Posts Tagged ‘Richard Jenkins’

Turbo-header

Film teranyar rilisan DreamWorks Animation, Turbo, yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi David Soren, berkisah mengenai seekor siput kebun bernama Theo (Ryan Reynolds) – atau yang lebih memilih untuk dipanggil dengan sebutan Turbo, yang bermimpi untuk menjadi pembalap terbaik di dunia, seperti halnya sang idola, Guy Gagne (Bill Hader) – seorang manusia. Masalahnya… well… Turbo adalah seekor siput yang semenjak lama memiliki takdir sebagai salah satu hewan dengan pergerakan tubuh paling lambat di dunia. Obsesinya tersebut kerap membuat Turbo menjadi bahan cemoohan bagi komunitas siput yang berada di sekitarnya, termasuk dari sang kakak, Chet (Paul Giamatti). Hal itulah yang kemudian mendorong Turbo untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya dan memilih untuk mencari jalan hidupnya sendiri.

(more…)

white-house-down-header

Dengan naskah yang ditulis oleh James Vanderbilt (The Amazing Spider-Man, 2012), White House Down berkisah mengenai John Cale (Channing Tatum), seorang anggota kepolisian ibukota Amerika Serikat yang kini bertugas sebagai salah seorang pengawal dari ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Eli Raphelson (Richard Jenkins). Demi untuk menyenangkan puterinya, Emily (Joey King), yang begitu menggemari dunia politik, John kemudian berusaha untuk bergabung bersama dengan Dinas Rahasia Amerika Serikat. Sayang, sesi wawancara bersama Agent Carol Finnerty (Maggie Gyllenhaal) kemudian mengubur impian tersebut ketika John dinyatakan masih belum dapat memenuhi kualifikasi pegawai yang sedang dibutuhkan oleh Dinas Rahasia Amerika Serikat. Tidak ingin mengecewakan puterinya yang turut hadir dalam proses wawancara tersebut, John lalu mengajak Emily untuk mengikuti tur mengelilingi White House.

(more…)

the-company-you-keep-header

Perbincangan mengenai dunia politik sepertinya tidak akan dapat dijauhkan dari setiap film yang diarahkan oleh Robert Redford. Setelah sebelumnya merilis Lion for Lambs (2007) dan The Conspirator (2010), kini Redford menghadirkan The Company You Keep, sebuah thriller politik dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Lem Dobbs (Haywire, 2011) dari novel berjudul sama karya Neil Gordon. Menyinggung masalah politik, terorisme hingga perkembangan dunia jurnalisme modern, The Company You Keep jelas memiliki momen-momen dimana film ini mampu tampil sangat meyakinkan dalam ceritanya, khususnya berkat dukungan jajaran pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan baik. Namun sayangnya, seperti yang juga dapat dirasakan pada dua film Redford sebelumnya, The Company You Keep secara perlahan kehilangan intensitas penceritaannya justru di saat-saat film ini membutuhkan kapasitas penceritaan yang lebih kuat – hal yang membuat The Company You Keep kemudian berakhir dengan datar dan terkesan begitu… pointless.

(more…)

Killing-Them-Softly-header

Membutuhkan waktu lima tahun bagi sutradara asal Australia, Andrew Dominik, untuk memproduksi dan merilis film ketiganya, Killing Them Softly, untuk mengikuti kesuksesan kritikal The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford yang dirilis pada tahun 2007 lalu. Sama seperti film keduanya tersebut – maupun film perdananya, Chopper (2000) – Killing Them Softly masih memiliki alur penceritaan yang berfokus pada karakter-karakter yang hidup dalam kelamnya dunia kriminal. Diadaptasi sendiri oleh Dominik dari novel karya George V. Higgins yang berjudul Cogan’s Trade (1974), Killing Them Softly jelas masih akan mampu memuaskan mereka yang memang menggemari cara Dominik dalam mengarahkan sebuah cerita yang dipenuhi dengan dialog-dialog tajam, meskipun, harus diakui, Killing Them Softly tidak memiliki plot cerita sekuat The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford yang fenomenal tersebut.

(more…)

Jack-Reacher-header

Jack Reacher adalah nama karakter fiksi yang menjadi tokoh utama dalam 17 novel karya penulis asal Inggris, Lee Child. Novel pertama dalam seri Jack Reacher diberi judul Killing Floor dan dirilis pada Maret 1997. Versi film Jack Reacher yang disutradarai oleh Christopher McQuarrie dan dibintangi oleh Tom Cruise – yang sebelumnya sempat bekerjasama dalam Valkyrie (2008) – sendiri merupakan adaptasi seri kesembilan dalam seri novel tersebut, One Shot (2005). Tidak seperti penampilan yang ingin dijual oleh poster maupun trailer film ini – bahwa Jack Reacher adalah sebuah film yang diisi dengan banyak adegan aksi, Jack Reacher sendiri lebih terlihat sebagai sebuah film crime thriller dimana para karakter utamanya berusaha untuk menyelesaikan sebuah kasus kriminal. Dan meskipun dengan durasi yang mencapai 130 menit, pengarahan McQuarrie yang kuat serta penampilan kharismatik Cruise mampu membuat film ini tampil begitu menyenangkan dalam setiap bagian ceritanya.

(more…)

Poin terpenting dari The Cabin in the Woods, yang mungkin adalah salah satu film yang paling banyak diantisipasi para penggemar film horor di dunia untuk tahun ini, adalah bahwa Drew Goddard dan Joss Whedon merangkai film ini bukan sebagai sebuah film yang ingin menakut-nakuti penontonnya. Mungkin hal tersebut akan terdengar sebagai sebuah alasan yang payah untuk menyembunyikan kegagalan sebuah film horor dalam memberikan tujuan keberadaannya. The Cabin in the Woods, sejujurnya, masih mampu untuk memberikan momen-momen menakutkan dan menegangkan pada beberapa bagian ceritanya. Namun, secara keseluruhan, film ini hadir sebagai sebuah perayaan dari keberadaan genre horor itu sendiri, agar para penonton dapat bersenang-senang dengan berbagai hal yang mungkin dianggap klise yang seringkali mereka temui dalam sebuah film horor namun, secara ajaib, selalu berhasil memberikan pacuan adrenalin di tubuh mereka ketika menyaksikannya.

(more…)

Hampir satu dekade semenjak Johnny Depp menginjakkan kakinya di franchise Pirates of the Caribbean (2003 – 2011) dengan memerankan karakter Captain Jack Sparrow yang ikonik itu. Semenjak kesuksesan komersial empat seri franchise tersebut, harus diakui imej Depp secara perlahan berubah – dari seorang aktor watak yang gemar untuk berperan dalam film-film drama independen menjadi seorang sosok aktor dengan nama yang paling dapat dijual untuk menghasilkan keuntungan komersial sebuah film. Tidak salah memang jika seorang aktor lebih memilih untuk berperan dalam film-film blockbuster yang diproduksi murni untuk mengejar kesuksesan komersial belaka. Namun efek negatifnya, nama dan kemampuan aktng Depp secara perlahan mulai terlihat stagnan dan menjemukan, khususnya bagi kalangan kritikus film dunia.

(more…)

Jika pada Easy A (2010) Will Gluck merenovasi berbagai formula standar film drama remaja dengan sentuhan modern yang lebih dinamis sehingga mampu menghasilkan sajian yang sangat menghibur, maka lewat Friends with Benefits, Gluck hendak menerapkan eksperimen yang sama terhadap berbagai formula standar yang biasa Anda temui dalam sebuah film drama komedi romantis. Tentu kisah yang ditawarkan Gluck dalam Friends with Benefits sama sekali bukanlah sebuah kisah yang baru. Namun Gluck, dengan kemampuan yang cukup tajam dalam meramu adegan dan dialog cerdas serta jenaka dalam naskah cerita yang ia tuliskan, sekali lagi berhasil memanfaatkan berbagai formula penceritaan Hollywood yang sebenarnya sudah familiar dan usang untuk menghadirkan sebuah sajian yang mampu terasa begitu menyegarkan.

(more…)

Semenjak keberhasilan mereka untuk memikat hati banyak kritikus film dunia sekaligus mengundang banyak penonton untuk jatuh hati terhadap film komedi, Dumb and Dumber (1994), Bobby dan Peter Farrelly, yang secara bersama dikenal sebagai The Farrelly Brothers, kemudian melanjutkan sukses mereka dengan serangkaian film-film komedi yang cenderung memiliki banyak adegan-adegan “dewasa,” seperti There’s Something About Mary (1998), Me, Myself and Irene (2000) serta Shallow Hal (2001). Nama The Farrelly Brothers kemudian menjadi jaminan kualitas tersendiri bagi film-film komedi dewasa yang dirilis oleh Hollywood… hingga akhirnya Hollywood dibanjiri dan jatuh cinta dengan film-film komedi karya Kevin Smith, Adam McKay dan Judd Apatow, yang sama-sama memberikan tema dan konten cerita dewasa namun memiliki cara penceritaan yang lebih segar.

(more…)

Setelah Zach Braff dan Jason Segal sukses dalam melakukan debut penyutradaraannya, Josh Radnor menjadi aktor serial televisi lainnya yang turut serta mencoba kemampuannya dalam menjadi seorang sutradara di sebuah film layar lebar. HappyThankYouMorePlease, yang juga ditulis oleh Radnor, berkisah mengenai perjuangan sekelompok pemuda New York dalam menghadapi kehidupan cinta, persahabatan dan proses menuju kedewasaan dalam diri mereka. Sayangnya, seperti yang diungkapkan karakter Paul Gertmanian (Richard Jenkins) kepada karakter Sam (Radnor) di film ini, tak satupun karakter-karakter tersebut memiliki daya tarik yang pasti kepada para penontonnya: apakah mereka akan jatuh cinta kepada karakter-karakter tersebut atau malah justru membenci mereka.

(more…)