serikat, Al Gore, sebagai tokoh utama dalam penceritaannya, Waiting for “Superman” juga mengedepankan Geoffrey Canada, seorang aktivis sosial dan pengajar yang membentuk salah satu charter school yang paling sukses di Amerika Serikat. Sama seperti Guggenheim, dalam melakukan presentasi masalah, Canada memiliki kemampuan yang sangat baik untuk tampil memikat dan membuat setiap orang mendengarkan setiap bagian dari argumennya. Kehadiran Canada juga didukung dengan kehadiran beberapa pembicara lain yang umumnya datang dari dunia pendidikan, seperti Michelle Rhee, Bill Strickland hingga Bill Gates.

Walaupun belum membentuk sebuah pendekatan yang begitu kompleks dan komprehensif pada permasalahan yang ingin dibicarakan, Waiting for “Superman” adalah sebuah film dokumenter yang cukup kuat untuk menjabarkan dan memberikan sebuah informasi mendalam mengenai lemahnya sistem pendidikan di Amerika Serikat. Lewat narasi beberapa tokoh pendidikan dan didukung dengan drama yang tercipta akibat penceritaan mengenai beberapa karakter yang ada di dalamnya, film ini juga mampu tampil menyentuh dan tentunya akan cukup mampu membuat setiap orang untuk setidaknya merasa prihatin dan tergerak untuk melakukan sesuatu dalam merubah keadaan tersebut. Cerdas!

Waiting for "Superman (Walden Media/Participant Media/Paramount Pictures, 2010)

Waiting for “Superman” (2010)

Directed by Davis Guggenheim Produced by Lesley Chilcott Written by Davis Guggenheim, Billy Kimball Starring Geoffrey Canada, The Black Family, The Esparza Family, The Hill Family, Michelle Rhee, Bill Strickland, Bill Gates, Randi Weingarten, Eric Hanushek Music by Christophe Beck Cinematography Bob Richman, Erich Roland Editing by Jay Cassidy, Greg Finton, Kim Roberts Studio Walden Media/Participant Media Distributed by Paramount Pictures Running time 102 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s