Review: Never Let Me Go (2010)


Berisi begitu banyak eksplorasi terhadap struktur sosial dan politik dalam kehidupan manusia, novel Never Let Me Go karya penulis asal Inggris, Kazuo Ishiguro, yang dirilis pada tahun 2005, mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus literatur dunia yang kemudian membuat TIME Magazine menggelari novel tersebut sebagai novel terbaik di tahun 2005 dan memasukkannya dalam daftar TIME 100 Best English-Language Novel from 1923 to 2005. Sebuah pencapaian yang tentunya akan cukup sulit untuk diterjemahkan dalam bentuk audio visual, namun usaha yang dilakukan oleh sutradara Mark Romanek (One Hour Photo, 2002) ternyata tidak begitu mengecewakan.

Terdapat tiga fase waktu dan cerita dalam Never Let Me Go, yang masing-masing bergerak untuk menceritakan perkembangan kehidupan dan jiwa para karakter utamanya. Cerita yang ditawarkan sendiri memiliki latar belakang tempat di Inggris pada suatu masa ketika manusia memiliki seorang kloning dirinya sendiri demi tujuan kesehatan adalah sebuah hal yang sangat wajar. Kloning-kloning ini dirawat dan dididik di berbagai institusi yang menyerupai sekolah hingga akhirnya mereka mencapai usia dewasa dimana kemudian mereka wajib untuk mendonorkan anggota tubuhnya kapan saja saat pemilik mereka membutuhkannya.

Never Let Me Go sendiri memulai kisahnya ketika para karakter utama film ini berada di sebuah “sekolah” bernama Hailsham pada sekitar tahun 1970-an. Kathy (Isobel Meikle-Small) dan Ruth (Ella Purnell) adalah dua orang sahabat yang walau memiliki begitu banyak perbedaan, namun saling menjaga satu sama lain. Hubungan mereka mulai menjauh ketika kehadiran Tommy (Charlie Rowe) menimbulkan cinta segitiga diantara mereka. Kathy dan Tommy yang sebenarnya saling menyukai namun terlalu pemalu untuk menyatakan perasaannya akhirnya memberikan ruang bagi Ruth untuk masuk dan akhirnya berhasil memenangkan cinta Tommy.

Hubungan ketiganya berlanjut hingga masa mereka dewasa: Ruth (Keira Knightley) masih menjalin hubungan dengan Tommy (Andrew Garfield) sementara Kathy (Carey Mulligan) masih terus mengharapkan agar suatu saat hubungan Ruth dan Tommy akan berakhir sehingga dirinya dapat masuk ke dalam kehidupan Tommy. Hal tersebut sebenarnya terjadi. Ruth berpisah dari Tommy, namun Kathy mulai sibuk dengan kehidupannya sendiri dan membuatnya terpisah dari Ruth dan Tommy selama bertahun-tahun. Membawa penontonnya pada era tahun 1990-an, kini ketiganya telah mencapai usia dewasa dan harus bersiap untuk menjadi seorang donor – hal yang kemudian memberikan konflik pada pribadi masing-masing mengingat rasa cinta yang terjalin diantara mereka.

Dari apa yang dihadirkan oleh Mark Romanek pada film ini, penonton sebenarnya dapat merasakan bahwa novel Never Let Me Go yang ditulis oleh Kazuo Ishiguro adalah sebuah karya yang memiliki struktur cerita yang begitu kompleks dan mendetil. Sayangnya, hal ini justru dapat diketahui dari banyaknya ruang-ruang kosong dari naskah cerita versi film Never Let Me Go. Mulai dari begitu banyaknya situasi yang tidak dapat dijelaskan hingga karakterisasi dari setiap tokoh yang hadir: Never Let Me Go disajikan dengan sangat singkat dan padat namun berdampak pada hilangnya sisi emosional dari cerita yang hendak disampaikan.

Permasalahan utama dari berbagai situasi yang terjadi di dalam jalan cerita Never Let Me Go adalah cerita film ini membutuhkan beberapa waktu untuk menjelaskan secara mendalam mengenai beberapa hal yang terjadi di dalamnya. Penulis naskah, Alex Garland (28 Days Later, 2002), hampir tidak pernah menggali setiap reaksi dan motivasi yang datang dari setiap karakter mengenai permasalahan dan kehidupan mereka. Ini membuat Never Let Me Go seperti hanya membawa penontonnya menyimak kehidupan tiga orang karakter dari waktu ke waktu tanpa mau melibatkan mereka untuk masuk ke dalam kehidupan setiap karakter dan mampu merasakan apa yang sedang mereka hadapi. Ini yang membuat intrik cinta yang terjadi di dalam naskah cerita film ini hampir tidak dapat dirasakan kehadirannya.

Dengan sedikitnya karakterisasi yang terdapat di dalam naskah cerita, Mark Romanek sangatlah beruntung untuk memiliki jajaran pemeran yang mampu dengan handal tetap berupaya sebaik mungkin dalam menghidupkan karakter mereka. Carey Mulligan dan Andrew Garfield tampil dengan penampilan mereka yang sangat rapuh sementara Keira Knightley terlihat berusaha penuh untuk menghadirkan jiwa dari karakter Ruth ketika karakter tersebut hanya dituliskan sebagai seorang karakter yang datang dan pergi tanpa sama sekali diberikan kesempatan untuk berkomunikasi dengan baik. Para pemeran pendukung film ini juga tampil sangat tidak mengecewakan. Mulai dari para aktor cilik hingga nama-nama seperti Charlotte Rampling, Sally Hawkins dan Andrea Riseborough mampu menghadirkan penampilan terbaik mereka.

Kekurangan emosional dari sisi cerita sedikit terbantu dengan adanya musik latar arahan komposer Rachel Portman dan gambar-gambar indah pilihan sinematografer Adam Kimmel. Seringkali, musik karya Portman berhasil mengisi jiwa setiap adegan yang hadir dan membuatnya hadir begitu tegar namun tetap melankolis. Sementara sinematografi karya Kimmel justru mampu tampil mencuat dan menjadi bagian terbaik dari Never Let Me Go. Gambar yang disajikan begitu indah dan mampu membuat setiap orang terlena akan kehadirannya – namun sayangnya kemudian akan tersadar dengan kosongnya penjiwaan dari cerita yang dihadirkan.

Never Let Me Go sebenarnya tidaklah buruk, malah sangat jauh dari kata mengecewakan. Pesannya sendiri mengenai pemanfaatan waktu dalam kehidupan dengan sebaik mungkin, khususnya dengan orang-orang yang Anda sayangi – tidak peduli hidup Anda singkat ataupun lama – cukup mampu dihadirkan dengan tambahan beberapa sindiran sosial dan politik yang ditampilkan secara metafora dalam susunan ceritanya. Sayangnya, Mark Romanek sepertinya begitu berusaha untuk menghadirkan jalan cerita film ini dalam format yang singkat dan padat, sehingga melupakan beberapa hal yang justru membuat sisi emosional — bagian yang sebenarnya merupakan bagian terpenting dalam kisah semacam ini – tertinggal dan membuat Never Let Me Go terasa hampa. Beruntung, departemen akting, musik dan sinematografi mampu sedikit menutupi kelemahan tersebut – walaupun tetap saja menyisakan Never Let Me Go sebagai sebuah karya yang potensial namun hadir dengan eksekusi yang hambar.

 

 

Never Let Me Go (DNA Films/Film4/Fox Searchlight Pictures, 2010)

Never Let Me Go (2010)

Directed by Mark Romanek Produced by Alex Garland, Andrew Macdonald, Allon Reich Written by Alex Garland (screenplay), Kazuo Ishiguro (novel) Starring Carey Mulligan, Keira Knightley, Andrew Garfield, Isobel Meikle-Small, Ella Purnell, Charlie Rowe, Sally Hawkins, Charlotte Rampling, Nathalie Richard, Andrea Riseborough Music by Rachel Portman Cinematography Adam Kimmel Editing by Barney Pilling Studio DNA Films/Film4/Fox Searchlight Pictures Distributed by Fox Searchlight Pictures Running time 103 minutes Country United Kingdom Language English

One thought on “Review: Never Let Me Go (2010)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s