Posts Tagged ‘Tyas Mirasih’

cinta-brontosaurus-header

Diangkat dari buku berjudul sama karya Raditya Dika, Cinta Brontosaurus berkisah mengenai deretan ketidakberuntungan yang dialami oleh seorang pemuda bernama Dika (Raditya Dika) ketika ia harus berhadapan dengan masalah cinta. Ketika hubungan romansanya dengan Nina (Pamela Bowie) berakhir kandas seperti deretan kisah percintaannya yang telah lalu, Dika akhirnya mendeklarasikan bahwa ia tidak akan lagi mau merasakan yang namanya jatuh cinta. Dika bahkan menyamakan perasaan cinta tersebut layaknya seekor brontosaurus yang suatu saat akan menemukan masa kadaluarsanya… dan kemudian menghilang begitu saja. Pernyataan tersebut jelas ditolak oleh sahabat sekaligus agen penerbitan Dika, Kosasih (Soleh Solihun), yang disaat bersamaan sedang menjalin hubungan romansa dengan Wanda (Tyas Mirasih). Kosasih lantas berinisiatif untuk memperkenalkan Dika dengan beberapa gadis yang dinilainya sesuai dengan kriteria pemuda tersebut.

(more…)

Nama sutradara film Mama Cake, Anggy Umbara, mungkin masih cukup asing ditelinga para penikmat film Indonesia. Di industri hiburan tanah air, nama Anggy memang lebih dikenal sebagai seorang sutradara puluhan video musik sekaligus sebagai salah satu personel kelompok musik Purgatory – kelompok musik beraliran death metal asal Jakarta yang lirik lagunya seringkali membawakan pesan-pesan relijius. Tidak mengherankan jika kemudian Mama Cake – film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Anggy bersama Hilman Mutasi dan Sofyan Jambul – juga memiliki nafas relijius yang kuat di berbagai sudut penceritaannya. Namun untungnya, dengan pengemasan cerita dan visual yang lebih atraktif, Anggy cukup berhasil menghantarkan sebuah film drama komedi bernuansa relijius yang mungkin seharusnya dipelajari Chaerul Umam agar film-filmnya mampu lebih banyak menarik perhatian penonton yang berusia lebih muda.

(more…)

Dalam promosinya, jajaran pemeran Ratu Kostmopolitan mengungkapkan bahwa membuat film ini adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Hal ini tidak lain disebabkan karena mereka merasa bahwa naskah cerita dari Ratu Kostmopolitan menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film lainnya. Selain membahas mengenai kehidupan para anak perantauan bertahan di kota besar seperti Jakarta, film ini diceritakan juga dijanjikan untuk menghadirkan nuansa komedi yang dipadupadankan dengan aksi laga, drama dan disempali dengan saratnya pesan-pesan sosial. Tentu saja, menyenangkan bagi jajaran pemerannya bukan berarti bahwa film ini akan sebegitu menyenangkannya bagi penonton.

(more…)

Kembali ke awal tahun 2000-an, tepatnya di tahun 2001, ketika dunia perfilman Indonesia masih berada di dalam era kegelapan, nama Rizal Mantovani sempat mencuat ke permukaan, setelah karyanya, Jelangkung, berhasil menyusul Petualangan Sherina menjadi bibit-bibit awal kebangkitan kembali film Indonesia. Film horror yang digarap dengan sederhana namun sangat efektif tersebut bergulir secara perlahan namun pasti memperoleh banyak penonton di layar bioskop, bahkan memicu tren munculnya berbagai tayangan berbau klenik, tak hanya di layar bioskop, namun juga di layar televisi nasional.

(more…)