Review: Burlesque (2010)


Burlesque merupakan debut penyutradaraan layar lebar bagi Steven Antin, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai seorang aktor dan sutradara dari beberapa video musik. Selain menjadi seorang sutradara, Antin juga menulis naskah film ini bersama Diablo Cody (Juno, 2008), sebelum akhirnya naskah tersebut mendapatkan revisi dan diedit kembali oleh Susannah Grant (Erin Brockovich, 2000). Sayangnya, meskipun telah ditangani oleh dua penulis naskah kaliber Academy Awards, naskah cerita Burlesque masih menyerupai naskah cerita yang ditulis oleh seorang amatiran: berisi jalan cerita dan karakterisasi yang dangkal serta deretan dialog yang kadang terdengar sangat konyol.

Berkisah mengenai Ali Rose (Christina Aguilera), seorang gadis yang memutuskan untuk meninggalkan kehidupannya yang terasa berjalan datar untuk kemudian mencapai kesuksesannya sendiri dengan memanfaatkan talentanya dalam bernyanyi  di Los Angeles. Merasa optimis pada awalnya, Ali kemudian menemukan kenyataan bahwa kesuksesan bukanlah suatu hal yang dapat diraih dengan mudah. Setelah menemui beberapa kali penolakan, Ali kemudian berhasil memenangkan audisi sebagai seorang penari baru di sebuah klub burlesque yang dikelola oleh Tess (Cher).

Mulai dari titik cerita ini, kisah Burlesque kemudian diisi dengan berbagai konflik yang sepertinya sangat mudah untuk ditebak. Ali jatuh cinta dengan teman sekerjanya, Jack (Cam Gigandet), yang sebenarnya telah bertunangan dengan seorang gadis New York bernama Natalie (Dianna Agron). Kedatangan Ali yang mulai mencuri perhatian juga membuat sang primadona klub tersebut, Nikki (Kristen Bell), mulai merasa tersaingi. Sang pemilik klub, Tess, juga tak terhindar dari masalah. Klubnya mulai menghadapi masalah finansial yang sepertinya harus membuatnya menjual klub tersebut kepada Marcus (Eric Dane), seorang pengusaha real estate yang semenjak lama tertarik untuk memiliki klub itu.

Steven Antin sepertinya sangat sadar bahwa jalan cerita Burlesque sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang  berbeda. Hal ini yang kemungkinan besar mendorong Antin untuk kemudian lebih berfokus pada deretan adegan musikal yang dihadirkan di sepanjang film ini. Keputusan yang cukup benar, karena keberadaan nyanyian dan tarian di dalam film ini-lah yang menjadi nyawa terbesar bagi Burlesque. Menghadirkan sekitar sepuluh adegan musikal, setiap adegan tergarap dengan cukup rapi – baik dari sisi tata panggung, tata kostum maupun penampilan dari mereka yang berada di atas panggung. Sayangnya, lagu-lagu yang dihadirkan di sepanjang film ini kurang terasa begitu catchy. Cukup dapat dinikmati ketika film ini sedang berjalan, namun hampir dapat dengan mudah untuk dilupakan ketika film ini berakhir.

Kehadiran Cher, yang merupakan penampilan film pertamanya semenjak Stuck on You di tahun 2003, sayangnya kurang dapat begitu dimaksimalkan oleh Antin, baik dalam segi penceritaan karakter yang diperankan Cher maupun jumlah lagu yang ia nyanyikan. Selama durasi Burlesque berjalan, Cher hanya kebagian jatah untuk membawakan dua lagu. Cher melakukannya dengan sangat sangat baik, namun tetap saja dua lagu terasa sangat kurang bagi seorang penyanyi dengan vokal kuat seperti dirinya (vokal yang dengan sangat sempurna ia tunjukkan di lagu yang memenangkan Golden Globe Awards, You Haven’t Seen the Last of Me). Karakternya juga seringkali terasa hanya sebagai sebuah pelengkap, yang sekali lagi membuang kesempatan aktris pemenang Academy Awards ini menunjukkan kemampuan aktingnya secara lebih mendalam.

Walau karakter yang ia perankan sepertinya dapat diperankan oleh aktris mana saja, namun harus diakui, Christina Aguilera mampu melewati ujian aktingnya dengan cukup baik. Sebagai Ali, Aguilera tampil cukup alami dan tanpa kekakuan sedikitpun dari caranya berakting. Adalah cukup membantu ketika di dalam cerita Burlesque, karakter yang diperankan Aguilera banyak ditampilkan sedang berada dalam pertunjukan panggungnya karena di pertunjukan panggung-lah kekuatan Aguilera yang sebenarnya. Dengan suaranya yang menggelegar, namun dapat terdengar rapuh pada beberapa lagu tertentu, Aguilera rasanya merupakan pilihan yang sama sekali tidak salah untuk mengisi karakter Ali.

Para pemeran pendukung, sayangnya, tidak diberikan porsi yang cukup untuk mampu mengembangkan karakter mereka. Yang paling menonjol mungkin adalah karakter Sean yang diperankan oleh Stanley Tucci, yang walaupun terasa bagaikan sebuah pengulangan karakter yang pernah ia tampilkan di The Devil Wears Prada (2006), namun tetap mampu memberikan kesegaran tersendiri setiap ia hadir di dalam jalan cerita. Kristen Bell yang berperan sebagai pesaing Ali, Nikki – karakter menarik pertama yang diperankan oleh Bell, juga tidak dapat tergali dengan dalam. Padahal, sisi persaingan antara Ali dan Nikki rasanya cukup menarik bila Antin mampu memberikan porsi cerita yang lebih pada karakter Nikki.

Selain Tucci dan Bell, nama-nama seperti Cam Gigandet, Eric Dane, Peter Gallagher, Julianne Hough dan Alan Cumming juga terlihat di barisan para pemeran pendukung. Gigandet dan Dane (dan mungkin juga Gallagher) masih diberikan porsi cerita yang cukup mampu untuk mereka kembangkan. Berbeda dengan Hough dan Cumming yang karakternya tampil hanya pada beberapa adegan tertentu yang membuat mereka seringkali terlihat tidak memberikan pengaruh apa-apa ke dalam jalinan cerita yang dihadirkan. Lemahnya karakterisasi pada jalan cerita Burlesque-lah yang membuat film ini kurang mampu tampil menarik jika dibandingkan dengan tampilan adegan musikalnya.

Walaupun sangat menyenangkan untuk melihat sebuah film dari genre musikal – salah satu genre yang paling sulit untuk ditangani dengan baik – hadir kembali di layar lebar, harus diakui, Burlesque sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru bagi genre tersebut. Christina Aguilera, yang untuk pertama kali melakukan debut aktingnya di layar lebar, memberikan penampilan yang cukup memuaskan, khususnya ketika ia berada dalam adegan-adegan yang mengharuskan ia menunjukkan kemampuan musikalnya. Adegan-adegan musikal di film ini memang cukup tampil maksimal, namun dengan naskah yang sangat klise, Burlesque menyerupai seperti sebuah karya musikal yang merupakan perpaduan dari berbagai film musikal berkualitas yang telah terlebih dahulu dirilis… namun dengan kualitas yang jauh menurun.

Burlesque (De Line Pictures/Screen Gems, 2010)

Burlesque (2010)

Directed by Steven Antin Produced by Donald De Line Written by Steven Antin, Diablo Cody (screenplay), Susannah Grant (revision) Starring Cher, Christina Aguilera, Eric Dane, Cam Gigandet, Julianne Hough, Alan Cumming, Peter Gallagher, Kristen Bell, Stanley Tucci, Dianna Agron Music by Linda Perry, Sia Furler, Samuel Dixon, Christina Aguilera, Diane Warren, C. “Tricky” Stewart, Claude Kelly Cinematography Bojan Bazelli Editing by Virginia Katz Studio De Line Pictures Distributed by Screen Gems Running time 119 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: Burlesque (2010)”

  1. Setuju, banyak karakter yang kurang digali disini. Marcus, yang di awal adalah antagonis utama, ternyata hampir ngga melakukan apa-apa untuk menambah konflik film. Ya, dan karakter Nikki juga terasa timbul-tenggelam dan hampir bukan ancaman buat Ali. Akting Christina pas memerankan karakter Ali, sama sekali ngga kaku walaupun ini pengalaman pertamanya di film~
    Selama menonton Burlesque, saya rasa penampilan mereka di stage yang bisa memukau penonton. Ceritanya bisa dibilang biasa saja, no big surprise^^

  2. Buat gue jalan cerita film ini ngga’ jauh beda ama Coyote Ugly. Cewek muda yang merantau ke kota lain & jatuh cinta. Nothing’s special. Ngga’ jauh beda juga sama film Glitter yang dibintangi Mariah Carey. Eh koq ya sama juga ngga’ suksesnya ya? Padahal kredibilitas Mariah Carey & Christina Agulera sebagai World Diva ngga’ perlu diragukan lagi. Sayang banget deh, kayaknya mereka salah tanda tangan kontrak film nih… Sayang banget kalo suara powerfull mereka disandingkan dengan jalan cerita yang biasa aja & mudah ditebak.

    Dari segi cerita gue ngga’ berharap banyak bhw film ini akan masuk nominasi Oscar, Golden Globe ato MTV Movie Awards tapi dari segi soundtrack gue berharap kekuatan vokal Christina Aguilera mampu membawa pulang awards paling tidak untuk Best Original Song mengingan Diva yang satu ini juga udah bolak-balik menyabet Grammy Awards, tapi kenyataannya bahkan sondtrack-nya pun tidak diperhitungkan para pakar perfilman dunia. So sad to know it… Sempat sih masuk nominasi Golden Globe tapi kalah.

    Jujur ya, gue nonton film ini cuma karena ada Christina Aguilera aja hehehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s