Disutradarai oleh Conor Allyn (Merah Putih III: Hati Merdeka, 2011), yang juga menulis naskah cerita serta menjadi produser film ini bersama ayahnya, Rob Allyn, Java Heat dibuka dengan berjalannya proses interogasi yang berjalan antara seorang petugas kepolisian Republik Indonesia, Letnan Hashim (Ario Bayu), dengan seorang pria misterius asal Amerika Serikat, Jake Travers (Kellan Lutz), yang dijadikan sebagai saksi dalam peristiwa pemboman bunuh diri yang telah menewaskan seorang puteri Kerajaan Jawa, Sultana (Atiqah Hasiholan). Walaupun Jake mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah seorang turis yang datang ke Indonesia sebagai bagian pembelajaran sejarah seni negara-negara Asia Tenggara yang sedang ia dalami, namun Hashim menaruh curiga bahwa Jake memiliki keterkaitan dalam peristiwa pemboman tersebut.
Posts Tagged ‘Teuku Rifnu Wikana’
Review: Java Heat (2013)
Posted: April 26, 2013 in Movies, ReviewTags: Agung Udijana, Ario Bayu, Astri Nurdin, Atiqah Hasiholan, Brent Duke, Conor Allyn, Frans Tumbuan, Java Heat, Kellan Lutz, Mickey Rourke, Mike Duncan, Mike Lucock, Movies, Nick McKinless, Rahayu Saraswati, Review, Rio Dewanto, Rudy Wowor, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusodewo, Uli Auliani, Verdi Solaiman
Review: Belenggu (2013)
Posted: March 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Abimana Arya, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Avrilla, Belenggu, Bella Esperance, Davina Veronica, Imelda Therinne, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Laudya Cynthia Bella, Masayu Anastasia, Movies, Review, Teuku Rifnu Wikana, Upi, Verdi Solaiman
Menilai sekilas berdasarkan presentasi cerita dan penampilan visualnya, adalah sangat mudah untuk menduga bahwa Belenggu adalah hasil sebuah petualangan lain dari seorang Joko Anwar dalam melanjutkan kisah-kisah berdarahnya yang sebelumnya disajikan lewat film-film seperti Kala (2007) maupun Pintu Terlarang (2009). Salah! Terlepas dari gaya presentasi yang demikian serupa, Belenggu sendiri merupakan karya perdana Upi (Oh Tidak…!, 2011) dalam menyutradarai sebuah film thriller. Dan harus diakui, Upi memiliki kemampuan yang cukup dalam menghadirkan deretan misteri yang akan terus mampu menarik perhatian setiap penggemar film-film sejenis. Sayangnya, secara perlahan, deretan misteri tersebut menjadi terlalu rumit dan kemudian menyebabkan Upi terlihat terjebak sehingga akhirnya kebingungan untuk memberikan jalan penyelesaiannya.
Review: Gending Sriwijaya (2013)
Posted: January 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Agus Kuncoro, Anwar Fuady, Asian Cinema, Early Ashy, Gending Sriwijaya, Goeteng, Hafsary Thanial Dinoto, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Julia Perez, Mathias Muchus, Movies, Oim Ibrahim, Qausar Harta Yudana, Review, Sahrul Gunawan, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Yati Surachman
In case you’ve been living under the rock lately, Hanung Bramantyo telah menguasai layar bioskop Indonesia semenjak bulan Agustus 2012 lalu. Dimulai dengan merilis Perahu Kertas – dan sekuelnya pada bulan Oktober, memproduseri Habibie & Ainun yang dirilis pada awal Desember dan menjadi film dengan pendapatan terbesar sepanjang tahun lalu serta bersama Hestu Saputra menyutradarai Cinta Tapi Beda yang dirilis pada akhir Desember dan menjadi perbincangan masyarakat luas akibat tema ceritanya yang dinilai kontroversial hingga saat ini. Tahun 2012 jelas adalah salah satu tahun keemasan Hanung. Di awal tahun 2013 ini, Hanung kembali merilis sebuah film baru, Gending Sriwijaya, yang kali ini berusaha untuk menampilkan kemampuannya dalam menggarap sebuah film kolosal. Akankah film ini mampu mencapai kesuksesan layaknya film-film drama yang diarahkan oleh Hanung Bramantyo sebelumnya?
Review: Kita Versus Korupsi (2012)
Posted: June 24, 2012 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Alaxandra Natasha, Amanina Datau, Anto G, Asian Cinema, Chairun Nissa, Dominique Diyose, Emil Heradi, Icang S. Tisnamiharja, Indonesian Cinema, Ine Febriyanti, Kita Versus Korupsi, Lasja F. Susatyo, Medina Kamil, Movies, Nasha Abigail, Nicholas Saputra, Norman Akyuwen, Ranggani Puspandya, Revalina S Temat, Review, Ringgo Agus Rahman, Siska Selvi Dawsen, Teuku Rifnu Wikana, Tieneke Purnamasari, Tizza Radia, Tora Sudiro, Verdi Solaiman
Kita Versus Korupsi adalah sebuah film omnibus, yang berdasarkan judul yang digunakan oleh film ini, menceritakan mengenai berbagai hal yang menyinggung mengenai tindak kasus korupsi – sebuah penyakit sosial dan hukum yang saat ini sedang mewabah dengan begitu hebatnya di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, mungkin akan jauh dari bayangan banyak orang, Kita Versus Korupsi tidaklah berniat untuk bercerita secara investigatif mengenai proses perlawanan terhadap kasus-kasus besar korupsi di negeri ini. Empat film pendek yang ada dalam satuan Kita Versus Korupsi lebih ingin menunjukkan bagaimana sebenarnya sebuah tindakan korupsi sebenarnya dapat berada di berbagai sudut kehidupan keseharian penontonnya.
Review: Sang Penari (2011)
Posted: December 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Dewi Irawan, Happy Salma, Hendro Djarot, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Movies, Ni Made Aurel, Oka Antara, Prisia Nasution, Review, Sang Penari, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Yayu Unru, Zainal Abidin Domba
Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.
Review: Laskar Pemimpi (2010)
Posted: October 2, 2010 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Candil, Dimas Projosujadi, Dwi Sasono, Gading Marten, Gugum, Indonesian Cinema, Laskar Pemimpi, Marcell Siahaan, Marwoto, Masayu Anastasia, Moch Zaid Assiddiq, Monty Tiwa, Movies, Odie, Oon, Review, Shanty, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Udjo, Yosi
Laskar Pemimpi adalah sebuah kasus yang cukup aneh. Disutradarai dan dituliskan naskahnya oleh Monty Tiwa, film ini menjadi film kedua di tahun 2010 setelah Merah Putih II: Darah Garuda yang jalan ceritanya mengisahkan mengenai perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan militer Belanda di masa agresinya yang kedua. Dengan meletakkan nama grup musik, Project Pop, yang dikenal sering menyanyikan lagu-lagu bernuansa komedi, tentu saja Laskar Pemimpi merupakan film yang jauh berbeda isi jalan ceritanya jika dibandingkan dengan film yang disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Connor Allyn tersebut. Tidak hanya jalan ceritanya yang berada di wilayah yang berbeda, kualitas keduanya juga berada pada tingkatan perbedaan yang cukup jauh.
Review: Melodi (2010)
Posted: June 14, 2010 in Movies, ReviewTags: Andre Hehanusa, Asian Cinema, Daus Separo, Djenar Maesa Ayu, Emir Mahira, Fetty Vera, Harry Dagoe Suharyadi, Indonesian Cinema, Mario Maulana, Melodi, Movies, Nadia Vella, Nadya Amanda, Review, Teuku Rifnu Wikana, TJ, Yasamin Jasem
Film musikal mungkin adalah salah satu genre yang paling menantang untuk dipasarkan di pasar perfilman Indonesia. Bukan hanya karena penontonnya yang segmented, dari sisi proses produksi, proses pembuatan film ber-genre ini memang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada film-film biasa. Tidak hanya harus memperhatikan sisi dramatisasi, sang pembuat film juga diharuskan menyusun banyak komposisi lagu yang sesuai dengan jalan cerita untuk ditampilkan di sepanjang film. Mungkin karena itu pula genre musikal di Indonesia lebih difokuskan pada pangsa film anak-anak, seperti yang dilakukan Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua, yang akan lebih mudah menerima cerita yang disertai dengan iringan lagu-lagu berirama ceria.



















