Review: Greenberg (2010)


Dalam beberapa kesempatan, para aktor yang telah terlebih dahulu memiliki kredibilitas dalam membintangi film-film bertema komedi, akan menyempatkan diri untuk berakting di film drama dan membuktikan bahwa para aktor komedi juga memiliki kemampuan akting drama yang sama dengan para aktor drama. Beberapa diantara mereka gagal melakukannya, namun nama-nama seperti Adam Sandler (Punch-Drunk Love), Jim Carrey (Eternal Sunshine of the Spotless Mind), Will Ferrell (Stranger than Fiction), Eddie Murphy (Dreamgirls) dan beberapa nama lain berhasil melakukannya.

Tahun ini, Ben Stiller berniat untuk melakukan hal yang sama, untuk membuktikan bahwa dirinya juga mahir dalam memainkan peran dramatis. Sebenarnya, Greenberg bukan proyek drama pertama untuk Stiller. Walau masih berada di lingkup komedi, The Heartbreak Kid (2007) sebenarnya lebih banyak menunjukkan kemampuan drama Stiller. Begitu juga dengan Reality Bites (1994) dan The Royal Tenenbaums (2001). Jadi bila dibandingkan dengan aktor komedi lainnya, Stiller telah memiliki jam terbang yang lebih banyak dalam membintangi peran-peran bertema dramatis.

Dalam Greenberg, Stiller bekerjasama dengan sutradara peraih nominasi Academy Awards, Noah Baumbach, yang sebelumnya juga berhasil mengarahkan komedian, Jack Black, untuk bermain dalam film drama, Margot at the Wedding (2007). Film ini juga menandai kali pertama kerjasama Baumbach dengan istrinya, aktris Jennifer Jason Leigh, dalam penulisan skenario cerita, setelah sebelumnya Leigh turut berperan mendampingi Nicole Kidman dalam Margot at the Wedding.

Greenberg mengisahkan mengenai Roger Greenberg (Stiller), seorang pria yang berasal dari New York dan baru saja dibebaskan dari perawatan sebuah rumah sakit jiwa karena penyakit gangguan syaraf yang ia derita. Lepas dari pengawasan dokter, Roger dimintai bantuan oleh adiknya, Phillip (Chris Messina), untuk menjaga rumah kediaman mereka di Los Angeles selama Phillip dan keluarganya bepergian ke Vietnam. Selain bertugas menjaga rumah, Roger juga dititipkan seekor anjing keluarga Phillip, Mahler, yang nantinya malah menjadi dekat dengannya.

Tingkat emosional Roger sendiri masih labil dan seringkali meledak-ledak. Karenanya, Phillip juga meminta bantuan asistennya, Florence Marr (Greta Gerwig), untuk mengawasi dan membantu Roger selama kepergian mereka. Bisa ditebak, malam pertemuan pertama mereka saja, Roger telah merayu Florence dan sempat beberapa kali membuat hubungan mereka menegang. Walau berniat untuk tidak melakukan apapun, Roger juga berkeinginan untuk menjalin kembali persahabatan dengan Ivan (Rhys Ifans), sahabatnya yang pernah ia kecewakan ketika mereka membentuk band bersama satu dekade lalu. Greenberg kemudian meneruskan kisah mengenai perjalanan hubungannya dengan  Florence dan Ivan yang sepertinya harus selalu mendapat hambatan dari sifat Roger yang kadang sangat mengesalkan itu.

Berisi dialog-dialog yang cukup cerdas, seperti halnya The Squid and the Whale (2005) dan Margot at the Wedding, Noah Baumbach kembali mengeksplorasi mengenai ketidakmampuan salah seorang karakternya dalam menjalin hubungan dengan karakter lainnya. Dalam film ini, karakter Roger-lah yang diceritakan mengalami kesulitan tersebut. Kalau ditilik secara mendalam, sebenarnya karakter Roger Greenberg bukanlah seorang karakter yang dapat disukai oleh penontonnya. Kelakuannya yang terkadang kasar, sifatnya yang arogan dan perubahan hatinya yang sering memberikan pengaruh buruk pada karakter lain yang ada di dekatnya justru memiliki kemungkinan besar akan membuat penonton tidak mau ambil pusing dengan nasib karakter Roger tersebut.

Namun, penulis naskah, Noah Baumbach dan Jennifer Jason Leigh — yang juga kembali berperan di film ini — tentu saja tidak akan memberikan karakterisasi yang sedangkal itu kepada karakter utama film ini. Lewat narasi dan deskripsi yang diberikan oleh karakter lain di film ini, penonton akan mengetahui asal muasal mengapa Roger memiliki sifat yang tidak menyenangkan tersebut sekaligus yang menyebabkan ia sempat mengalami gangguan syaraf. Lewat karakter Roger pula, inti pesan dari film ini, yang menyentuh masalah bagaimana ketika seseorang mengetahui bahwa jalan hidupnya ketika dewasa jauh dari yang pernah ia rencanakan, dapat tersalurkan dengan lancar. Terlebih hebatnya lagi, Ben Stiller berhasil membawakan karakter yang kompleks ini dengan sangat hidup! Lewat penampilan Stiller yang rapuh, karakter Roger dibentuk menjadi seorang karakter yang menyimpan begitu banyak misteri untuk dapat dipecahkan para penonton film ini. Ini merupakan penampilan terbaik Stiller yang sepertinya yang akan mampu membawa Stiller satu kelas lebih baik daripada teman-teman aktor komedi sepantarannya.

Tidak hanya melulu soal pribadi Roger, Greenberg juga menggali dengan dalam mengenai hubungan Roger dengan Florence dan sahabatnya, Ivan. Melalui dua karakter pendamping utama inilah, penonton akan melihat ‘perbaikan’ psikologis seorang Roger Greenberg. Florence — yang sepertinya merupakan perpaduan antara karakter Clementine Kruczynski (Eternal Sunshine of the Spotless Mind) dengan Juno (Juno) — menjadi karakter wanita yang sangat menarik di tangan aktris Greta Gerwig. Sama halnya dengan karakter Roger, Gerwig membentuk Florence sebagai wanita yang rapuh namun berusaha terlihat kuat dari luar. Ditambah dengan daya tarik seksual yang tak dapat disangkal, Gerwig berhasil menjadikan Florence sebagai pemanis sekaligus karakter penting dalam film ini.

Sementara itu, aktor Rhys Ifans juga memberikan penampilan yang lumayan sebagai Ivan. Walaupun karakternya tidak memiliki peran yang sekrusial peran Gerwig, namun Ifans berhasil menciptakan suasana yang pas pada setiap kehadirannya. Bersama Gerwig dan Stiller, Ifans juga mampu membentuk chemistry yang tepat, sehingga interaksi antara ketiga karakter yang mereka perankan benar-benar sangat terasa baik.

Satu lagi keunggulan utama film ini adalah pemilihan Baumbach untuk komposer yang menyusun iringan musik di film ini. Untuk memberikan tandingan atas tema film yang sedikit ‘berat’, Baumbach memilih untuk mengisi Greenberg dengan iringan musik-musik pop ringan melayang di sepanjang cerita. Baumbach kemudian memilih frontman band LCD Soundsystem, James Murphy, untuk melakukannya. Walau ini merupakan tata musik film pertama yang ia kerjakan, Murphy berhasil mengisi setiap mood yang diperlukan film ini dengan musik-musik iringan yang ia buat dan dibawakan oleh band-nya, LCD Soundsystem, mauoun oleh artis-artis lain.

Bagi mereka yang telah sempat menikmati film-film karya Baumbach lainnya, tentu akan dapat merasakan persamaan atmosfer film yang sama ketika menyaksikan Greenberg. Dengan tema penceritaan yang kuat dan dibalut komedi, akan membutuhkan sedikit waktu bagi mereka yang belum dapat menyesuaikan diri dengan cara penyampaian Baumbach yang sedikit lama itu. Greenberg sendiri harus diakui memiliki salah satu naskah film yang paling cerdas untuk tahun ini. Dengan arahan yang tepat, Baumbach berhasil memancing kemampuan akting setiap aktornya sehingga mereka mampu menghidupkan film ini dan menjadikan Greenberg sebagai salah satu drama paling kuat untuk tahun ini.

Rating: 4.5 / 5

Greenberg (Studio Focus Features/Scott Rudin Productions, 2010)

Greenberg (2010)

Directed by Noah Baumbach Produced by Jennifer Jason Leigh, Scott Rudin, Lila Yacoub Written by Noah Baumbach, Jennifer Jason Leigh Starring Ben Stiller, Greta Gerwig, Rhys Ifans, Jennifer Jason Leigh, Mark Duplass, Chris Messina, Brie Larson, Juno Temple  Music by James Murphy Cinematography Harris Savides Editing by Tim Streeto Studio Focus Features/Scott Rudin Productions Distributed by Focus Features Running time 107 min. Country United States Language English

One thought on “Review: Greenberg (2010)”

  1. greenberg menurut saya ini adalah film yang paling bagus selama tahun 2010, film jujur, dengan dialog yang sangat realis, plus greta gerwig bener bawa sense of mumblecore kedalam film mainstream ini, hal yang paling menakjubkan adalah film ini tidak ada plot sama sekali, is just an ordinary life like u and me. kekuatan dari film ini adalah karakter dari masing2 pemain, dari karakter greenberg, trus florence yang sngt rapuh mpe si family man…ivan yang. keren buat ditonton, banyak essence yang bisa diambil, salah satu hal yang menurut saya bagus adalah ending yang mungkin a new thing untuk film amerika ….kueren, salah satu keburukannya adalah ada beberapa karakter yg tidak didalami lebih lanjut semisal florence dengn kehamilan, atau greenberg yang mengidak add, but overall its a fantastic movie…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s