Review: Io Sono L’Amore (2009)


Io Sono L’Amore (I Am Love) mungkin bukanlah sebuah film yang dapat dinikmati siapa saja. Hasil karya sutradara Italia, Luca Guadagnino, yang telah dikerjakan selama lebih dari satu dekade ini membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk memperkenalkan konflik utama dalam ceritanya. Memerlukan kesabaran tingkat tinggi, namun dengan tata visual yang sangat menghanyutkan dan penampilan luar biasa dari seorang Tilda Swinton, Io Sono L’Amore jelas adalah sebuah hasil penantian dan kerja keras yang sama sekali tidak sia-sia. Brilian bahkan.

Durasi awal dari Io Sono L’Amore akan memperkenalkan penontonnya pada keluarga Recchi, sebuah keluarga pengusaha tekstil ternama di Italia. Dalam sebuah acara kumpul keluarga yang diadakan untuk memperingatpengusaha tekstil ternama di Italia. Dalam sebuah acara kumpul keluarga yang diadakan untuk memperingati hari ulang tahunnya, sang pemilik perusahaan yang telah berusia lanjut, Edoardo Recchi (Gabriele Ferzeti), akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari dewan direksi perusahaan dan akan menyerahkan perusahaannya kepada seorang yang lebih muda. Adalah bukan sebuah kejutan jika Edoardo kemudian menyerahkan tahta perusahaannya kepada sang putra, Tancredi Recchi (Pippo Delbono), namun jelas sebuah hal yang cukup mengagetkan ketika Edoardo mengatakan bahwa membutuhkan dua orang lelaki tangguh untuk mengisi posisi yang ia tinggalkan, yang kemudian membuat ia memutuskan untuk membagi posisi tersebut kepada Tancredi dan putranya, Edoardo Recchi Jr. (Flavio Parenti).

Edoardo Jr. merupakan seorang pribadi yang belum berpengalaman dalam dunia bisnis. Ia sendiri saat ini lebih berkeinginan untuk membuka sebuah restoran bersama sahabatnya yang seorang chef handal, Antonio Biscaglia (Edoardo Gabbriellini). Walau tidak mendapatkan sambutan yang hangat dari sang ayah, ide ini ternyata didukung sepenuhnya oleh sang ibu, Emma Recchi (Tilda Swinton). Dukungan Emma jelas tidak datang secara sepihak. Emma jatuh cinta dengan setiap masakan yang dihasilkan oleh Antonio. Kecintaan Emma pada masakan Antonio inilah yang kemudian secara perlahan membuka peluang terjadi sebuah konflik diantara anggota keluarga Recchi.

Satu jam pertama dari durasi tayang Io Sono L’Amore dihabiskan oleh sutradara, Luca Guadagnino, untuk mengeksplorasi keluarga Recchi – khususnya kepada sang karakter utama, Emma Recchi, yang diperankan oleh Swinton. Keluarga Recchi adalah sebuah keluarga terpandang yang hidup dengan tata sikap dan tingkah laku layaknya keluarga kerajaan Inggris. Atmosfer inilah yang coba dibawakan oleh Guadagnino kepada para penontonnya. Selama satu jam pertama, Io Sono L’Amore berjalan dengan alur yang cukup lamban dan monoton – seperti halnya kehidupan keluarga Recchi. Dengan dukungan akting para pemerannya yang sangat berhasil serta ketiadaan konflik yang berarti selama masa durasi awal, teknik ini berjalan dengan sukses. Penonton akan dapat merasakan tekanan dari monotonnya kehidupan keluarga Recchi.

Ketika karakter Antonio diceritakan mulai mengalami kedekatan dengan karakter Emma, disitulah kehidupan Io Sono L’Amore dimulai. Jalan cerita yang tadinya serasa bergerak di tempat perlahan-lahan mulai terasa bergerak, walaupun masih dengan tempo yang sederhana. Di bagian inilah seluruh perhatian dibagi khusus untuk Emma dan putranya, Edoardo Jr.. Dari sudut pandang Emma, penonton dapat merasakan bagaimana Emma, yang selama ini merasa tertekan dengan seluruh kehidupannya yang berjalan datar, mulai dapat bernafas kembali seiring dengan tumbuhnya rasa cinta terhadap Antonio. Dari kacamata Edoardo Jr., penonton akan tetap terhubung dengan keluarga Recchi dan melihat bagaimana perjuangan Edoardo Jr. untuk menghadapi dunia bisnis yang ternyata tidak dapat dilakukan sejujur prinsip-prinsip bisnis yang selama ini telah diwariskan sang kakek kepada dirinya.

Beberapa konflik lain juga membuat jalan cerita Io Sono L’Amore semakin berjalan dinamis – mulai dari kenyataan yang ditemukan Emma mengenai putrinya, Elisabetta Recchi (Alba Rohrwacher), yang ternyata merupakan seorang lesbian, hingga konflik ekonomi yang dialami keluarga Recchi ketika perusahaannya sedang menghadapi masalah keuangan pelik. Sebuah melodrama, dan penonton sepertinya akan tahu bahwa mereka akan segera dihadapkan dengan sebuah tragedi besar yang akhirnya akan ‘menyelesaikan’ seluruh konflik yang telah dipaparkan di sepanjang durasi film. Walau begitu, Luca Guadagnino jelas tidak akan menggambarkannya segamblang itu. Lebih banyak berbicara secara visual daripada lewat dialog-dialog para karakternya, Io Sono L’Amore tampil indah dalam menampilkan kekelaman jalan ceritanya.

Berbicara mengenai Io Sono L’Amore sama artinya dengan berbicara mengenai dua nyawa paling penting dalam film ini: tampilan visual dan Tilda Swinton. Naskah drama keluarga dan segala konflik yang juga ditulis oleh Guadagnino bersama Barbara Alberti mungkin adalah sebuah hal yang sangat sederhana dan tidak terlalu istimewa, dan Luca Guadagnino sepertinya tahu akan hal itu. Oleh karenanya, ia berusaha untuk membuat Io Sono L’Amore bukan sebagai sebuah film yang bercerita dari dialog para karakternya. Ia lebih memilih untuk membuat Io Sono L’Amore sebagai sebuah kumpulan adegan gambar yang bercerita untuk para penontonnya. Beruntung ia sepertinya memiliki Yorick Le Saux, seorang sinematografer yang sepertinya tahu persis apa yang diinginkan oleh sang sutradara.

Lewat arahan Guadagnino, Le Saux memilih berbagai sudut gambar yang sangat jarang dieksplorasi banyak pembuat film dalam menceritakan kisahnya. Lewat pilihan-pilihan gambar inilah, Le Saux berhasil mengeksplorasi bagaimana repotnya para pembantu keluarga Recchi dalam menyambut para tamu majikannya, bagaimana detilnya Antonio ketika meracik hasil masakannya, bagaimana kakunya Emma dalam menjalani kehidupannya serta bagaimana indahnya percintaan terlarang yang dilakukan oleh Emma dan Antonio. Gambar-gambar ini tidak saja indah, namun juga hidup dan mampu mengimbangi berbagai perubahan emosional yang terjadi di dalam jalan cerita Io Sono L’Amore. Ditambah dengan tata musik arahan komposer John Adams, visualisasi indah di Io Sono L’Amore menjadi sebuah elemen yang tidak dapat dikesampingkan begitu saja.

Bagi publik internasional, nama Tilda Swinton mungkin belum mampu mencapai rekognisi popularitas yang setara dengan nama-nama semacam Meryl Streep, Kate Winslet maupun Cate Blanchett. Namun dalam hal talenta, Swinton jelas mampu tampil mengimbangi gelar aktris terbaik yang ia sandang. Dalam Io Sono L’Amore, Swinton lagi-lagi memberikan usaha terbaiknya. Berperan sebagai seorang keturunan Rusia yang sekarang hidup layaknya seorang Italia – Swinton harus belajar bahasa Italia dengan aksen Rusia untuk perannya – Swinton tampil sangat memukau. Karakter Swinton di Io Sono L’Amore adalah karakter yang paling banyak menghadapi perubahan emosional di dalam jalan ceritanya, dan hal ini berhasil diterjemahkan oleh Swinton dengan sangat baik. Lihat saja bagaimana Swinton memerankan Emma yang terlihat sebagai seorang wanita yang kaku di awal film perlahan bergerak menjadi seorang wanita baru ketika ia mulai menjalani hubungan cintanya dengan Antonio. Lewat peran yang ia lakukan Io Sono L’Amore mampu bergerak hidup. Tilda Swinton adalah pusat kehidupan bagi jalan cerita film ini.

Berjalan kaku – sesuai dengan kehidupan para karakternya – di awal film, Io Sono L’Amore mungkin akan membuat beberapa penonton menjauh. Sang sutradara, Luca Guadagnino memang lebih memilih untuk menghidupkan filmnya lewat rentetan gambar-gambar indah yang ia hasilkan bersama sinematografer, Yorick Le Saux. Atmosfer yang dibawakan oleh gambar-gambar inilah yang menjadi nyawa bagi Io Sono L’Amore. Namun, mungkin atmosfer kehidupan tersebut tidak akan begitu berarti banyak jika Tilda Swinton tidak berada di film ini. Penampilan Swinton yang sangat mengagumkan itulah yang kemudian memberikan sisi emosional dari nyawa yang telah dihasilkan oleh gambar-gambar racikan Guadagnino dan Le Saux. Tanpa Swinton, Io Sono L’Amore mungkin akan berakhir sebagai sebuah melodrama biasa dengan gambar-gambar indah belaka. Berbagai adegan yang tersusun dengan rapi dan ditambah dengan penampilan yang spektakuler dari para pemerannya membuat Io Sono L’Amore menjadi sebuah film arthouse yang elegan dan tetap menyentuh.

Rating: 4 / 5

 

Io Sono L'Amore (I Am Love) (First Sun/Mikado Film/Magnolia Pictures, 2009)

Io Sono L’Amore (I Am Love) (2009)

Directed by Luca Guadagnino Produced by Luca Guadagnino, Tilda Swinton Written by Luca Guadagnino, Barbara Alberti Starring Tilda Swinton, Flavio Parenti, Edoardo Gabbriellini, Alba Rohrwacher, Pippo Delbono, Maria Paiato, Daine Fleri, Waris Ahluwalia, Gabriele Ferzetti, Marisa Berenson Music by John Adams Cinematography Yorick Le Saux Editing by Walter Fasano Studio First Sun Distributed by Mikado Film/Magnolia Pictures Running time 114 minutes Country Italy Language Italian, Russian

One thought on “Review: Io Sono L’Amore (2009)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s