Review: Salt (2010)


Walau dikenal sebagai seorang aktris watak yang cukup menjanjikan, dengan tatapan mata yang misterius serta sikapnya yang tegas, Angelina Jolie juga dikenal Hollywood sebagai seorang aktris yang cukup dapat diandalkan ketika diminta untuk memerankan karakter-karakter yang mengharuskannya untuk beradegan keras dalam sebuah film action. Kini, bekerjasama dengan sutradara Phillip Noyce — yang sebelumnya sempat mengarahkan Jolie dan Denzel Washington di The Bone Collector — Angelina Jolie berkesempatan untuk semakin mempertegas statusnya sebagai salah satu bintang action terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini.

Dalam Salt, Jolie berperan sebagai Evelyn A Salt — peran yang seharusnya bernama Edwin A Salt dan diperankan oleh Tom Cruise — seorang agen rahasia CIA yang mendapati dirinya telah difitnah sebagai seorang agen KGB terlatih yang memang semenjak kecil telah dilatih sedemikian rupa untuk kemudian dapat dengan mudah menyusup masuk ke tubuh CIA. Salt tentu saja menolak keras tuduhan ini. Namun ketika para pimpinan CIA, termasuk sahabatnya, Ted Winter (Liev Schreiber), memaksa untuk melakukan interogasi pada dirinya, Salt memutuskan untuk melarikan diri. Film ini kemudian menghabiskan sisa masa durasinya yang sepanjang 100 menit dengan berbagai adegan kejar-kejaran antara Salt dengan para agen CIA serta usaha Salt untuk membuktikan bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah.

Sebagai sebuah film action, Phillip Noyce, yang memang telah banyak berpengalaman dalam menggarap film-film sejenis, berhasil membuat Salt menjadi sebuah film yang akan dapat memuaskan seluruh penggemar genre film tersebut. Walau seringkali terasa sebagai sebuah perpaduan antara film-film di serial Bond maupun Bourne, Salt berisikan karakter utama yang misterius, adegan kejar mengejar yang cukup intens serta beberapa adegan ledakan yang dihadirkan dalam tingkat tinggi, dan membuat film ini menjadi sebuah sajian action yang sangat sempurna di deretan film-film yang hadir selama musim panas.

Yang membuat Salt sukses dalam memberikan kejutan di dalam jalan ceritanya adalah penonton terus menerus diberikan misteri mengenai siapa diri Salt sebenarnya. Apakah ia benar-benar seorang agen KGB terlatih atau memang seorang agen CIA yang menjadi kambing hitam atas satu agenda politik yang lebih besar lagi? Bahkan hingga film ini menyelesaikan masa tayangnya, sebagian penonton masih tetap akan diliputi misteri mengenai siapa diri Salt sebenarnya.

Untuk dapat memberikan kejutan tersebut, dua penulis naskah, Kurt Wimmer dan Brian Helgeland, menawarkan beberapa twist di dalam jalan cerita beberapa kali. Twist yang dihadirkan tersebut harus diakui cukup efektif ketika pertama dan kedua kali dihadirkan. Namun, sama seperti halnya garam yang diberikan dalam porsi terlalu banyak, adegan twist tersebut menjadi sama sekali tidak bekerja dan justru merusak plot cerita utama ketika dihadirkan hingga beberapa kali di sepanjang jalan cerita.

Seperti yang sudah diduga, Angelina Jolie dapat dengan mudah menghidupkan karakter Salt dengan sangat baik. Di tangannya, Salt dapat menjadi seorang agen rahasia yang dingin dan tangguh walau tak pernah sekalipun kehilangan daya tariknya sebagai seorang wanita. Sayangnya, naskah cerita film ini, yang sangat memfokuskan pada berbagai tindakan dan adegan action di sepanjang cerita, sangat menghalangi Jolie untuk memberikan tampilan emosional yang lebih mendalam pada karakternya. Sebagai Salt, Jolie lebih sering terlihat membeku tanpa mengeluarkan ekspresi emosionalnya sekalipun. Ditambah dengan tidak jelasnya motif Salt di dalam jalan cerita, hal ini membuat penonton akan sedikit sulit untuk merasa terhubung dengan karakter utama film ini, yang mungkin akan menjadi faktor penentu tambahan apakah mereka akan masih mau melanjutkan menyimak kisah film ini jika sekuelnya akan dirilis beberapa waktu yang akan datang.

Dua pendukung utama, Liev Schreiber dan Chiwetel Ejiofor, yang berperan sebagai sahabat dan salah satu atasan Salt, melakukan tugasnya dengan cukup baik. Sama halnya seperti karakter Salt, dua karakter ini juga masih belum tergali dengan baik. Hal yang tak lebih baik juga dialami oleh aktor August Diehl, yang berperan sebagai Mike Krause, suami Salt, yang benar-benar terlihat sebagai sebuah karakter tempelan yang tidak memiliki banyak peran, walaupun sebenarnya memiliki pengaruh emosional yang kuat pada karakter Salt.

Selain penampilan visual action-nya yang dapat tergali dengan baik, tata musik yang diciptakan oleh komposer  James Newton Howard benar-benar dapat mengisi setiap adegan action yang dihadirkan dan mampu meningkatkan intensitas ketegangan yang dihadirkan pada adegan-adegan krusial di film ini. Bahkan, tidak salah pula jika dikatakan bahwa tata musik karya Howard merupakan bagian yang sangat tidak dapat dipisahkan dari setiap ketegangan yang dihasilkan oleh jalan cerita film ini.

Sama sekali tidak ada yang baru dalam jalan cerita Salt. Mereka yang setia dengan genre action dan gemar mengikuti film-film bertema spionase, khususnya film-film spionase modern a la Bourne dan Bond, pasti secara tidak langsung akan dapat merasakan atmosfer yang sama pada film ini. Angelina Jolie adalah pemain kunci di film ini, yang berhasil memberikan kehidupan pada karakter utama yang ia mainkan. Karakterisasi yang masih belum tergali dengan dalam mungkin menyebabkan Salt terasa hambar di beberapa bagian, namun secara keseluruhan, Salt mampu tampil sebagai sebuah film action musim panas yang cukup memuaskan.

Rating: 3.5 / 5

Salt (Relativity Media/Columbia Pictures, 2010)

Salt (2010)

Directed by Phillip Noyce Produced by Lorenzo di Bonaventura, Sunil Perkash Written by Kurt Wimmer, Brian Helgeland Starring Angelina Jolie, Liev Schreiber, Chiwetel Ejiofor, Daniel Olbrychski, August Diehl, Olek Krupa, Hunt Block Music by James Newton Howard Cinematography Robert Elswit Editing by Stuart Baird, John Gilroy Studio Relativity Media Distributed by Columbia Pictures Running time 100 minutes Country United States Language English

3 thoughts on “Review: Salt (2010)”

  1. Untuk adegan actionnya, SALT memang cukup berhasil menghibur penonton, walau adegan-adegan tersebut terlihat sangat mengada-ada. Namun untuk cerita, SALT sangat lemah. Dan sering kali beberapa twist terlihat dipaksakan. Yah, SALT ibarat makan pop corn, mengasyikkan pada porsi tertentu, walau tanpa gizi, kalau kebanyakan eneg juga.

  2. tak disangka, ternyata SALT menghibur juga. padahal, sebelumnya diriku sempet menghina dina pelem ini… heuheu, maafkan aku jeng jolie ^_^

    syaratnya: nonton tanpa mikir dan tanpa ekspektasi hehe
    3/5 deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s