I Love You Masbro adalah sebuah film drama komedi yang menjadi debut penyutradaraan bagi Raymond Handaya – yang bersama dengan Cassandra Massardi (Bila, 2012) juga bertanggungjawab untuk penulisan naskah cerita film ini. Kisdahnya sendiri bercerita mengenai empat anak laki-laki dari keluarga Salman yang memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang: Bagus (Andhika Pratama) yang memiliki masalah dalam kepercayaan dirinya ketika mendekati seorang wanita, Alim (Ramon Y Tungka) yang kelakuannya jauh dari arti nama yang ia miliki, Rizky (Cecep Reza) yang memiliki kecerdasan begitu terbatas serta Vina (Bobby Samuel) yang bersikap sedikit kewanita-wanitaan. Layaknya sebuah keluarga normal, pertengkaran dan perseteruan selalu terjadi diantara keempatnya. Pun begitu, Bagus, Alim, Rizky dan Vina sebenarnya saling menyadari kalau mereka begitu menyayangi para saudaranya.
Posts Tagged ‘Yurike Prastica’
Review: I Love You Masbro (2012)
Posted: October 29, 2012 in Movies, ReviewTags: Alfie Alfandi, Asian Cinema, Bobby Samuel, Cecep Reza, Epy Kusnandar, I Love You Masbro, Indonesian Cinema, Joehana Sutisna, Mayang Naomi, Movies, Ramon Y Tungka, Raymond Handaya, Review, Tamara Tyasmara, Tya Ariestya, Yurike Prastica
Review: Jakarta Maghrib (2010)
Posted: September 6, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aldo Tansani, Asian Cinema, Asrul Dahlan, Deddy Mahendra Desta, Ence Bagus, Fanny Fabriana, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Jakarta Maghrib, Ki Daus, Lilis, Lukman Sardi, Movies, Review, Reza Rahadian, Ringgo Agus Rahman, Salman Aristo, Sjafrial Arifin, Widi Mulia, Yurike Prastica
Salman Aristo – salah satu nama yang bertanggungjawab atas kehadiran beberapa judul terpopuler di industri perfilman Indonesia, seperti Laskar Pelangi (2008), Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Hari Untuk Amanda (2010) – melakukan debut penyutradaraannya lewat sebuah film omnibus bertajuk Jakarta Maghrib. Dalam film yang juga ia tulis naskahnya ini, Salman berusaha untuk menghadirkan arti dari sebuah waktu maghrib bagi sekelompok kalangan – dalam hal ini, kalangan masyarakat di berbagai sudut kota Jakarta. Lewat lima cerita pendek yang ia hadirkan, Salman dapat dengan bebas menggambarkan maghrib sebagai sebuah waktu transisi dari siang ke malam lewat berbagai genre penceritaan. Usaha yang cukup meyakinkan walau masih belum dapat dikatakan memuaskan secara menyeluruh.













