Review: The Way Back (2010)


Peter Weir bukanlah Woody Allen, yang sepertinya selalu merasa bahwa ia wajib memenuhi kuota untuk merilis satu film di setiap tahunnya. Weir, yang berhasil mengoleksi enam nominasi Academy Awards, sepertinya senang untuk membuat para peminat filmnya untuk menunggu. Namun, penantian tersebut jelas karena Weir adalah seorang sutradara yang menginginkan setiap karyanya untuk dapat tampil sesempurna mungkin. Ini dapat dibuktikan melalui The Way Back, film pertama Weir setelah merilis Master and Commander: The Far Side of the World pada tujuh tahun silam. Dengan dukungan jajaran pemeran yang solid serta tata teknis yang apik, The Way Back menjelma menjadi sebuah film yang megah, terlepas dari kurangnya faktor emosional yang mengikat di dalam jalan cerita film ini.

The Way Back sendiri diangkat dari The Long Walk, sebuah buku kontroversial karya mantan tahanan perang asal Polandia, Slawomir Rawicz. Buku yang berkisah mengenai perjuangan Rawicz dan beberapa tahanan perang lainnya dalam usaha mereka untuk kabur dari tahanan militer Uni Sovyet di Siberia menuju India dengan cara berjalan kaki tersebut menjadi perbincangan banyak kalangan ketika masa rilisnya di tahun 1956 setelah beberapa bukti menunjukkan bahwa kisah tersebut hanyalah sebuah fiksi belaka atau sebuah cerita yang sama sekali tidak dialami oleh Rawicz. Benar atau tidak, keputusan Weir untuk mengangkat cerita tersebut menjadi sebuah film tentu saja didasarkan pada tema cerita film ini yang mengandung tema mengenai usaha manusia untuk terus kukuh dalam menghadapi tantangan hidup mereka.

Film ini mengenalkan penontonnya pada Janusz (Jim Sturgess) yang baru saja dijebloskan oleh pihak militer Uni Sovyet ke dalam area tahanan terpencil di Siberia atas tuduhan melakukan tindakan mata-mata. Sadar bahwa hidupnya tidak akan berlangsung lama di area tahanan tersebut – sekaligus merasa punya kewajiban kepada istrinya yang tercinta, Janusz menyusun rencana untuk kabur dari sana menuju wilayah Mongolia bersama beberapa tahanan lainnya: seorang warga Amerika Serikat, Mr Smith (Ed Harris), seorang kriminal asal Rusia, Valka (Colin Farrell), seorang ahli gambar yang juga koki handal, Tomasz (Alexandru Potocean), seorang pendeta asal Latvia, Voss (Gustaf Skarsgård), seorang akuntan asal Yugoslavia, Zoran (Dragos Bucur) dan seorang pemuda dengan penyakit rabun malam, Kazik (Sebastian Urzendowsky). Dengan rute yang diberikan seorang tahanan lainnya, Khabarov (Mark Strong), mereka berniat menuju Mongolia melalui Danau Baikal.

Seperti yang diungkapkan Valka pada Janusz, keluar dari tahanan Uni Sovyet adalah masalah gampang. Tantangan beku dan liarnya alam Siberia-lah yang sebenarnya menjadi tantangan utama siapapun yang mencoba kabur dari tahanan tersebut. Dan benar saja, perlahan-lahan alam mulai menantang setiap jiwa dan kehidupan dari ketujuh tahanan tersebut. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Irena (Saoirse Ronan), seorang gadis yang mengaku bahwa dirinya lari dari kejaran pihak militer Rusia. Setelah melalui berbagai rintangan, mereka akhirnya sampai di perbatasan Mongolia… hanya untuk menemukan bahwa Mongolia merupakan sekutu Uni Sovyet yang berarti bukan wilayah yang aman untuk mereka. Bersama, mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke India. Sebuah perjalanan yang sekali lagi akan menguji fisik dan mental mereka.

Di awal perjalanan, kisah yang dipenuhi oleh karakter pria ini hampir sama sekali tidak memberikan kesempatan pada penonton untuk mengenal lebih jauh mengenai kepribadian masing-masing karakter yang ada di hadapan mereka. Ini diakibatkan oleh jalan cerita yang lebih menuntut para karakternya untuk lebih banyak berfokus pada perjalanan yang mereka lakukan, daripada untuk mengenal siapa yang berada di sekitar mereka. Walau sedikit terlambat, dan terlanjur memberikan kesan bahwa tak satupun diantara karakter tersebut yang ‘pantas untuk diberi perhatian lebih besar,’ sisi emosional film ini mulai terbuka semenjak kedatangan karakter Irena, yang menjadi kunci pembuka bagi penonton untuk mengenal para karakter di film ini.

Banyaknya karakter dan banyaknya rintangan yang ingin diceritakan membuat The Way Back hampir terasa kosong dari sisi emosionalnya. Sama sekali tidak ada hal yang menarik dari diri seorang Janusz ataupun para karakter lainnya selain bahwa seiring semakin jauhnya perjalanan mereka, kedekatan mereka satu sama lain semakin bertambah. Padahal, dengan tema yang ingin diusung – bahwa hal tersulitpun akan mampu tercapai jika seorang manusia benar-benar mau mengusahakannya, film ini seharusnya dapat bekerja lebih baik jika Peter Weir mampu menggali dan memberikan kedalaman emosi setiap karakter di dalam jalan cerita The Way Back. The Way Back seharusnya mampu membuat para penontonnya merasa bahwa mereka sedang menyaksikan perjuangan orang-orang terdekat mereka. Bahkan, Weir seharusnya mampu membuat penontonnya merasa bahwa mereka dapat saja berada di situasi seperti yang sedang dihadapi setiap karakter di film ini.

Dalam film ini, Weir kembali bekerjasama dengan sinematografer langganannya, Russell Boyd, yang lagi-lagi berhasil memberikan gambar-gambar epik yang sangat mengagumkan. Mulai dari dinginnya Siberia, panasnya gurun Gobi hingga damainya alam dan masyarakat India berhasil ditangkap dengan baik oleh Boyd. Tata teknis lainnya juga tak kalah mendukung, dengan tata musik dan tata rias menjadi bagian yang sama tak terpisahkannya dari tata sinematografi dalam usaha membuat setiap menit durasi film ini terasa sangat hidup.

Masa tujuh tahun untuk menunggu perilisan The Way Back sepertinya bukanlah suatu hal yang sepertinya sia-sia belaka. Dari sisi teknis, film ini sangat terasa berhasil dirancang sedemikian rupa untuk memanjakan pengalaman audio visual setiap yang menikmatinya. Para jajaran pemeran film ini juga berhasil tampil baik dalam menghidupkan peran mereka, dengan Saoirse Ronan dan Colin Farrell berhasil mencuri perhatian di setiap kehadiran peran mereka di dalam jalan cerita. Sayang, Weir gagal memberikan kedalaman emosional yang lebih tajam bagi setiap karakter yang ada di film ini agar penonton mampu merasakan kedekatan terhadap jalan cerita yang ia hadirkan. Usaha yang sangat baik, namun tidak terlalu istimewa.

The Way Back (National Geographic Films/Spitfire Pictures/Imagenation Abu Dhabi/Film Fund Luxembourg/Newmarket Films/Exclusive Film Distribution/Meteor Pictures, 2010)

The Way Back (2010)

Directed by Peter Weir Produced by Peter Weir, Joni Levin, Duncan Henderson, Nigel Sinclair, Scott Rudin Written by Peter Weir, Keith Clarke (screenplay), Sławomir Rawicz (book) Starring Jim Sturgess, Colin Farrell, Ed Harris, Saoirse Ronan, Mark Strong, Dragoş Bucur, Gustaf Skarsgård, Alexandru Potocean, Sebastian Urzendowsky Music by Burkhard Dallwitz Cinematography Russell Boyd Editing by Lee Smith Studio National Geographic Films/Spitfire Pictures/Imagenation Abu Dhabi/Film Fund Luxembourg Distributed by Newmarket Films/Exclusive Film Distribution/Meteor Pictures Running time 133 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s