Menghadirkan sebuah film dengan jalan penceritaan yang memaparkan tentang kisah perjalanan seseorang dalam mencapai kesuksesan hidupnya jelas adalah suatu hal yang cukup rumit. Di satu sisi, film-film dengan tema tersebut adalah sajian yang biasanya dapat dengan mudah menarik minat penonton film Indonesia – khususnya jika kisah tersebut merupakan sebuah hasil adaptasi dari kisah nyata dan disajikan dengan balutan emosional yang kuat. Namun, di sisi lain, dengan penggarapan yang kurang berhati-hati, banyak diantara film-film sejenis yang akhirnya hadir dengan sajian drama yang terasa terlalu dipaksakan untuk menginspirasi maupun menyentuh penontonnya. Lalu, sebagai sebuah film yang juga menghadirkan tema penceritaan yang sama, apa yang dapat ditawarkan oleh 9 Summers 10 Autumns kepada para penontonnya?
Posts Tagged ‘Ria Irawan’
Review: 9 Summers 10 Autumns (2013)
Posted: May 3, 2013 in Movies, ReviewTags: 9 Summers 10 Autumns, Ade Irawan, Agni Pratistha, Alex Komang, Asian Cinema, Dewi Irawan, Dira Sugandi, Ence Bagus, Epy Kusnandar, Hayria Faturrahman, Ida Ayu Wadanthi Purnama Dewi, Ifa Isfansyah, Ihsan Tarore, Indonesian Cinema, Movies, Review, Ria Irawan, Shafil Hamdi Nawara, Swasti Nuswantari
Review: Arisan! 2 (2011)
Posted: December 2, 2011 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Aida Nurmala, Amink, Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Cut Mini, Cynthia Lamusu, Edwan Handoko, Edward Gunawan, Indonesian Cinema, Isabelle Patrice, Iwet Ramadhan, Jajang C Noer, Keiko Marwan, Lily Harahap, Melissa Karim, Movies, Nia Dinata, Pong Hardjatmo, Rachel Maryam, Renny Sutiyoso, Review, Ria Irawan, Rinaldy A. Yunardi, Rio Dewanto, Salmaa, Salwaa, Sapto Soetarjo, Sarah Sechan, Shanty, Shelomita, Stephanie, Surya Saputra, Titi DJ, Tora Sudiro, Wilza Lubis
Di tahun 2003, Nia Dinata berhasil memberikan sebuah asupan tontonan yang sama sekali belum pernah dirasakan para pecinta film Indonesia sebelumnya. Lewat Arisan!, Nia, yang menulis naskah film tersebut bersama Joko Anwar, memberikan sebuah satir jujur mengenai kehidupan kaum kosmopolitan di Indonesia (baca: Jakarta), tentang bagaimana pergaulan mereka, orang-orang di sekitar mereka hingga hitam putih kehidupan yang menyeruak dalam keseharian mereka. Arisan! juga menjadi film pertama yang mendapatkan rekognisi nasional dalam mengangkat kehidupan kaum homoseksual – yang di kala itu jelas merupakan sebuah terobosan yang sangat berani. Hasilnya, Arisan! sukses menjadi sebuah kultur pop dalam dunia hiburan Indonesia, meroketkan nama Tora Sudiro dan berhasil memenangkan kategori Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2004.
Review: Madame X (2010)
Posted: October 9, 2010 in Movies, ReviewTags: Amink, Asian Cinema, Fitri Tropica, Ikhsan Himawan, Indonesian Cinema, Joko Anwar, Lucky Kuswandi, Madame X, Marcell Siahaan, Movies, Review, Ria Irawan, Robby Tumewu, Saira Jihan, Sarah Sechan, Shanty, Titi DJ, Vincent Rompies
Semenjak pertama kali melakukan debut penyutradaraan lewat film Ca Bau Kan (2002), perlahan namun pasti nama Nia Dinata menjadi sebuah jaminan tersendiri bahwa sebuah film memiliki kualitas yang berada di atas rata-rata kualitas film Indonesia lainnya jika melibatkan namanya sebagai sutradara film tersebut. Ini dibuktikan dengan kesuksesan dua film Nia lainnya, Arisan! (2003) dan Berbagi Suami (2006) yang mengikuti jejak kesuksesan Ca Bau Kan dalam meraih banyak pujian kritikus film Indonesia serta mencatatkan Nia sebagai satu-satunya sutradara film Indonesia yang filmnya selalu terpilih menjadi perwakilan Indonesia untuk bersaing di ajang Academy Awards untuk kategori Best Foreign Languange Film.
Review: Jamila dan Sang Presiden (2009)
Posted: March 4, 2010 in Movies, ReviewTags: Ade Irawan, Adjie Pangestu, Aida Nurmala, Asian Cinema, Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Dwi Sasono, Eva Celia Latjuba, Fauzi Baadilla, Indonesian Cinema, Jamila dan Sang Presiden, Marcelino Lefrandt, Movies, Ratna Sarumpaet, Review, Ria Irawan, Surya Saputra
Jamila dan Sang Presiden adalah sebuah film layar perdana karya sutradara Ratna Sarumpaet, yang mungkin lebih dikenal sebagai seorang sutradara teater serta aktivis perempuan. Naskah cerita film ini sendiri diadaptasi Ratna dari karya teaternya yang berjudul Pelacur dan Sang Presiden, yang sempat meraih banyak pujian sekaligus kritikan dari beberapa pihak di Indonesia selama masa pementasannya.















