Ada banyak cara yang dapat Anda lakukan ketika ingin mengadaptasi sebuah karya literatur milik William Shakespeare menjadi sebuah film. Untuk Coriolanus, Ralph Fiennes – aktor watak asal Inggris yang untuk pertama kalinya duduk di kursi penyutradaraan – memindahkan latar belakang waktu dari penceritaan Coriolanus ke masa modern namun masih tetap mempertahankan penggunaan dialog-dialog asli yang terdapat dalam naskah drama panggung yang ditulis oleh Shakespeare pada sekitar tahun 1605 hingga 1608 tersebut. Perpaduan antara unsur klasik dan modern yang diterapkan oleh Fiennes inilah yang kemudian membuat Coriolanus mampu berjalan dinamis dalam menghantarkan penceritaannya.
Posts Tagged ‘Vanessa Redgrave’
Review: The Whistleblower (2011)
Posted: December 19, 2011 in Movies, ReviewTags: Anna Anissimova, Benedict Cumberbatch, David Hewlett, David Strathairn, Monica Bellucci, Movies, Nikolaj Lie Kaas, Rachel Weisz, Review, Roxana Condurache, The Whistleblower, Vanessa Redgrave, William Hope
Rachel Weisz adalah salah satu aktris yang selalu dapat memberikan penampilan terbaik dalam setiap film yang ia bintangi. Sayangnya, setelah kemenangan Weisz di ajang Academy Awards untuk penampilannya dalam film The Constant Gardener (2005), Weisz sepertinya mengalami kesulitan untuk menemukan sebuah material cerita yang dapat mengingatkan banyak orang akan kemampuan mendalamnya dalam memerankan sebuah karakter. The Whistleblower, yang merupakan sebuah film yang menandai debut penyutradaraan dari Larysa Kondracki, kemungkinan akan kembali membuat nama Weisz kembali menjadi perbincangan hangat. Memerankan sesosok karakter yang diinspirasi dari sosok karakter nyata, Weisz berhasil tampil begitu efektif dalam film ini. Sayangnya, jalan cerita yang juga berdasarkan sebuah kisah nyata, ditampilkan dengan begitu minim eksplorasi oleh Kondracki yang menyebabkan The Whistleblower seringkali terasa mampu ditampilkan dengan baik namun gagal diceritakan secara tajam.
Review: Cars 2 (2011)
Posted: October 12, 2011 in Movies, ReviewTags: Bonnie Hunt, Brad Lewis, Brent Musburger, Bruce Campbell, Cars 2, Cheech Marin, Colleen O'Shaughnessey, Darrell Waltrip, David Hobbs, Eddie Izzard, Edie McClurg, Emily Mortimer, Franco Nero, Guido Quaroni, Jason Isaacs, Jeff Garlin, Jeff Gordon, Jenifer Lewis, Jess Harnell, Joe Mantegna, John Lasseter, John Mainier, John Ratzenberger, John Turturro, Katherine Helmond, Larry the Cable Guy, Lewis Hamilton, Lloyd Sherr, Michael Caine, Michael Wallis, Michel Michelis, Movies, Owen Wilson, Patrick Walker, Paul Dooley, Peter Jacobson, Review, Richard Kind, Sig Hansen, Stanley Townsend, Thomas Kretschmann, Tony Shalhoub, Vanessa Redgrave, Velibor Topic
Seandainya Pixar bukanlah sebuah rumah produksi animasi yang menghasilkan film-film seperti The Incredibles (2007), WALL•E (2008), Up (2009) dan Toy Story 3 (2010), mungkin tidak akan ada seorangpun yang memandang sebelah mata terhadap Cars 2. Namun, seperti yang telah diketahui setiap penggemar film di dunia, semenjak merilis Toy Story di tahun 1995, Pixar telah tumbuh menjadi sebuah trademark akan sebuah kualitas film animasi bercitarasa tinggi yang sulit untuk disaingi rumah produksi lainnya. Di empat tahun terakhir, Pixar secara perlahan lebih meningkatkan kualitas penulisan naskah cerita film-filmnya, dengan menjadikan film-film seperti WALL•E, Up dan Toy Story 3 terkadang bahkan lebih mampu menguras emosi penontonnya jika dibandingkan dengan film-film non-animasi yang dirilis pada tahun bersamaan.














