Review: Shrek: The Final Chapter (2010)


Semenjak petualangannya dimulai sembilan tahun lalu, para penggemar animasi telah melihat Shrek tumbuh menjadi seorang yang berbeda. Pada awalnya sebagai seorang monster yang menakutkan semua orang, Shrek kemudian berubah menjadi seorang monster yang telah menjadi favorit semua orang setelah ia menyelamatkan Puteri Fiona. Namun, tetap saja, di dalam diri Shrek sebenarnya, ia merindukan kebebasan dan keliaran dari seorang monster sejati seperti yang pernah ia dapat dulu sebelum bertemu Fiona.

Kisah inilah yang angkat diangkat oleh DreamWorks lewat seri keempat dari Shrek. Film ini, sebenarnya bukanlah bagian terakhir dari petualangan Shrek dan teman-temannya. DreamWorks sempat berencana untuk merilis bagian kelima dari salah satu franchise animasi terpopuler ini. Namun, pada akhir 2009 lalu, DreamWorks mengumumkan bahwa seri keempat film ini akan menjadi bagian akhir dari petualangan Shrek. Judul yang semula menggunakan Shrek Goes Fourth pun diganti dengan Shrek Forever After, sebelum akhirnya kembali diubah menjadi Shrek: The Final Chapter beberapa bulan sebelum perilisannya.

Masih menggunakan formula kisah dongeng klasik sebagai dasar dari bahan cerita — kali ini menggunakan formula true love’s kissShrek: The Final Chapter memulai kisahnya dengan sedikit mundur ke belakang dan melihat kembali ketika Queen Lilian (Julie Andrews) dan King Harold (John Cleese) meminta bantuan Rumplestilskin (Walt Dohrn) untuk membebaskan Princess Fiona (Cameron Diaz) ketika masih terperangkap di sebuah kastil sebelum akhirnya Princess Fiona diselamatkan oleh Shrek (Mike Myers). Rumplestilskin akhirnya berniat untuk membuat hidup Shrek tidak bahagia semenjak itu.

Sementara itu, Shrek, yang kini telah menikah dengan Princess Fiona dan memiliki tiga orang anak, mulai merasa tidak nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Shrek merindukan kehidupannya sebagai seorang ogre yang hidup liar dan dapat melakukan apapun yang ia mau. Ini membuat hubungannya dengan Princess Fiona dan teman-temannya, termasuk Donkey (Eddy Murphy) dan Puss in Boots (Antonio Banderas) menjadi renggang.

Ketika bertemu Rumplestilskin, ia menawarkan pada Shrek sebuah perjanjian magis dimana Shrek dapat merasakan kembali bagaimana rasanya menjadi seorang ogre dalam sehari. Sebagai gantinya, Shrek akan memberikan sehari dalam kehidupannya yang dahulu kepada Rumplestilskin. Shrek setuju dan menandatangani perjanjian tersebut. Yang tidak diketahui oleh Shrek, satu hari di masa lalu, tentu akan sangat mempengaruhi kejadian di masa depan. Benar saja, ketika ia kembali ke masa sekarang, kehidupannya berubah total menjadi kehidupan yang diinginkan oleh Rumplestilskin.

Jika sebagian dari penonton merasa bahwa petualangan Shrek benar-benar telah terasa datar dan tidak begitu berarti pada Shrek The Third, maka mereka mungkin akan mengalami waktu yang lebih sulit lagi ketika mencerna Shrek: The Final Chapter. Seri keempat dari petualangan Shrek lebih dirasakan ditujukan kepada para penonton yang berusia muda daripada mereka yang dewasa.

Walaupun premis film ini menceritakan mengenai Shrek yang mengalami krisis paruh baya, yang sepertinya merupakan premis yang menjanjikan sebagai sebuah film keluarga yang sesuai untuk semua usia, namun Mike Mitchell lebih memilih untuk menjadikan Shrek: The Final Chapter sebagai sebuah tontonan yang (sangat) ringan. Hal ini dilakukan dengan memasukkan berbagai tambahan adegan action konyol dan beberapa adegan musikal dengan latar belakang lagu pop populer, yang membuat sebagian bertanya apakah kepopuleran Glee ada sangkut pautnya dengan hal ini.

Kebanyakan, yang ditampilkan oleh DreamWorks lewat Shrek: The Final Chapter adalah pengulangan dari apa yang telah mereka tampilkan pada seri-seri Shrek sebelumnya, yang membuat film ini sangat terasa kekurangan ide segarnya. Untungnya, seri ini masih memiliki beberapa karakter yang lovable dan terbukti mampu memberikan sentuhan komedinya. Eddy Murphy sekali lagi berhasil membawakan kejenakaannya lewat karakter Donkey, yang bahkan lebih berhasil lagi ketika ia berada di satu layar bersama Puss in Boots yang disuarakan oleh aktor Antonio Banderas. Berbagai bagian komikal dan komedi dari Shrek: The Final Chapter kebanyakan dihasilkan oleh kedua karakter ini dan berhasiol melakukannya dengan baik.

Seperti film-film ‘megah’ lainnya yang dirilis setelah kesuksesan Avatar, DreamWorks mencoba melakukan tambahan teknologi visual 3D pada film ini. Karena hal itu pula, tampilan Shrek: The Final Chapter lebih gelap daripada biasanya — hal yang juga terjadi pada Alice in Wonderland. Untuk teknologi 3D-nya sendiri, Shrek: The Final Chapter gagal mengulangi kesuksesan How to Train Your Dragon yang justru memanfaatkan sentuhan 3D-nya untuk meningkatkan rasa kenikmatan menonton. Format 3D pada Shrek: The Final Chapter sama sekali tidak berpengaruh apa-apa pada jalan cerita dan kepada para penontonnya.

Sebenarnya, sangat disayangkan jika franchise ini berakhir dengan kualitas yang ditampilkan DreamWorks pada film ini. Walaupun bukan merupakan seri terburuk — yang masih dipegang oleh Shrek The Third — tetap saja Shrek: The Final Chapter terasa seperti telah benar-benar kehilangan kesegarannya. Memiliki beberapa momen komedi, yang diberikan oleh karakter Puss in Boots dan Donkey, namun secara keseluruhan, Shrek: The Final Chapter gagal memberikan sebuah hiburan yang berarti.

Rating: 3 / 5

Shrek: The Final Chapter (DreamWorks Animation/Paramount Pictures, 2010)

Shrek: The Final Chapter (2010)

Directed by Mike Mitchell Produced by Gina Shay, Teresa Cheng, Andrew Adamson, Aron Warner, John H. Williams Written by William Steig (book), Josh Klausner, Darren Lemke Starring Mike Myers, Cameron Diaz, Eddie Murphy, Antonio Banderas, Walt Dohrn, Julie Andrews, Conrad Vernon, Aron Warner, Christopher Knights, Cody Cameron, Chris Miller, John Cleese, Jon Hamm, Craig Robinson, Kristen Schaal, Mary Kay Place, Meredith Vieira, Kathy Griffin, Lake Bell Music by Harry Gregson-Williams Cinematography Yong Duk Jhun Editing by David Teller Studio DreamWorks Animation Distributed by Paramount Pictures Running time 103 minutes Country United States Language English

5 thoughts on “Review: Shrek: The Final Chapter (2010)”

  1. Blm nonton siiih..tp walopun kurang gregetny ttp aja nti kl ud kluar filmy wajib d tonton.soalny ud tradisi dr shrek 1.mkny beban moral untuk melengkapi hingga shrek trkhr..

  2. gw suka banget sama puss in boots nya….

    paling menonjol deh, kl gk ada puss in boots dan donkey pasti shrek gk terlalu lucu tuh film nya.

    sangat setuju kl film ini better than shrek the 3rd. kl itu mah PARAH!!! gw gk suka. masih mendingan lah ini mah.

    tp mnrt gw animasi nya meningkt loh, detail banget, jernih, keren deh animasi nya.

  3. bagus film ini… mengingatkan kita apa yang kita punya akan terasa sangat berharga ketika itu semua sudah pergi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s