Review: The Girl who Kicked the Hornets’ Nest (2009)


Ketika dunia pertama kali mengenal karakter Lisbeth Salander lewat film yang berjudul The Girl with the Dragon Tattoo (2009), sebuah film yang diadaptasi dari seri pertama novel Trilogi Millennium karya penulis asal Swedia, Stieg Larsson, dunia langsung jatuh cinta terhadap karakter tersebut. Walaupun terkesan sebagai seorang penyendiri dan jauh dari kesan bahwa dirinya membutuhkan kehadiran orang lain, lewat The Girl with the Dragon Tattoo, penonton tahu bahwa gadis hacker yang tangguh dan cerdas ini sebenarnya memiliki luka yang mendalam di jiwanya akibat masa lalu yang kelam dan membutuhkan seorang teman untuk mengisi kehidupannya.

Kisah petualangan Lisbeth Salander yang sangat memikat di The Girl with the Dragon Tattoo kemudian meraih sukses besar di Eropa, yang kemudian melancarkan jalan bagi dua seri novel Trilogi Millennium berikutnya, The Girl who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest, untuk kembali diadaptasi ke layar lebar dan dirilis pada tahun yang sama. Karakter Lisbeth Salander tetap menjadi perhatian utama dalam kedua seri lanjutan cerita ini, dan tetap mampu tampil menarik dengan karakternya yang eksentrik seperti di The Girl with the Dragon Tattoo. Sayangnya, hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk naskah cerita film ini yang sepertinya semakin maju justru semakin bergerak ke arah drama kelam mengenai masa lalu Salander yang dalam penceritaannya justru semakin meminimalisir keterlibatan Salander, dan hal tersebut secara khusus dapat dirasakan pada The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest.

Seri ketiga ini – yang seharusnya menjadi bagian terakhir dari Trilogi Millennium – melanjutkan kisahnya tepat dimana The Girl who Played with Fire berakhir. Lisbeth Salander (Noomi Rapace) kini berada di rumah sakit menjalani masa penyembuhannya setelah mengalami luka yang cukup parah akibat dianiaya ayahnya, Alexander Zalachenko (Georgi Staykov), dan kakak tirinya, Ronald Niedermann (Micke Spreitz). Jurnalis, Mikael Blomkvist (Michael Nyqvist), yang mengetahui masa lalu Lisbeth sendiri sedang berusaha semampunya untuk membongkar konspirasi yang ia duga dilakukan oleh beberapa pihak yang sengaja ingin menjebak Lisbeth agar ia dijebloskan ke dalam penjara.

Perjuangan Mikael dalam membantu Lisbeth ternyata mendapat bantuan besar dari sahabat Lisbeth yang juga seorang hacker, Plague (Thomas Kohler), dan adik Mikael yang seorang pengacara, Annika (Annika Hallin). Bersama, mereka membantu Lisbeth untuk mengumpulkan barang bukti yang dapat mencegah Peter Teleborian (Anders Ahlbom Rosendahl), seorang psikiater yang dahulu pernah merawat Lisbeth di masa kecilnya, untuk meyakinkan pengadilan bahwa Lisbeth adalah seorang gadis yang terganggu jiwanya dan harus dimasukkan ke dalam institusi mental. Sementara itu, Ronald Niedermann sendiri masih bebas berkeliaran dan mencari setiap kesempatan yang ada untuk menjumpai dan membunuh Lisbeth.

The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest lebih banyak berkisah di seputar penyelidikan mengenai masa lalu karakter Lisbeth Salander yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya – baik oleh mereka yang peduli akan masa depan Lisbeth maupun mereka yang berkeinginan untuk melenyapkan dirinya – sementara Lisbeth Salander sendiri diceritakan lebih banyak menghabiskan waktunya dalam ruangan rumah sakit. Ini yang membuat The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest terkesan berjalan sangat lamban: naskah cerita film ini berfokus pada proses peradilan Lisbeth Salander namun membutuhkan waktu selama hampir dua setengah jam untuk mewujudkan jalannya peradilan tersebut. Jelas akan memberikan kekecewaan bagi mereka yang mengharapkan hadirnya banyak adegan aksi seperti yang hadir di The Girl with the Dragon Tattoo.

Di sisi lain, terlepas dari alur cerita yang sedikit berjalan lamban, The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest berhasil menuturkan setiap detil dari proses penyidikan terhadap kasus Lisbeth Salander dengan sangat baik. Seiring dengan berjalannya durasi film ini dan dengan munculnya banyak karakter-karakter baru atau karakter lama yang kembali hadir menghiasi jalan cerita, misteri mengenai kehidupan masa lalu Lisbeth Salander yang kelam secara perlahan akhirnya semakin terbuka. Di penghujung film, The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest menghadirkan adegan aksi singkat yang dilakukan oleh Lisbeth Salander. Sedikit bertolak belakang dengan jalur drama yang telah dihadirkan di sepanjang jalan cerita sebelumnya, namun setidaknya mampu untuk mengobati kerinduan mereka yang ingin melihat karakter Lisbeth Salander kembali menunjukkan aksi liarnya.

Sama seperti di dua seri sebelumnya, para jajaran pemeran di film ini mampu memberikan penampilan terbaik mereka yang menjadi satu kekuatan tersendiri bagi trilogi ini. Noomi Rapace masih terus mempertahankan karakter seorang Lisbeth Salander yang eksentrik walaupun untuk seri ini Rapace terlihat kurang begitu terlibat di dalam jalan cerita. Hal ini juga diikuti dengan konsistennya penampilan Michael Nyqvist sebagai seorang jurnalis yang teguh dalam membela Lisbeth Salander. Karakter Salander dan Blomkvist di seri ini juga lebih banyak melakukan interaksi daripada seri sebelumnya, yang membuat chemistry antara kedua karakter kembali menghangat, walau masih belum sememuaskan seri pertamanya. Para pemeran pendukung lainnya juga hadir dengan tingkat intensitas yang mampu membuat The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest cukup dapat dinikmati.

The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest sebenarnya sama sekali tidak mengecewakan. Sebagai sebuah film yang mengutamakan alur kisah drama peradilan, film ini mampu hadir dengan tingkat detil cerita yang cukup mengikat. Sayangnya, detil-detil cerita itu dihadirkan dalam alur yang berjalan cukup lamban yang membuat seri ini sedikit terasa membosankan dan bertele-tele di beberapa bagian. Hubungan antara dua karakter utamanya yang masih minim – namun lebih banyak jika dibandingkan dengan seri kedua – juga menjadi kekurangan tersendiri. Mungkin banyak yang mengharapkan The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest akan menjadi sebuah penutup Trilogi Millennium yang hadir dengan sebuah ledakan kejutan yang dahsyat. The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest justru berjalan cukup datar jika ingin dibandingkan dengan dua seri sebelumnya. Bukan sebuah kisah penutup yang mengesankan.

Rating: 3.5 / 5

The Girl Who Kicked the Hornets' Nest (Zodiak Entertainment, 2009)

The Girl Who Kicked the Hornets’ Nest (2009)

Directed by Daniel Alfredson Produced by Soren Staermose, Jon Mankell Written by Ulf Rydberg, Jonas Frykberg (screenplay), Stieg Larsson (novel) Starring Noomi Rapace, Michael Nyqvist, Annika Hallin, Lena Endre, Anders Ahlbom Rosendahl, Sofia Ledarp, Jacob Ericksson, Micke Spreitz, Askel Morisse Music by Jacob Groth Cinematography Peter Mokrosinski Editing by Mattias Morheden Distributed by Zodiak Entertainment Running time 149 minutes Country Sweden, Denmark, Germany Language Swedish

One thought on “Review: The Girl who Kicked the Hornets’ Nest (2009)”

  1. denger-denger sih sebenernya masih ada naskah lanjutan novel ini, kisah kembaran salander belum di ekspose bukan? moga2 aja benar dan jadi lanjutan cerita salander yang semakin menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s