Review: Death at a Funeral (2010)


Bagi mereka penggemar film-film komedi yang berasal dari negeri Britania Raya tentu mengenal judul Death at at Funeral yang sempat dirilis dan sukses pada tahun 2007 lalu. Film tersebut berhasil merebut banyak perhatian para penikmat film dunia sekaligus para kritikus film yang kemudian juga membuahkan beberapa penghargaan bagi sutradaranya, Frank Oz. Tidak butuh waktu lama bagi Hollywood untuk kemudian melihat peluang emas dalam merilis film ini kembali dalam sebuah bentuk yang lebih sesuai untuk dipasarkan di daerah mereka.

Hasilnya, di bawah arahan sutradara Neil Labute (The Wicker Man, Lakeview Terrace), walaupun tidak memiliki perubahan yang begitu berarti dari sisi plot ceritanya, Death at a Funeral beradaptasi secara penuh pada adegan dan dialog-dialog komedi yang biasa ditemukan di film-film komedi Amerika Serikat. Didukung sederetan nama komedian berkulit hitam populer Hollywood, sayangnya Death at a Funeral justru terjebak menjadi sebuah komedi standar dan kehilangan daya tarik yang dimiliki oleh film aslinya.

Intrik dalam sebuah keluarga menjadi bagian yang tidak dapat dihindarkan dalam keluarga Barnes, sebuah keluarga keturunan Afrika Amerika yang karena kesibukan masing-masing anggota keluarganya sepertinya baru dapat berkumpul ketika mereka sedang memperingati acara kematian yang terjadi di dalam keluarga tersebut. Kini, keluarga tersebut kembali berkumpul ketika Aaron (Chris Rock) menggelar prosesi pemakaman sang ayah yang baru saja meninggal dunia. Di antara ibunya, Cynthia (Loretta Devine), dan istrinya, Michelle (Regina Hall), yang sepertinya masih belum bisa akur, Aaron harus mengatur seluruh acara prosesi pemakaman sekaligus menghadapi kedatangan sang adik, Ryan (Martin Lawrence), yang sebenarnya tidak begitu ia sukai.

Tantangan untuk menggelar sebuah prosesi pemakaman yang sukses tidak hanya datang dari sang adik, namun dari seluruh keluarga ayahnya yang akan datang ke acara tersebut. Namun, masalah yang sebenarnya baru datang dalam perwujudan Frank Lovett (Peter Dinklage), pria pendek yang menghadiri acara pemakaman ayah Aaron namun gampir membuat seluruh acara berantakan dengan ancamannya mengenai sebuah rahasia besar dari ayah Aaron. Aaron dan Ryan sekarang harus bekerjasama untuk tetap menjaga rahasia tersebut tidak diketahui oleh seluruh keluarga besar mereka.

Keunggulan terbesar dari Death at a Funeral versi terbaru ini sejujurnya datang penuh dari kemampuan para jajaran pemerannya dalam menghidupkan masing-masing karakternya sekaligus memberikan sentuhan komikal di dalamnya. Walau tidak terlalu sering terjadi, baik Chris Rock, Martin Lawrence maupun Tracy Morgan sempat beberapa kali memberikan momen-momen komedi yang cukup menghibur lewat guyonan-guyonan yang disampaikan lewat dialog mereka. Para pemeran pendukung lain, khususnya Zoe Saldana dan James Marsden, juga memberikan penampilan yang tidak mengecewakan dan semakin menambah keapikan chemistry yang terjalin di antara para jajaran pemeran film ini.

Selain perubahan latar belakang negara serta ras para pemerannya, dapat dikatakan hampir tidak ada yang berubah dari Death at a Funeral. Sayangnya, tidak seperti Frank Oz, Neil Labute sepertinya gagal dalam menjaga stabilitas alur cerita di sepanjang film ini. Perbedaan tersebut sangat dapat dirasakan di awal film, ketika Death at at Funeral memulai kisahnya dengan banyak dialog dan adegan komedi yang cukup menghibur, namun perlahan menghilang hingga menjelang film ini berakhir. Labute sempat terlihat kembali berusaha mengembalikan momen-momen segar tersebut di penghujung film, namun dengan apa yang telah dilalui penonton sebelumnya, hal tersebut sayangnya akan tidak berpengaruh banyak.

Selain dari sisi plot, beberapa karakter di film ini juga kurang mampu digali lebih lanjut oleh Labute, padahal beberapa diantaranya justru memegang peranan yang cukup krusial untuk memberikan nilai tambah dari jalan cerita film ini. Lihat saja karakter ibu Aaron, Cynthia, yang ketika jalan cerita terus berjalan karakternya malah semakin tidak terlihat, atau karakter Uncle Russell (Crispin Glover), yang sering memberikan hiburan yang cukup berhasil namun kehadirannya justru sering tidak dimanfaatkan dengan baik.

Walaupun Death at a Funeral karya Frank Oz sendiri bukanlah sebuah karya komedi yang sangat superior, namun mengingat banyaknya nama komedian tenar yang mengisi barisan jajaran pemeran Death at a Funeral karya Neil Labute ini, menjadikan apa yang diberikan film ini secara keseluruhan menjadi suatu hal yang cukup mengecewakan. Bukanlah sebuah hasil yang benar-benar buruk, namun sutradara Neil Labute seharusnya dapat memanfaatkan nama-nama tenar tersebut untuk menjadikan 92 menit durasi Death at a Funeral menjadi menit-menit sebuah film komedi yang dapat sangat menghibur para penontonnya.

Rating: 3 / 5

Death at a Funeral (SKE Entertainment/Wonderful Films/Parabolic Pictures/Stable Way Entertainment/Screen Gems, 2010)

Death at a Funeral (2010)

Directed by Neil LaBute Produced by Sidney Kimmel, William Hordberg, Chris Rock, Share Stallings, Laurence Malkin Written by Dean Craig Starring Chris Rock, Martin Lawrence, Luke Wilson, Tracy Morgan, Danny Glover, Regina Hall, Kevin Hart, James Marsden, Zoe Saldana, Loretta Devine, Ron Glass, Peter Dinklage, Columbus Short Music by Christophe Beck Cinematography Rogier Stoffers Editing by Tracey Wadmore-Smith Studio SKE Entertainment/Wonderful Films/Parabolic Pictures/Stable Way Entertainment Distributed by Screen Gems Running time 92 min. Country United States Language English



3 thoughts on “Review: Death at a Funeral (2010)”

  1. gw sempet ntn yg versinya frank oz dan blum sempet ntn yg versi holly ini,
    pendapat gw, keunggulan film versi frank oz karena jalan ceritanya yg unik bgt,
    jdnya ngena bgt bg yg ntn,

    lalu klo ceritanya diulang lg dan hanya mengandalkan akting komediannya yg udah biasa dilihat, mgkn jd nya basi kali ya?!… ga buruk hanya basi…

    1. @Movfreak @kreshna Hmmm… kalau mau dibandingkan, karena udah nonton versi UK duluan, dan versi US adalah direct re-imagining dari film versi UK-nya, Death at a Funeral versi US jadi biasa ajah. Terlebih lagi, Neil LaBute gagal memanfaatkan sederetan komedian potensial ini di filmnya.

      Tapi… gak beda jauh amat koq kualitasnya. Kalo UK saya mungkin ngasih penilaian 3.5/5 deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s