Posts Tagged ‘Sofía Vergara’

The Three Stooges adalah trio komedian asal Amerika Serikat yang dibentuk pada tahun 1925 – dengan nama Ted Healy and His Southern Gentlemen, sebelum akhirnya menggunakan nama The Three Stooges pada tahun 1934 – dan berhasil memperoleh popularitas mereka pada pertengahan abad ke-20 dengan menggunakan deretan lelucon yang seringkali mengedepankan aktivitas kekerasan fisik – atau yang lebih akrab dikenal sebagai slapstick comedy. Walau sering mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus, gaya penceritaan slapstick comedy yang dibawa oleh The Three Stooges terbukti tetap mampu disukai banyak penonton hingga akhirnya kelompok tersebut pensiun pada tahun 1979. Tak pelak, The Three Stooges memberikan banyak inspirasi bagi banyak komedian dan pembuat film modern, termasuk The Farrelly Brothers yang telah berusaha untuk mengangkat kembali The Three Stooges ke layar lebar semenjak satu dekade yang lalu.

(more…)

Jadi… darimana kita akan mulai membicarakan mengenai New Year’s Eve? Garry Marshall sebenarnya pernah dikenal sebagai seorang sutradara yang selalu berhasil menghantarkan film-film hiburan yang cukup memorable. Film-filmnya memang tidak pernah dilabeli sebagai sebuah karya yang mampu bersaing di ajang penghargaan film dunia, namun siapapun tentu tidak akan dapat menyangkal kualitas hiburan yang dapat dihantarkan film-film semacam Beaches (1988), Pretty Woman (1990) atau The Princess Diaries (2001). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kreativitas Marshall sepertinya gagal untuk turut berkembang. Akhirnya, seperti imej yang ia peroleh sekarang, Marshall lebih sering menghadirkan film-film drama romansa dengan deretan bintang besar Hollywood namun dengan kualitas penceritaan yang cenderung mengecewakan.

(more…)

Lima tahun kemudian, banyak orang masih merasa penasaran mengapa Happy Feet (2006) mampu merebut Academy Awards di kategori Best Animated Feature dari tangan film-film animasi yang lebih superior seperti Cars (2006) dan Monster House (2006). Film animasi perdana karya sutradara asal Australia, George Miller, tersebut sebenarnya bukanlah sebuah karya yang buruk. Jalan cerita yang berkisah mengenai usaha seekor penguin untuk membuktikan kemampuan dirinya kepada orangtua dan anggota kelompoknya – dan disertai dengan banyak tarian dan nyanyian – mampu dirangkai dengan tampilan visual yang apik. Namun, jika dibandingkan tata visual yang dicapai Disney/Pixar lewat Cars – walaupun dituding memiliki jalan cerita yang tergolong  lemah – serta usaha Sony Pictures untuk menghadirkan sebuah kisah horor yang ternyata mampu bekerja dengan baik pada Monster House, Happy Feet jelas berada pada beberapa tingkatan di bawah dua film animasi kompetitornya tersebut.

(more…)

Well… penonton seharusnya tahu kualitas seperti apa yang akan mereka dapatkan ketika memilih untuk menyaksikan sebuah film yang disutradarai oleh seorang sutradara yang sebelumnya menghasilkan film-film semacam Scooby-Doo 2: Monsters Unleased (2004) dan Beverly Hills Chihuahua (2008). Bukan berarti bahwa film-film yang diarahkan oleh Raja Gosnell adalah film-film berkualitas buruk. Namun ketika Gosnell mengarahkan sebuah film yang bertendensi kuat untuk dipasarkan kepada para penonton muda dan mereka yang memang menggemari film-film keluarga sederhana, Gosnell memang kemudian mengarahkan filmnya secara keseluruhan hanya untuk dapat dinikmati oleh para target penonton film tersebut: dengan jalan cerita yang aman bahan cenderung klise, guyonan-guyonan khas film keluarga, karakter-karakter yang mengalahkan keluguan dari karakter-karakter protagonis di film-film animasi Walt Disney serta kemungkinan besar menutup adanya kemungkinan bagi para penonton dewasa untuk dapat menikmati film tersebut.

(more…)