Review: Bid’ah Cinta (2017)

Art imitates life. Dan film, sebagai salah satu bentuk produk kesenian, seringkali merefleksikan kondisi politik, sosial maupun budaya yang pernah atau sedang dialami para pembuatnya. Film terbaru arahan Nurman Hakim, Bid’ah Cinta, sepertinya berusaha menjadi cermin mengenai kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sedang menghangat belakangan ini, khususnya dari kalangan pemeluk agama Islam. Kondisi sosial dimana beberapa kelompok merasa bahwa ajaran Islam yang mereka peluk lebih “murni” dan “kuat” dibandingkan dengan ajaran Islam yang dipeluk dan dipraktekkan oleh beberapa kelompok lain sehingga membuat mereka berusaha keras agar kelompok yang berbeda tersebut mau untuk “bertobat” dan kemudian mengikuti ajaran Islam mereka yang lebih “murni” dan “kuat” tersebut. Tentu, sebuah bahasan yang cukup kompleks untuk dijabarkan dalam sebuah jalan pengisahan yang berdurasi 128 menit. Namun, dengan kelihaiannya bercerita, Hakim mampu menggarap Bid’ah Cinta dengan ritme yang tepat sehingga filmnya tetap tajam dalam berkisah dan tidak pernah terasa membosankan dalam pemaparannya. Continue reading Review: Bid’ah Cinta (2017)

Review: Beauty and the Beast (2017)

Film animasi produksi Walt Disney Pictures, Beauty and the Beast (Gary Trousdale, Kirk Wise, 1991), jelas merupakan salah satu film animasi terpopular sepanjang masa. Dengan jalinan cerita serta karakter-karakter yang kuat plus deretan lagu-lagu garapan Alan Menken dan Howard Ashman yang begitu memikat, film yang juga berhasil mencatatkan sejarah sebagai film animasi pertama yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang Academy Awards – bahkan disaat nominasi Best Picture hanya dapat diisi oleh lima film(!) – tersebut mampu menjadi film favorit banyak penikmat film dunia hingga saat ini. Dengan status tersebut, tidak mengherankan bila kemudian keputusan Walt Disney Pictures untuk memproduksi ulangbuat Beauty and the Beast dalam versi live action – seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya lewat Alice in Wonderland (Tim Burton, 2010), Maleficent (Robert Stromberg, 2014), Cinderella (Kenneth Brannagh, 2015) dan The Jungle Book (Jon Favreau, 2016) – menerima cukup banyak kritikan tajam dari beberapa pihak. Namun, Walt Disney Pictures juga tidak akan begitu saja merusak salah satu karya terbaik mereka. Kembali bekerjasama dengan Menken untuk mengkomposisi deretan musik yang mengiringi perjalanan cinta antara Si Cantik dan Si Buruk Rupa serta menempatkan Bill Condon (Dreamgirls, 2006) untuk duduk di kursi penyutradaraan, Walt Disney Pictures jelas berusaha keras agar filmnya mampu memiliki daya tarik yang sama kuat dengan film pendahulunya. Berhasil? Continue reading Review: Beauty and the Beast (2017)

Review: Trinity, the Nekad Traveler (2017)

Diadaptasi dari buku berjudul The Naked Traveler karangan Trinity – yang merupakan kompilasi dari tulisan sang penulis yang sebelumnya telah dipublikasikan dan popular melalui blognya yang bernama sama, Trinity, The Nekad Traveler berkisah bagaimana usaha Trinity (Maudy Ayunda) untuk menyeimbangkan kehidupan kesehariannya dengan kegemarannya untuk bertualang ke banyak tempat baru. Seringkali, Trinity merasa bahwa kehidupannya sebagai seorang pekerja kantoran menghalangi hasratnya untuk lebih sering menjelajah dunia. Namun, di saat yang bersamaan, Trinity terpaksa bertahan karena ia masih sangat membutuhkan penghasilan yang ia dapatkan dari perusahaan tempat ia bekerja. Dalam dilema antara bertahan dengan pekerjaan atau mengejar terus hasrat pribadinya tersebut, Trinity secara perlahan justru mulai menyadari berbagai hal mengenai kepribadiannya yang semakin membuatnya yakin untuk menentukan pilihan arah dalam kehidupannya. Continue reading Review: Trinity, the Nekad Traveler (2017)

Review: Gold (2016)

Terinsipirasi dari sebuah kisah nyata skandal penipuan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan mineral Kanada yang juga melibatkan pemerintahan Indonesia di tahun 1997, film teranyar arahan sutradara asal Amerika Serikat, Stephen Gaghan (Syriana, 2005), berkisah mengenai Kenny Wells (Matthew McConaughey), seorang pengusaha di bidang mineral alam yang sedang mengalami kesulitan finansial. Dalam usaha terakhir untuk mempertahankan perusahaan yang diwariskan oleh sang ayah kepadanya, Kenny Wells lantas menghubungi seorang geolog bernama Michael Acosta (Édgar Ramírez) yang memiliki keyakinan bahwa ia telah menemukan sebuah tambang emas di pedalaman hutan Kalimantan, Indonesia yang masih belum disentuh dan diketahui khalayak luas. Berbekal hanya dengan keyakinannya, serta hasil meminjam dana bantuan dari banyak pihak, Kenny Wells dan Michael Acosta akhirnya melakukan perjalanan ke wilayah yang diduga memiliki sumber emas dan memulai masa penggalian mereka. Setelah sekian lama menggali, Michael Acosta ternyata berhasil membuktikan kebenaran teorinya: wilayah pedalaman hutan Kalimantan tersebut memiliki sumber emas – bahkan merupakan sumber emas terbesar yang pernah ditemukan di dunia. Keuntungan komersial jelas dapat dengan mudah mereka raih. Namun, di saat yang bersamaan, beberapa pihak yang ingin turut ambil bagian keuntungan dari temuan Kenny Wells dan Michael Acosta tersebut mulai melancarkan strategi mereka untuk mendekati keduanya. Continue reading Review: Gold (2016)

Review: Silence (2016)

Di tahun 1988, Vatikan memberikan Martin Scorsese sebuah buku berjudul Silence yang ditulis oleh Shūsaku Endō. Buku tersebut diberikan Vatikan kepada Scorsese setelah sebelumnya pihak Vatikan dilaporkan merasa kecewa dengan penggambaran kehidupan Yesus Kristus oleh Scorsese pada The Last Temptation of Christ (1988). Meskipun telah difilmkan sebelumnya oleh Masahiro Shinoda pada tahun 1971 dengan menggunakan judul yang sama, Scorsese kemudian terobsesi dengan buku karangan Endō tersebut dan berhasrat untuk mengadaptasi Silence sebagai film berikutnya. Perjalanan proses adaptasi Silence menjadi sebuah film dimulai Scorsese semenjak tahun 1990. Sayangnya, berbagai hambatan yang merintangi jalan Scorsese – mulai dari naskah cerita yang tak kunjung dirasakan memuaskan, jajaran pemeran yang silih berganti hingga beberapa tuntutan hukum yang kemudian muncul akibat molornya proses produksi film – membuat Silence gagal untuk diselesaikan. Akhirnya, setelah menyelesaikan proses produksi The Wolf of Wall Street (2013) dan lebih dari dua dekade berusaha mengadaptasi Silence, Scorsese memilih untuk berkonsentrasi pada film yang telah menjadi hasrat pribadinya tersebut. Dan sebagai film yang telah menunggu hampir 30 tahun untuk dirilis, Scorsese mampu membuktikan bahwa Silence adalah sebuah mahakarya yang patut untuk diperjuangkan. Continue reading Review: Silence (2016)

Review: Galih & Ratna (2017)

Jauh sebelum generasi milenial mengenal Rangga dan Cinta (Ada Apa Dengan Cinta?, 2001) atau Adit dan Tita (Eiffel… I’m in Love, 2003), para penikmat film Indonesia telah dibuat jatuh cinta dengan pasangan Galih dan Ratna yang pertama kali muncul di layar sssama. Tidak hanya berhasil melambungkan nama dua pemeran utamanya, Rano Karno dan Yessy Gusman, film arahan Arizal yang di tahun rilisnya menjadi film dengan raihan penonton terbesar ketiga itu juga sukses menghadirkan gelombang kehadiran film-film remaja di layar bioskop Indonesia pada masa tersebut. Kini, hampir empat dekade setelah perilisan Gita Cinta dari SMA, sutradara Lucky Kuswandi (Selamat Pagi, Malam, 2014) kembali menghadirkan pasangan Galih dan Ratna dalam sebuah jalinan cerita yang mengadaptasi bebas novel karangan Eddy S. Iskandar tersebut dengan latarbelakang masa modern. Menghadirkan dua wajah baru di industri film Indonesia, Refal Hady dan Sheryl Sheinafia, untuk memerankan dua karakter ikonik, mampukah kisah percintaan Galih dan Ratna kembali menarik perhatian penonton? Continue reading Review: Galih & Ratna (2017)

Review: Hidden Figures (2016)

This review was originally published on January 02, 2017 and being republished as the movie hits Indonesian theaters today.

Berdasarkan naskah cerita yang digarap oleh Theodore Melfi dan Allison Schroeder yang mengadaptasi buku berjudul sama karya Margot Lee Shetterly, Hidden Figures berlatarbelakang di Amerika Serikat pada tahun 1960an. Pada saat tersebut, warga berkulit berwarna masih dipandang sebagai warga negara kelas dua dengan hak-hak sipil mereka masih seringkali terabaikan oleh negara. Dalam kondisi tersebut, tiga orang wanita berkulit berwarna dengan kemampuan Matematika yang handal, Katherine Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) dan Mary Jackson (Janelle Monáe), mulai meniti karir mereka di National Aeronautics and Space Administration. Jelas bukan persoalan mudah. Dengan warna kulit yang mereka miliki, ketiganya sering dipandang sebagai sosok yang tidak memiliki kemampuan apapun. Meskipun begitu, ketiganya tidak menyerah begitu saja. Dengan kecerdasan dan kemampuan yang mereka miliki, ketiganya kini tercatat sebagai tiga tokoh penting yang membantu NASA untuk mengorbitkan astronot pertama mereka, John Glenn (Glen Powell), ke angkasa luar. Continue reading Review: Hidden Figures (2016)

Review: Kong: Skull Island (2017)

Setelah Godzilla (Gareth Edwards, 2014), rumah produksi Legendary Pictures melanjutkan ambisinya dalam membangun MonsterVerse dengan Kong: Skull Island. Film yang diarahkan oleh Jordan Vogt-Roberts (The Kings of Summer, 2013) ini merupakan reboot dari seri film King Kong yang pertama kali diproduksi Hollywood pada tahun 1933 dan sempat memiliki sejumlah sekuel sekaligus diulangbuat beberapa kali. Pengisahan Kong: Skull Island sendiri memiliki perspektif yang berbeda jika dibandingkan dengan film-film dalam seri King Kong sebelumnya – meskipun masih tetap menghadirkan beberapa tribut terhadap alur kisah klasik King Kong dalam beberapa adegan maupun konfliknya. Namun, tidak seperti Godzilla garapan Edwards yang cukup mampu membagi porsi penceritaan antara karakter-karakter manusia dengan monster-monster yang dihadirkan, Kong: Skull Island justru terasa lebih menginginkan agar penonton berfokus penuh pada karakter Kong dan kehidupan yang berada di sekitarnya. Sebuah pilihan yang kemudian membuat karakter-karakter manusia dalam jalan penceritaan film ini menjadi sama sekali tidak berguna kehadirannya. Continue reading Review: Kong: Skull Island (2017)

Review: Salawaku (2017)

Setelah bertugas sebagai asisten sutradara pada film-film seperti Soekarno: Indonesia Merdeka (Hanung Bramantyo, 2013), About a Woman (Teddy Soeriaatmadja, 2014), Haji Backpacker (Danial Rifki, 2014) dan Another Trip to the Moon (Ismail Basbeth, 2015), Pritagita Arianegara melakukan debut penyutradaraannya dalam Salawaku. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Iqbal Fadly dan Titien Wattimena, Salawaku harus diakui merupakan sebuah debut yang sama sekali tidak mengecewakan. Arianegara memiliki kemampuan yang cukup lihai dalam memilihkan alur sekaligus mengarahkan aktor-aktornya untuk memberikan performa yang tepat pada cerita yang ingin ia hadirkan. Sayangnya, Salawaku gagal untuk mendapat dukungan dasar naskah cerita yang lebih kuat. Hasilnya, meskipun di sepanjang pengisahan film ini menyajikan pemandangan yang indah akan alam sekitar Pulau Seram, Maluku, Salawaku terasa kosong dan tidak mampu memberikan sisi emosional yang lebih mengikat bagi karakter maupun konflik-konflik kisahnya. Continue reading Review: Salawaku (2017)

Review: Interchange (2016)

Interchange adalah film terbaru arahan sutradara asal Malaysia, Dain Iskandar Said, setelah sebelumnya mengarahkan Bunohan: Return to Murder (2012) yang sukses terpilih mewakili Malaysia untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language Film di ajang The 85th Annual Academy Awards. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Said bersama dengan June Tan, Nandita Solomon dan Redza Minhat, Interchange berkisah mengenai serangkaian pembunuhan sadis yang terjadi di Kuala Lumpur, Malaysia. Detektif Man (Shaheizy Sam) yang bertugas untuk menangani kasus tersebut lantas meminta bantuan temannya, Adam (Iedil Putra), yang merupakan mantan fotografer kepolisian di bidang forensik. Adam sebenarnya berniat untuk menolak permintaan Man karena merasa trauma berhubungan dengan deretan mayat korban kejahatan yang harus dihadapi dalam pekerjaannya terdahulu. Namun, perkenalannya dengan seorang wanita misterius, Iva (Prisia Nasution), justru mendorong Adam semakin dalam menyelami misteri kasus pembunuhan berantai tersebut. Sebuah kasus yang berhubungan dengan kisah supranatural yang telah berlangsung selama lebih dari 100 tahun. Continue reading Review: Interchange (2016)

Review: Logan (2017)

Merupakan film ketiga yang berkisah tentang karakter Wolverine setelah X-Men Origins: Wolverine (Gavin Hood, 2009) dan The Wolverine (James Mangold, 2013), Logan melanjutkan kisah perjalanan sang karakter utama (Hugh Jackman) dengan latarbelakang cerita yang kini berada di tahun 2029. Dengan usianya yang semakin menua, Logan tidak lagi tampil segarang seperti penampilannya dahulu sebagai Wolverine. Ia, bersama dengan seorang mutan lain bernama Caliban (Stephen Merchant), kini tinggal di perbatasan Meksiko sambil merawat Charles Xavier (Patrick Stewart) yang, juga karena usianya yang telah lanjut, hidup sebagai sosok pria pikun yang sering tidak mampu mengontrol kekuatannya. Suatu hari, Logan didatangi oleh seorang perawat bernama Gabriela (Elizabeth Rodriguez) yang meminta agar Logan mengawal seorang anak perempuan bernama Laura (Dafne Keen) ke sebuah lokasi yang disebut sebagai Eden. Tidak ingin terlibat dalam sebuah permasalahan baru, Logan memilih untuk menolak permintaan tersebut. Namun, Charles Xavier memaksa Logan untuk mau menerima keberadaan Laura dan mengungkapkan bahwa Laura juga adalah seorang mutan. Logan masih bersikeras dengan pendapatnya hingga kemudian seorang pria bernama Donald Pierce (Boyd Holbrook) datang dan mencoba untuk merebut paksa Laura. Continue reading Review: Logan (2017)

Review: Buka’an 8 (2017)

Menyusul kesuksesan Surat dari Praha (2016) – yang berhasil meraih enam nominasi di ajang Festival Film Indonesia sekaligus terpilih mewakili Indonesia untuk berkompetisi pada kategori Best Foreign Language Film di ajang The 89th Annual Academy Awards yang lalu – Angga Dwimas Sasongko kini menghadirkan Buka’an 8. Berbeda dengan Surat dari Praha dan beberapa film yang ia arahkan sebelumnya seperti Filosofi Kopi (2015) atau Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) yang kental dengan nuansa drama, Buka’an 8 menandai kembalinya Sasongko ke genre komedi romantis seperti yang dahulu pernah ia tampilkan dalam Hari Untuk Amanda (2010). Dan seperti halnya film yang dibintangi Oka Antara, Fanny Fabriana dan Reza Rahadian tersebut, Sasongko mampu mengolah Buka’an 8 menjadi sebuah sajian ringan namun sarat akan sentuhan emosional yang kuat. Sebuah pencapaian yang sekali lagi membuktikan posisi Sasongko sebagai salah satu sutradara film Indonesia yang paling meyakinkan untuk saat ini. Continue reading Review: Buka’an 8 (2017)

Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Ketika pertama kali dirilis pada tahun 2003, buku Jakarta Undercover karangan Moammar Emka berhasil menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pecinta literatur Indonesia, khususnya karena buku tersebut berisi kumpulan cerita yang dengan berani mengangkat berbagai sisi kehidupan seksual warga Jakarta yang selama ini masih belum banyak diketahui atau malah dianggap tabu untuk dibicarakan. Emka kemudian melanjutkan kesuksesan bukunya dengan menerbitkan dua seri Jakarta Undercover lainnya, Jakarta Undercover 2: Karnaval Malam yang dirilis pada tahun 2006 serta Jakarta Undercover 3: Forbidden City yang hadir setahun setelahnya. Layaknya banyak novel sukses lainnya, Jakarta Undercover menarik perhatian produser Erwin Arnada yang berniat untuk mengadaptasi buku tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Dengan bantuan penulis naskah Joko Anwar, versi film dari Jakarta Undercover yang diarahkan oleh Lance dan dibintangi Luna Maya, Lukman Sardi, Fachri Albar serta Christian Sugiono akhirnya dirilis pada awal tahun 2007. Sayang, terlepas dari banyaknya perhatian yang diberikan pada versi film dari Jakarta Undercover akibat deretan permasalahan yang harus dihadapi film tersebut ketika berhadapan dengan Lembaga Sensor Film, Jakarta Undercover mendapatkan reaksi yang tidak begitu menggembirakan, baik dari banyak kritikus film maupun para penonton film Indonesia. Continue reading Review: Moammar Emka’s Jakarta Undercover (2017)

Film reviews and discussion by Amir Syarif Siregar