Posts Tagged ‘Sylvia Fully R’

manusia-setengah-salmon-header

Mudah-mudahan Anda masih belum merasa jenuh dengan kehadiran Raditya Dika. Hanya dalam jeda beberapa bulan setelah merilis Cinta Brontosaurus dan Cinta dalam Kardus, sang raja stand up comedy Indonesia kini hadir lagi dalam film ketiganya di tahun 2013, Manusia Setengah Salmon. Seperti halnya Cinta Brontosaurus, Manusia Setengah Salmon diadaptasi dari buku populer berjudul sama karya Raditya Dika yang juga sekaligus menjadi sekuel bagi Cinta Brontosaurus. Layaknya sebuah sekuel, Manusia Setengah Salmon masih berbagi begitu banyak kemiripan dengan seri pendahulunya: Anda masih akan melihat karakter-karakter yang sama, gaya humor khas Raditya Dika yang familiar serta sederetan dialog bernuansa puitis yang jelas akan segera menjadi kutipan favorit para penonton remaja. Namun, berbeda dengan Cinta Brontosaurus, Raditya Dika mampu memberikan struktur jalan cerita yang lebih terpadu pada Manusia Setengah Salmon sehingga membuatnya menjadi lebih matang dalam bercerita dan jauh lebih menyenangkan untuk diikuti.

(more…)

308-header

Heeeee’s baaaack! Jose Poernomo kembali hadir dengan membawakan sebuah film horor yang, tentu saja, berkisah tentang berbagai lokasi yang dianggap memiliki aura mistis di berbagai wilayah Indonesia. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Riheam Junianti serta aktris Shandy Aulia setelah sebelumnya sukses dalam Rumah Kentang (2012), lewat 308, Jose mencoba untuk bercerita mengenai keberadaan sebuah kamar hotel misterius dan keterkaitannya dengan salah satu tokoh mistis legendaris yang sebenarnya telah dieksplorasi oleh banyak film horor Indonesia: Nyi Roro Kidul. Sejujurnya, Jose Poernomo pernah hadir dengan kualitas film yang jauh lebih buruk dari 308. Namun tetap saja, dengan dukungan penggalian naskah cerita dan penampilan jajaran pemeran yang begitu minimalis, masih terasa sulit untuk dapat memberikan kredit lebih bagi film ini.

(more…)

honeymoon-header

Jika saja kualitas sebuah film hanya dinilai dari penampilan fisik para jajaran pengisi departemen aktingnya, maka Honeymoon mungkin akan menjadi salah satu film terbaik yang pernah diproduksi… sepanjang masa. Layaknya film produksi Starvision Plus lainnya, Operation Wedding, yang dirilis beberapa bulan lalu, Honeymoon jelas terlihat merupakan sebuah film yang berusaha untuk menarik perhatian para penonton muda dengan mengedepankan jajaran pemeran berwajah atraktif yang memang cukup dikenal bagi demografi sasaran film ini. Wellhere comes the bad news: atraktifnya wajah para pemeran sebuah film sama sekali tidak akan membantu meringankan beban penderitaan (beberapa) penonton dalam mengikuti eksekusi dari sebuah naskah cerita yang benar-benar dangkal… khususnya bila, seperti yang terjadi pada kasus film arahan Findo Purnomo HW (Fallin’ in Love, 2012) ini, jajaran pemeran berwajah atraktif tersebut juga sama sekali tidak mau berusaha untuk berakting dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan.

(more…)

operation-wedding-header

Setelah merilis Sampai Ujung Dunia dan Test Pack: You’re My Baby pada tahun lalu – yang berhasil membuktikan bahwa film drama dewasa Indonesia mampu dikemas secara ringan namun tetap berhasil tampil emosional, Monty Tiwa kembali hadir dengan film terbarunya yang kali ini bernafaskan drama komedi, Operation Wedding. Dengan departemen akting yang diisi oleh jajaran pemeran muda berbakat di industri film Indonesia, Operation Wedding sepertinya akan dapat dengan mudah menjadi sebuah film drama komedi yang menghibur dan, tentu saja, menarik perhatian banyak penonton. Well… para jajaran pemeran muda dengan penampilan sangat atraktif tersebut memang mampu membuat Operation Wedding menjadi sangat menyenangkan untuk dilihat. Namun ketika berhubungan dengan jalan cerita yang mereka lakoni… buruk mungkin hanya satu-satunya kesan yang dapat disematkan pada film ini.

(more…)

Membagi sebuah penceritaan film menjadi dua bagian jelas bukanlah sebuah hal yang baru di industri film dunia. Beberapa franchise besar yang mendasarkan kisahnya dari sebuah novel – seperti Harry Potter, The Twilight Saga sampai The Hobbit – telah (atau dalam kasus The Hobbit, akan) melakukannya dengan dasar alasan bahwa agar seluruh detil dan konflik yang ada di dalam jalan cerita dapat ditampilkan dengan baik. Tentu saja, mereka yang skeptis akan berpendapat bahwa keputusan tersebut diambil tidak lebih hanyalah karena alasan komersial belaka – dibuat agar rumah produksi dapat meraih keuntungan dua kali lebih besar dari satu material cerita yang sama. Well… beberapa pendapat skeptis tersebut mungkin saja benar. Namun, bagaimanapun, ketika berada di tangan sutradara yang tepat, sebuah material cerita yang memang sengaja diperpanjang akan setidaknya mampu tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi penonton untuk menyaksikannya.

(more…)

Wajar jika begitu banyak orang memiliki ekspektasi yang tinggi bagi Perahu Kertas. Selain diarahkan oleh Hanung Bramantyo – salah seorang sutradara film Indonesia yang dikenal seringkali mampu memadukan unsur kualitas dengan nilai jual komersial pada setiap karyanya, naskah cerita Perahu Kertas sendiri diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Dewi Lestari yang memiliki tingkat penjualan serta jumlah penggemar yang cukup tinggi. Layaknya setiap film yang naskah ceritanya mengadaptasi sebuah novel, jelas merupakan sebuah tantangan besar bagi Hanung Bramantyo dan Dewi Lestari untuk menghasilkan sebuah karya adaptasi yang benar-benar mampu menangkap esensi dari isi novel yang telah membuat banyak orang jatuh cinta tersebut. Lalu… apakah mereka dapat melakukannya?

(more…)