Dengan naskah cerita yang ditulis sendiri oleh Titien Wattimena, Hello Goodbye berkisah mengenai pertemuan antara seorang wanita yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Busan, Korea Selatan bernama Indah (Atiqah Hasiholan) dengan seorang pelaut asal Indonesia bernama Abi (Rio Dewanto). Layaknya banyak kisah drama romansa lainnya, pertemuan awal Indah dan Abi tidak berlangsung dengan mulus. Pertemuan keduanya dimulai ketika Indah ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi Abi – yang terpaksa diturunkan oleh kapten kapalnya karena menderita penyakit jantung yang tidak memungkinkan dirinya untuk melakukan perjalanan laut lebih lama. Awalnya, Abi terlihat sebagai beban tugas yang begitu menyulitkan bagi Indah. Namun, secara perlahan, Indah mulai menyadari bahwa Abi adalah sosok perbedaan dalam hidupnya yang selama ini telah begitu ia nantikan kehadirannya.
Posts Tagged ‘Sapto Soetarjo’
Review: Hello Goodbye (2012)
Posted: December 3, 2012 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Eru, Hello Goodbye, Indonesian Cinema, Kenes Andari, Khiva Iskak, Movies, Review, Rio Dewanto, Sapto Soetarjo, Titien Wattimena, Verdi Solaiman
Review: Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)
Posted: September 24, 2012 in Movies, ReviewTags: Aksan Sjuman, Alex Abbad, Arie Dagienkz, Asian Cinema, Bobby Rachman, Cahaya di Atas Cahaya, Christine Hakim, Emi Lemu, Fanny Fabriana, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Lila Azizah, Masayu Anastasia, Movies, Rayya, Rayya Cahaya di Atas Cahaya, Review, Richard Oh, Rico Marpaung, Sapto Soetarjo, Tino Saroengallo, Tio Pakusadewo, Titi Sjuman, Vedie Bellamy, Verdi Solaiman, Viva Westi
Beberapa saat setelah perilisan Mama Cake, penonton film Indonesia kembali “dianugerahi” dengan dirilisnya sebuah road movie – film yang menitikberatkan kisahnya pada perjalanan yang dilakukan oleh para karakter ceritanya dari satu lokasi ke lokasi lainnya – lain yang berjudul Rayya, Cahaya di Atas Cahaya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Viva Westi, bersama dengan Emha Ainun Najib, Rayya, Cahaya di Atas Cahaya disusun dengan deretan dialog benuansa puitis yang mungkin akan membuat sebagian penontonnya merasa jenuh. Pun begitu, karakter-karakter kuat yang mengisi jalan cerita film ini berhasil membuat Rayya, Cahaya di Atas Cahaya menjadi sebuah film yang begitu kuat dalam menyampaikan jalan ceritanya.
Review: Arisan! 2 (2011)
Posted: December 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aida Nurmala, Amink, Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Cut Mini, Cynthia Lamusu, Edwan Handoko, Edward Gunawan, Indonesian Cinema, Isabelle Patrice, Iwet Ramadhan, Jajang C Noer, Keiko Marwan, Lily Harahap, Melissa Karim, Movies, Nia Dinata, Pong Hardjatmo, Rachel Maryam, Renny Sutiyoso, Review, Ria Irawan, Rinaldy A. Yunardi, Rio Dewanto, Salmaa, Salwaa, Sapto Soetarjo, Sarah Sechan, Shanty, Shelomita, Stephanie, Surya Saputra, Titi DJ, Tora Sudiro, Wilza Lubis
Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.














