Posts Tagged ‘Rudi Soedjarwo’

pasukan-kapiten-header

Tidak lama berselang setelah merilis Langit ke 7 beberapa waktu yang lalu, sutradara Rudi Soedjarwo kini merilis Pasukan Kapiten yang merupakan film berorientasi keluarganya setelah sebelumnya merilis Lima Elang pada tahun lalu. Lewat Pasukan Kapiten, Rudi sepertinya ingin bercerita lebih dalam mengenai kegiatan bullying – sebuah bentuk kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki untuk menyakiti sekelompok atau seseorang sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya – yang banyak terjadi di keseharian anak-anak saat ini. Sayangnya, naskah cerita yang ditulis oleh Tumpal Tampubolon tidak sepenuhnya mampu bercerita penuh mengenai tema bullying itu sendiri dan justru tampil lebih kuat dalam menghantarkan kisah hubungan ayah dan anak yang menjadi cerita pendukung dalam film ini.

(more…)

Sutradara Rudi Soedjarwo kembali ke ranah drama romansa lewat film terbarunya, Langit ke 7. Film yang naskah ceritanya ditulis oleh Virra Dewi ini mengisahkan mengenai kehidupan seorang model dan bintang iklan terkenal, Dania (Taskya Giantri Namya), yang saat ini sedang berada di atas puncak karirnya – sebuah situasi yang mengharuskannya untuk terbiasa dikejar-kejar oleh para wartawan berita infotainment. Dikejar-kejar oleh awak media sebenarnya bukanlah masalah besar bagi Dania. Namun, ketika ayahnya (Pong Hardjatmo) yang mulai beranjak tua dan sakit-sakitan meminta dirinya untuk berkenalan dengan seorang pria yang akan dijodohkan untuknya, Dania mulai merasa uring-uringan karena jatuh cinta dan menikah jelas bukanlah sesuatu hal yang amat dinantikannya di usianya yang masih muda tersebut.

(more…)

Setelah Lima Elang, petualangan Rudi Soedjarwo dalam mengeksplorasi kemampuannya dalam mengarahkan film-film yang temanya sebagian besar ditujukan bagi para penonton muda dan mereka yang menggemari film-film keluarga berlanjut dalam Garuda Di Dadaku 2. Namun, kali ini Rudi harus mengemban beban yang cukup berat dalam mengarahkan sebuah sekuel dari film yang berhasil menjadi salah satu film dengan raihan jumlah penonton terbesar ketika dirilis pada tahun 2009 lalu. Bukan, beban utama Rudi bukan terletak pada cara dirinya untuk mengajak kembali sejumlah besar penonton tersebut untuk kembali menyaksikan sekuel dari Garuda di Dadaku. Rudi kini harus mengambil tampuk kepemimpinan produksi dari tangan seorang Ifa Isfansyah yang telah berhasil meramu naskah karya Salman Aristo yang sebenarnya terasa begitu familiar namun tetap berhasil tampil dengan daya pikat yang penuh. Dan hal itu jelas bukanlah sebuah tugas yang mudah.

(more…)

Mengarahkan sebuah film keluarga bukanlah sebuah hal yang mudah. Secara universal, film-film dari genre ini kebanyakan akan dimanfaatkan sebagai sebuah media untuk menghibur para penonton muda. Ini yang kemudian menyebabkan banyak pembuat film secara mudah menghadirkan jalan cerita dengan tingkat intelejensia yang sepertinya sengaja untuk ‘direndahkan’ ketika mereka memproduksi sebuah film keluarga. Film keluarga yang cerdas jelas merupakan film yang tetap mampu menghibur para penonton muda namun tidak lantas membuat para penonton yang lebih dewasa merasa diasingkan dan seperti terjebak dalam jalan cerita yang kekanak-kanakan (baca: tidak masuk akal). Lalu, bagaimana Rudi Soedjarwo – yang selama ini lebih sering mengarahkan jalan cerita berorientasi remaja dan dewasa – dapat mengarahkan sebuah film keluarga?

(more…)

Ketika Jaleswari (Marcella Zalianty) ditugaskan oleh pimpinan perusahaannya (Amroso Katamsi) untuk menyelidiki mengapa kegiatan Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan perusahaan mereka tidak berjalan dengan lancar pada sebuah perkampungan di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat, Jaleswari tentu saja tidak akan mengharapkan bahwa ia akan tertahan lama di wilayah tersebut. Jaleswari, seorang wanita yang terbiasa hidup dengan gaya hidup modern dan baru saja kehilangan suaminya sekaligus menyadari bahwa ia sedang hamil, hanya ingin agar masalah tersebut cepat selesai. Karenanya, walau sang ibu (Tetty Liz Indriati) dengan tegas meminta agar Jaleswari menolak penugasan tersebut, Jaleswari tetap bersikukuh untuk pergi ke wilayah terpencil itu selama dua minggu. Jauh dari peradaban dan keluarganya di Jakarta, Jaleswari akan segera mengenal sejauh mana batas ketahanan dirinya dalam mengenal dan bertahan dalam sebuah lingkungan baru.

(more…)