Review: Rumah Dara (2010)


Rumah Dara mungkin adalah salah satu film thriller yang paling ditunggu masa rilisnya di sejarah perfilman Indonesia. Bukan bermaksud membesar-besarkan. Film yang pada awalnya berjudul Macabre ini telah terlebih dahulu singgah di berbagai festival film dunia, dan hebatnya, mendapat banyak review yang sangat memuaskan. Tidak heran, di tengah kekeringan ide di dunia perfilman Indonesia, khususnya di genre horror, Rumah Dara terdengar akan menjadi sebuah penyelamat film horror di Indonesia.

Penantian para penggemar film horror nasional sendiri akan Rumah Dara sebenarnya dimulai pada film pendek berjudul Dara yang dibuat dua sutradara, Kimo Stamboel dan Timothy Tjahjanto, yang dikenal sebagai Mo Brothers, dalam sebuah kompilasi film-film pendek bergenre horror berjudul Takut: The Faces of Fear. Lewat Dara, Mo Brothers memperkenalkan para penonton dengan Dara (Shareefa Daanish), seorang wanita manis nan misterius yang memiliki ‘resep rahasia’ untuk mengelola berbagai jenis makanan yang ia tawarkan di restoran miliknya.

Dalam Rumah Dara, Mo Brothers tidak lagi menceritakan Dara sebagai seorang wanita pengelola restoran yang hidup sendirian. Ia tinggal di sebuah rumah tua bersama ketiga “anak”-nya, Adam (Arifin Putra), Arman (Ruly Lubis), dan Maya (Imelda Therinne).

Di suatu malam yang dipenuhi hujan, Maya, yang mengaku bahwa dirinya baru saja dirampok, diselamatkan oleh sekelompok orang yang sedang dalam perjalanan mereka dari Bandung untuk kembali menuju Jakarta. Adjie (Ario Bayu) dan istrinya, Astrid (Sigi Wimala), Jimi (Daniel Mananta), Eko (Dendy Subangil), Alam (Mike Lucock) dan Ladya (Julie Estelle), adik Adjie, tentu tidak akan menyangka bahwa niat tulus mereka dalam menolong Maya akan berakhir dengan serangkaian teror yang akan terbentang di hadapan mereka.

MOTHER OF THE YEAR. Dara, memberikan Anda sebuah contoh sempurna mengenai bagaimana cara mengasuh keluarga Anda dengan baik.

Maya membawa para penolongnya tersebut ke rumahnya untuk diperkenalkan pada ibunya, Dara (Daanish). Dara, yang merasa sangat berterima kasih atas pertolongan yang telah mereka lakukan pada Maya, memaksa agar mereka untuk dapat tinggal sejenak untuk makan malam sebagai rasa terima kasihnya. Tentu saja, seperti yang telah diduga para penontonnya, sajian makan malam yang direncanakan hanya sejenak, akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Sebelumnya, saya harus memberikan pujian penuh bagi The Mo Brothers yang berani untuk memberikan sebuah sajian baru bagi para penggemar film horror Indonesia. Setelah dijejali dengan berbagai makhluk mistis, dan diikuti dengan kembalinya tren horror Indonesia ’80-’90-an, yakni menyertakan unsur seks di dalam jalan cerita, sungguh sangat menyenangkan hati untuk melihat film ini.

Dimulai dengan sekelumit adegan drama yang sejujurnya kurang berhasil di awal film, jalan cerita dari Rumah Dara sebenarnya sudah sangat mudah tebak, khususnya bila Anda merupakan orang yang sangat menggemari film-film horror bergenre sama seperti The Texas Chainsaw Massacre, Hostel atau Saw. Dalam sebuah wawancara, The Mo Brothers sempat menyebutkan bahwa Rumah Dara adalah permulaan dari  sebuah cerita yang lebih panjang. Mungkin yang dimaksudkan mereka adalah akan ada prekuel dan sekuel lanjutan dari film ini. Kemungkinan sekuel tentu saja dapat terlihat dari adegan ending yang menggantung, sementara kemungkinan prekuel well… mungkin dapat dilihat dari kurangnya eksplorasi cerita yang diberikan mengenai keluarga Dara, baik mengenai masing-masing penghuni rumah Dara maupun mengapa mereka melakukan tindakan tersebut.

Dari departemen akting, beberapa di antara para pemeran Rumah Dara mampu memberikan penampilan yang sangat baik, dan kebanyakan mereka berasal dari pemeran karakter penghuni rumah Dara. Shareefa Daanish, yang selama ini mungkin dikenal dengan karakter goofy dan girly yang banyak ia tampilkan di berbagai film televisi yang ia perankan, menghapus seluruh imej tersebut dan merasuk ke dalam sebuah karakter mematikan bernama Dara. Jujur, penggambaran Dara di Rumah Dara, dengan suara berat yang ughhh… sedikit mengganggu, sedikit mengecewakan saya, jika dibandingkan dengan Dara yang ada di film pendek Dara. Tiga karakter penghuni rumah Dara lainnya, Adam, Arman dan Maya, juga dengan sempurna dimainkan oleh para pemerannya. Seperti halnya Daanish, Arifin Putra juga berhasil menyingkirkan imej anak baik-baik yang telah melekat dengan dirinya selama ini untuk menjadi Adam.

Dan masalah datang dari pihak protagonis… Penampilan Julie Estelle, Ario Bayu dan Sigi Wimala (dan mungkin Mike Lucock), mungkin tidak dipermasalahkan. Penampilan mereka malah dapat disebut baik, walau tidak dapat dikatakan sempurna. Yang mengganggu tentu saja penampilan dari Daniel Mananta dan Dendy Subangil yang memerankan Jimi dan Eko. Mungkin mereka bermaksud komikal dalam memerankan kedua karakter tersebut, namun kadang baik Daniel dan Dendy dapat terkesan terlalu berlebihan. Maksud saya, lihat adegan ketika Jimi, Eko dan Ladya dengan tangan terikat sedang terkurung di sebuah ruangan gelap melihat rekan mereka, Alam, sedang “dibersihkan tubuhnya” oleh Arman. Karakter mereka memang sudah seharusnya berteriak-teriak ketakutan, tapi apa yang ditampilkan Jimi dan Eko awalnya malah terkesan berlebihan, kemudian berlanjut menjadi konyol dan lama-kelamaan menjadi mengesalkan.

Tunggu, karakter-karakter yang mengesalkan belum berhenti sampai disitu. Di tengah jalan, sekelompok polisi yang terlihat sangat, sangat tidak meyakinkan datang ke rumah Dara. Para polisi tersebut juga membawa karakter mengesalkan lainnya, seorang tahanan yang diperankan oleh Aming. Mungkin, The Mo Brothers ingin memasukkan unsur komedi di dalam jalan cerita Rumah Dara dan menjadikannya bernuansa black comedy, seperti yang mereka tampilkan di film pendek Dara. Namun, apa yang mereka tampilkan di Rumah Dara sangat tidak efektif dan malah terkesan hanya sebagai perpanjangan cerita sebelum keluarga Dara menghabisi para korbannya.

Di lain pihak, tata visual yang ditampilkan di Rumah Dara adalah sangat mengagumkan. The Mo Brothers berhasil menyajikan sebuah racikan visual yang sangat meyakinkan untuk menyesuaikan dengan jalannya mood cerita film ini. Gelap dan misterius. Tata musik yang mereka pilih untuk tiap adegan di Rumah Dara juga sangat unik. Menggunakan lagu-lagu Indonesia bernuansa klasik, yang sangat sesuai dengan latar belakang rumah Dara yang tua, sekaligus menambah rasa ketakutan para penontonnya.

Secara keseluruhan, apa yang telah The Mo Brothers berikan lewat Rumah Dara dapat dikatakan cukup menarik. Bagi mereka yang terbiasa dengan menikmati film-film horror Indonesia yang selalu bernuansa mistis, tentu saja Rumah Dara akan memberikan sebuah bentuk teror baru. Walau begitu, beberapa titik kelemahan yang ada di film ini tentu saja tidak dapat diabaikan. Sialnya, titik-titik kelemahan tersebut berada pada poin-poin utama dari sebuah film, seperti jalan cerita dan para pemeran pendukungnya. Bagaimanapun, Rumah Dara adalah sebuah film yang kualitasnya jauh berada diatas film-film horror Indonesia lainnya. Dan hal itu adalah sebuah hal yang membuat Anda harus menyaksikan sendiri bagaimana film ini sebenarnya.

Rating: 3 / 5

Rumah Dara (Gorylah Pictures/Merah Prod/Guerillas Visuals, 2010)

Rumah Dara (2010)

Directed by Mo Brothers Producer Delon Tio Written by Mo Brothers Starring Shareefa Daanish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Ruli Lubis, Julie Estelle, Ario Bayu, Sigi Wimala, Daniel Mananta, Mike Lucock, Dendy Subangil Distributor Gorylah Pictures/Merah Prod/Guerillas Visuals Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Rumah Dara (2010)”

  1. tambahan kejanggalan yang menggangu dr film ini menurut saya, yaitu perut hamil Sigi Wimala, kelihatan banget seperti memakai bantal dan biasanya bayi yang baru lahir pasti terus menangis, namun sepanjang film tidak terdengar tangisan bayi…lucu kan?hehe..tapi secara keseluruhan film ini menurut saya bagus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s