Tidak mengherankan memang, ketika Surat Kecil Untuk Tuhan yang dirilis beberapa bulan yang lalu mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para penonton film Indonesia – film tersebut hingga saat ini masih tercatat sebagai film dengan raihan jumlah penonton terbesar untuk tahun 2011 – para produser lainnya kemudian mencoba untuk mengeruk keuntungan yang sama dengan cara menghadirkan formula yang sejenis. Kesuksesan Surat Kecil Untuk Tuhan, yang naskah ceritanya disusun berdasarkan novel berjudul sama karya Agnes Danovar, terjadi karena film tersebut berhasil menerapkan formula tearjerker yang tepat untuk para penontonnya.
Posts Tagged ‘Rima Melati’
Review: Ayah, Mengapa Aku Berbeda? (2011)
Posted: November 18, 2011 in Movies, ReviewTags: Aji Fernandez, Asian Cinema, Ayah Mengapa Aku Berbeda, Dinda Hauw, Fendy Chow, Findo Purnomo HW, Indonesian Cinema, Indra Sinaga, Kiki Azhari, Movies, Rafi Cinoun, Review, Rheina Mariyana, Rima Melati, Surya Saputra
Review: Satu Jam Saja (2010)
Posted: October 8, 2010 in Movies, ReviewTags: Andhika Pratama, Ario Rubbik, Asian Cinema, Imei Liem, Indonesian Cinema, Marini, Movies, Rano Karno, Revalina S Temat, Review, Rima Melati, Rini Yulianti, Satu Jam Saja, Vino G. Bastian, Widyawati
Ada yang salah dalam Satu Jam Saja. Sebagai sebuah film drama romantis, dengan jajaran aktor dan aktris yang harus diakui cukup menjanjikan, film ini ternyata tidak terlalu mampu banyak berbicara dalam menuturkan kisahnya untuk dapat menyentuh setiap penontonnya. Satu Jam Saja malah berakhir sebagai sebuah drama percintaan antara tiga karakter yang cenderung membosankan dan terlalu melelahkan untuk diikuti.
Review: Bebek Belur (2010)
Posted: April 12, 2010 in Movies, ReviewTags: Ade Firman Hakim, Adrianto Sinaga, Asian Cinema, Bajaj, Bebek Belur, Deddy Mizwar, Didi Petet, GIGI, Ida Kusumah, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Joshua Pandelaki, Kaharudin Syah, Laela Sari, Mario Irwinsyah, Movies, Nana S Patah, Nungki Kusumastuti, Review, Rima Melati, Rini Yulianti, Sam Bimbo, Sigit Hardadi, Slamet Rahardjo, Thessa Kaunang, Torro Margens, Ully Artha, Valentino
Dying is easy. Comedy is hard. Untuk membuat sekelompok orang tertawa ketika menyaksikan Anda melucu adalah lebih sulit daripada untuk membuat sekelompok orang bersedih ketika melihat Anda sengsara. Khususnya di Indonesia, dimana hampir seluruh film komedi yang ada, harus diasosikan dengan imej wanita-wanita berpakaian minim dan guyonan-guyonan (yang tidak lucu) kasar tentang seks.















