Review: Hereafter (2010)


Selain memiliki karir yang cemerlang sebagai seorang aktor, Clint Eastwood juga memiliki karir yang tak kalah gemilangnya ketika ia bertindak sebagai seorang sutradaranya. Bahkan, begitu gemilangnya karir penyutradaraan Eastwood, Academy Awards pertama yang berhasil ia menangkan justru berasal dari kategori Best Director untuk filmnya, Unforgiven (1992). Di film terbarunya, Hereafter, Eastwood sepertinya berusaha melakukan eksplorasi mengenai sebuah tema yang lebih spiritual jika dibandingkan dengan film-film yang ia sutradarai sebelumnya. Dengan naskah yang ditulis oleh Peter Morgan (State of Play, 2009), sayangnya, tema tersebut bukan sebuah tema yang mampu tergali dengan dalam oleh Eastwood.

Hereafter berbicara mengenai kematian dan kehidupan setelahnya melalui sudut pandang tiga karakter yang berada di tiga negara berbeda. Pertama, seorang jurnalis asal Perancis, Marie Lelay (Cécile de France), yang baru saja selamat dari tragedi tsunami ketika ia sedang bertugas di Thailand. Peristiwa tersebut ternyata cukup mempengaruhi kehidupan dan kinerja Marie di kesehariannya, yang kemudian membuat produsernya, yang juga kekasihnya, Didier (Thierry Neuvic), menyarankannya untuk mengambil cuti sementara dari pekerjaannya.

Cerita kemudian berpaling ke London, Inggris, dan mengisahkan mengenai seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, Marcus (Frankie McLaren), yang baru saja kehilangan saudara kembarnya, Jason (George McLaren). Akibat dari ketidakmampuan sang ibu, Jackie (Lyndsey Marshal), untuk merawatnya, Marcus kemudian diambil alih perawatannya oleh negara untuk kemudian dititipkan pada seorang pasangan orangtua (George Costigan dan Niamh Cusack). Namun, baying-bayang akan saudara kembarnya kerap menghantui Marcus dan membuatnya hampir seperti tidak dapat melanjutkan kehidupannya.

Kisah terakhir berlatar belakang di San Fransisco, Amerika Serikat, yang mengisahkan mengenai George Lonegan (Matt Damon), seorang pria yang mempunyai kemampuan untuk menghubungi dunia para arwah. Walau sempat menggunakan kemampuan ini untuk kepentingan pribadinya, George sendiri lebih merasa kalau kemampuan ini merupakan sebuah kutukan daripada sebuah berkah karena dianggapnya membuat banyak orang berpandangan aneh kepada dirinya. Secara bergantian, ketiga kisah ini ditampilkan dalam Hereafter untuk kemudian dipersatukan dalam sebuah benang merah yang akan mempertemukan ketiga karakter ini.

Dibuka dengan adegan tsunami yang memporak-porandakan Thailand, dan mampu ditampilkan Eastwood dengan sangat nyata, Hereafter memulai kisahnya dengan cukup menarik. Walau beberapa kali sempat memberikan momen-momen yang cukup emosional, namun perjalanan Hereafter harus diakui tidak dapat berjalan dengan mulus. Tiga kisah yang dihadirkan terasa bagaikan potongan-potongan kisah yang terkadang hadir secara menjemukan. Mungkin akan lebih baik jika Eastwood memilih untuk berfokus pada satu atau dua karakter, sehingga Eastwood dapat memberikan kesempatan bagi karakter-karakter tersebut untuk berkembang dan memberikan pengaruh emosional yang lebih mendalam.

Jangan salah, sebenarnya tiga penceritaan yang dihadirkan dalam Hereafter bukanlah tiga cerita yang lemah. Namun, dengan tidak adanya keterhubungan antara satu karakter dengan lainnya, membuat kisah-kisah ini, yang dihadirkan secara bergantian, gagal dalam usahanya untuk membentuk jalinan emosional kepada para penontonnya. Hal ini masih ditambah dengan kurang mendalamnya eksplorasi yang dilakukan Eastwood terhadap tema kematian itu sendiri. Eastwood bahkan sempat menghubungkan tema tersebut dari sudut pandang keagamaan, yang sayangnya, hanya hadir sekilas tanpa mendapatkan pendalaman yang lebih. Momen yang disusun Peter Morgan untuk mempertemukan ketiga karakter utama film ini juga terasa terlalu dibuat-buat eksistensinya di dalam jalan cerita. Hasilnya, momen tersebut berjalan datar dan terasa bagaikan sebuah momen yang tidak terlalu nyata.

Hereafter juga menjadi satu kasus lain perfilman Hollywood dimana kelemahan sisi cerita mampu ditangani dengan baik oleh kemampuan akting para pemeran film ini. Matt Damon dan Cécile de France merupakan dua pemeran yang paling banyak mendapatkan kesempatan untuk menggali sisi emosional dari karakternya dan mampu mereka lakukan dengan sangat baik. Aktor muda, Frankie McLaren, juga tampil dengan kapasitas akting yang sama sekali tidak mengecewakan. Nama-nama tersebut kemudian didukung oleh penampilan apik dari para pemeran pendukung, khususnya Bryce Dallas Howard, Lyndsey Marshal dan Thierry Neuvic.

Hereafter berusaha berbicara kepada para penontonnya mengenai apa arti dari sebuah kematian dan bagaimana kehidupan sesudah kematian tersebut, walau begitu misterius dan sangat menarik untuk diungkapkan, seharusnya tetap dibiarkan menjadi sebuah rahasia alam. Premis yang sejujurnya adalah sangat menarik untuk ditampilkan, namun sayangnya kurang mampu ditangani oleh Clint Eastwood dengan cukup sempurna. Banyaknya sudut pandang cerita membuat sisi penjiwaan film ini terasa terlalu minimalis ketika seharusnya Hereafter mampu menyelami jiwa setiap penontonnya lewat kisah yang dihadirkan. Selain itu, topik yang terlalu universal sepertinya sedikit menyulitkan Eastwood dalam merepresentasikan kisah ini. Didukung dengan permainan yang apik dari jajaran pemerannya, Hereafter adalah sebuah karya yang solid namun masih belum cukup memuaskan.

Hereafter (Kennedy/Marshall/Malpaso Productions/Amblin Entertainment/Warner Bros. Pictures, 2010)

Hereafter (2010)

Directed by Clint Eastwood Produced by Clint Eastwood, Kathleen Kennedy, Robert Lorenz Written by Peter Morgan Starring Matt Damon, Cécile de France, Frankie McLaren, George McLaren, Bryce Dallas Howard, Lyndsey Marshal, Thierry Neuvic, Marthe Keller, Jay Mohr, Niamh Cusack, George Costigan, Jean-Yves Berteloot Music by Clint Eastwood Cinematography Tom Stern Editing by Joel Cox, Gary D. Roach Studio Kennedy/Marshall/Malpaso Productions/Amblin Entertainment Distributed by Warner Bros. Pictures Running time 129 minutes Country United States Language English, French

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s