Disutradarai oleh Conor Allyn (Merah Putih III: Hati Merdeka, 2011), yang juga menulis naskah cerita serta menjadi produser film ini bersama ayahnya, Rob Allyn, Java Heat dibuka dengan berjalannya proses interogasi yang berjalan antara seorang petugas kepolisian Republik Indonesia, Letnan Hashim (Ario Bayu), dengan seorang pria misterius asal Amerika Serikat, Jake Travers (Kellan Lutz), yang dijadikan sebagai saksi dalam peristiwa pemboman bunuh diri yang telah menewaskan seorang puteri Kerajaan Jawa, Sultana (Atiqah Hasiholan). Walaupun Jake mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah seorang turis yang datang ke Indonesia sebagai bagian pembelajaran sejarah seni negara-negara Asia Tenggara yang sedang ia dalami, namun Hashim menaruh curiga bahwa Jake memiliki keterkaitan dalam peristiwa pemboman tersebut.
Posts Tagged ‘Review’
Review: Java Heat (2013)
Posted: April 26, 2013 in Movies, ReviewTags: Agung Udijana, Ario Bayu, Astri Nurdin, Atiqah Hasiholan, Brent Duke, Conor Allyn, Frans Tumbuan, Java Heat, Kellan Lutz, Mickey Rourke, Mike Duncan, Mike Lucock, Movies, Nick McKinless, Rahayu Saraswati, Review, Rio Dewanto, Rudy Wowor, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusodewo, Uli Auliani, Verdi Solaiman
Review: Mursala (2013)
Posted: April 24, 2013 in Movies, ReviewTags: Anna Sinaga, Asian Cinema, Elsa Syarief, Indonesian Cinema, Mongol, Movies, Mursala, Raja Bonaran Situmeang, Reins Christiana Situmeang, Review, Rio Dewanto, Roy Ricardo, Rudi Salam, Tio Pakusadewo, Titi Rajo Bintang, Viva Westi
Dengan latar belakang kebudayaan Batak yang kental serta iringan gambar yang berisikan eksotisme keindahan alam Pulau Mursala yang terletak di kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Mursala mencoba memaparkan konflik cinta yang mungkin terdengar sederhana namun memiliki penyelesaian yang cukup rumit: ketika cinta harus berhadapan dengan hukum yang diterapkan oleh adat istiadat semenjak ratusan tahun yang lalu. Sebuah premis yang jelas terasa cukup menyegarkan jika melihat banyaknya tema penceritaan yang hampir senada pada kebanyakan film-film romansa Indonesia belakangan ini. Namun, tentu saja, sebuah premis yang menarik tidak akan berarti apa-apa tanpa sebuah eksekusi yang mampu mengekplorasinya dengan tepat. Dan, sayangnya, disanalah letak kelemahan terbesar dari Mursala…
Review: Kon-Tiki (2012)
Posted: April 24, 2013 in Movies, ReviewTags: Agnes Kittelsen, Anders Baasmo Christiansen, Eleanor Burke, Espen Sandberg, Gustaf Skarsgård, Jakob Oftebro, Joachim Rønning, Katinka Egres, Kon-Tiki, Manuel Cauchi, Movies, Odd-Magnus Williamson, Pål Sverre Valheim Hagen, Review, Richard Trinder, Stefan Cronwall, Tobias Santelmann
Kon-Tiki diangkat dari kisah nyata mengenai seorang etnograf sekaligus petualang asal Norwegia bernama Thor Heyerdahl yang pada tahun 1947 melakukan perjalanan laut dari Peru ke Polinesia dengan hanya menggunakan perahu sederhana untuk membuktikan hasil penelitiannya bahwa masyarakat asli Polinesia berasal dari kawasan Amerika Selatan. Hyerdahl sendiri kemudian membukukan hasil petualangannya tersebut lewat buku yang dirilis pada tahun 1948 dengan judul Kon-Tiki: Across the Pacific in a Raft yang hingga saat ini telah diterjemahkan ke lebih dari 70 bahasa. Sementara itu, potongan-potongan gambar yang ia filmkan sepanjang perjalanan yang berlangsung lebih dari tiga bulan tersebut kemudian dijadikan sebuah film dokumenter berjudul Kon-Tiki yang berhasil memenangkan kategori Best Documentary Feature di ajang The 24th Annual Academy Awards pada tahun 1951. (more…)
Review: Sinister (2012)
Posted: April 23, 2013 in Movies, ReviewTags: Blake Mizrahi, Cameron Ocasio, Clare Foley, Danielle Kotch, Ethan Haberfield, Ethan Hawke, Fred Thompson, James Ransone, Juliet Rylance, Michael Hall D'Addario, Movies, Nick King, Review, Scott Derickson, Sinister, Victoria Leigh, Vincent D'Onofrio
Sinister mungkin memiliki premis yang telah dihadirkan ribuan kali oleh kebanyakan film horor buatan Hollywood lainnya: sebuah keluarga memasuki sebuah rumah baru dimana salah seorang anggota keluarga tersebut menemukan sebuah benda misterius di dalam rumah yang kemudian memberikan teror pada dirinya serta seluruh anggota keluarga tersebut. Klise. Namun terlepas dari premis yang terkesan terlalu biasa, sutradara Scott Derickson (The Exorcism of Emily Rose, 2005) bersama dengan penulis naskah C. Robert Cargill mampu merancang sebuah susunan naskah cerita yang berhasil menghadirkan dua elemen yang sering dilupakan oleh kebanyakan film horor modern: karakter-karakter yang layak untuk diperhatikan sekaligus kemampuan jalan cerita untuk benar-benar tampil menakuti para penontonnya.
Review: The Company You Keep (2012)
Posted: April 21, 2013 in Movies, ReviewTags: Anna Kendrick, Brendan Gleeson, Brit Marling, Chris Cooper, Jackie Evancho, Julie Christie, Keegan Connor Tracy, Movies, Nick Nolte, Review, Richard Jenkins, Robert Redford, Sam Elliott, Shia LaBeouf, Stanley Tucci, Stephen Root, Susan Sarandon, Terrence Howard, The Company You Keep
Perbincangan mengenai dunia politik sepertinya tidak akan dapat dijauhkan dari setiap film yang diarahkan oleh Robert Redford. Setelah sebelumnya merilis Lion for Lambs (2007) dan The Conspirator (2010), kini Redford menghadirkan The Company You Keep, sebuah thriller politik dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Lem Dobbs (Haywire, 2011) dari novel berjudul sama karya Neil Gordon. Menyinggung masalah politik, terorisme hingga perkembangan dunia jurnalisme modern, The Company You Keep jelas memiliki momen-momen dimana film ini mampu tampil sangat meyakinkan dalam ceritanya, khususnya berkat dukungan jajaran pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan baik. Namun sayangnya, seperti yang juga dapat dirasakan pada dua film Redford sebelumnya, The Company You Keep secara perlahan kehilangan intensitas penceritaannya justru di saat-saat film ini membutuhkan kapasitas penceritaan yang lebih kuat – hal yang membuat The Company You Keep kemudian berakhir dengan datar dan terkesan begitu… pointless.
Review: Oblivion (2013)
Posted: April 16, 2013 in Movies, ReviewTags: Abigail Lowe, Andrea Riseborough, David Madison, Isabelle Lowe, Joseph Kosinski, Melissa Leo, Morgan Freeman, Movies, Nikolaj Coster-Waldau, Oblivion, Olga Kurylenko, Review, Tom Cruise, Zoe Bell
Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Joseph Kosinski, Karl Gajdusek dan Michael Arndt berdasarkan novel grafis berjudul sama karya Joseph Kosinski dan Arvid Nelson, Oblivion berlatar belakang lokasi di Bumi pada tahun 2077, 60 tahun setelah terjadinya sebuah invasi makhluk luar angkasa yang menghancurkan Bulan serta hampir meluluhlantakkan seluruh penjuru Bumi. Semenjak terjadinya tragedi tersebut, umat manusia kini telah menemukan rumah barunya di satelit terbesar pada planet Saturnus, Titan. Jack Harper (Tom Cruise) dan Victoria Olsen (Andrea Riseborough) adalah dua prajurit manusia yang hingga saat ini masih bertinggal di Bumi dan bertugas untuk merawat deretan mesin-mesin otomatis yang berfungsi untuk menghancurkan sisa makhluk luar angkasa yang masih bersembunyi di berbagai sudut Bumi.
Review: Cloud Atlas (2012)
Posted: April 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Andy Wachowski, Ben Whishaw, Cloud Atlas, David Gyasi, Doona Bae, Halle Berry, Hugh Grant, Hugo Weaving, James D'Arcy, Jim Broadbent, Jim Sturgess, Keith David, Lana Wachowski, Movies, Review, Susan Sarandon, Tom Hanks, Tom Tykwer, Zhou Xun
Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.





















