Kita Versus Korupsi adalah sebuah film omnibus, yang berdasarkan judul yang digunakan oleh film ini, menceritakan mengenai berbagai hal yang menyinggung mengenai tindak kasus korupsi – sebuah penyakit sosial dan hukum yang saat ini sedang mewabah dengan begitu hebatnya di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, mungkin akan jauh dari bayangan banyak orang, Kita Versus Korupsi tidaklah berniat untuk bercerita secara investigatif mengenai proses perlawanan terhadap kasus-kasus besar korupsi di negeri ini. Empat film pendek yang ada dalam satuan Kita Versus Korupsi lebih ingin menunjukkan bagaimana sebenarnya sebuah tindakan korupsi sebenarnya dapat berada di berbagai sudut kehidupan keseharian penontonnya.
Posts Tagged ‘Revalina S Temat’
Review: Kita Versus Korupsi (2012)
Posted: June 24, 2012 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Alaxandra Natasha, Amanina Datau, Anto G, Asian Cinema, Chairun Nissa, Dominique Diyose, Emil Heradi, Icang S. Tisnamiharja, Indonesian Cinema, Ine Febriyanti, Kita Versus Korupsi, Lasja F. Susatyo, Medina Kamil, Movies, Nasha Abigail, Nicholas Saputra, Norman Akyuwen, Ranggani Puspandya, Revalina S Temat, Review, Ringgo Agus Rahman, Siska Selvi Dawsen, Teuku Rifnu Wikana, Tieneke Purnamasari, Tizza Radia, Tora Sudiro, Verdi Solaiman
Review: Ummi Aminah (2012)
Posted: January 15, 2012 in Movies, ReviewTags: Aditya Gumay, Ali Zainal, Andi Bersama, Asian Cinema, Atie Kanser, Budi Chairul, Cahya Kamila, Diza Refengga, Elma Theana, Gatot Brajamusti, Genta Windi, Indonesian Cinema, Ivan Leonardy, Movies, Nani Wijaya, Paramitha Rusady, Rasyid Karim, Revalina S Temat, Review, Reza Pahlawan, Ruben Onsu, Satria Wisnu, Shaka Syahidan, Temmy Rahadi, Ummi Aminah, Yessy Gusman, Zee Zee Shahab
Dalam Ummi Aminah, Nani Wijaya dengan mudah menunjukkan bahwa dirinya masih merupakan salah satu talenta akting terbaik yang dapat dimiliki industri film Indonesia lewat perannya sebagai seorang ustadzah yang begitu populer di kalangan masyarakat namun harus melalui beberapa permasalahan hidup yang menguji ketahanan dan kebersamaan antara dirinya serta seluruh anggota keluarganya. Ummi Aminah sendiri, yang merupakan film keempat yang disutradarai oleh Aditya Gumay, sayangnya, tidak secemerlang penampilan akting Nani Wijaya. Ummi Aminah terlihat terlalu banyak mencoba untuk menggarap begitu banyak kisah dalam durasinya yang hanya mencapai 100 menit. Hasilnya, Ummi Aminah lebih sering terlihat sebagai kumpulan beberapa kisah – yang tak terselesaikan – daripada sebagai sebuah sajian film dengan jalan cerita penuh.
Review: Semesta Mendukung (2011)
Posted: October 22, 2011 in Movies, ReviewTags: Angga Putra, Asian Cinema, Dinda Hauw, Feby Febiola, Ferry Salim, Helmalia Putri, Indonesian Cinema, Indro Warkop, John De Rantau, Lukman Sardi, Movies, Omeyga Rossye, Rangga Raditya, Rendy Ahmad, Revalina S Temat, Review, Sayev Muhammad Billah, Semesta Mendukung, Sheina Abdat, Sudjiwo Tedjo, Yohanes Surya, Zawawi Imron
Semesta Mendukung akan memperkenalkan penontonnya pada Arief (Sayev Muhammad Billah), seorang anak cerdas dan berbakat asal Sumenep, Madura yang datang dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Walau memiliki kecerdasan yang berada di atas standar teman-teman sekelasnya, kehidupan Arief jauh dari kesan yang bahagia. Ayahnya, Muslat (Lukman Sardi), bekerja serabutan setelah ladang garam yang ia miliki tidak lagi mampu menghidupi keluarganya. Sementara itu, ibunya, Salmah (Helmalia Putri), telah menghabiskan masa tujuh tahun terakhir bekerja di Singapura. Arief sangat merindukan ibunya… dan ia akan melakukan apa saja untuk dapat mendengar kabar dari sang ibu yang semenjak lama telah tidak pernah lagi mengirimkan kabar kepada dirinya dan sang ayah.
Review: ? (Tanda Tanya) (2011)
Posted: April 7, 2011 in Movies, ReviewTags: ?, Agus Kuncoro, Asian Cinema, Baim, David Chalik, Dedi Soetomo, Edmay, Endhita, Glenn Fredly, Hanung Bramantyo, Hengky Solaiman, Indonesian Cinema, Movies, Revalina S Temat, Review, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Tanda Tanya
Kemampuan Hanung Bramantyo untuk menyelami masalah spiritual (jika tidak mau disebut agama) dalam setiap filmnya harus diakui telah menempatkan sutradara pemenang Festival Film Indonesia untuk Sutradara Terbaik itu berada di kelasnya sendiri diantara sutradara-sutradara lainnya di kancah perfilman Indonesia. Tidak seperti beberapa sutradara lainnya yang telah mencoba mengolah tema yang sama, dan kebanyakan berakhir dengan sebuah sajian yang begitu terkesan preachy, film-film Hanung menawarkan kedalaman tersendiri mengenai permasalahan spiritual tersebut namun tetap disajikan sebagai sebuah film kontemporer yang ringan dan dramatis yang secara perlahan akan meninggalkan kesan tersendiri mengenai makna spiritualisme kepada para penontonnya tanpa mereka menyadari bahwa mereka telah mendapatkan sebuah cara pandang baru mengenai topik tersebut.
Review: Satu Jam Saja (2010)
Posted: October 8, 2010 in Movies, ReviewTags: Andhika Pratama, Ario Rubbik, Asian Cinema, Imei Liem, Indonesian Cinema, Marini, Movies, Rano Karno, Revalina S Temat, Review, Rima Melati, Rini Yulianti, Satu Jam Saja, Vino G. Bastian, Widyawati
Ada yang salah dalam Satu Jam Saja. Sebagai sebuah film drama romantis, dengan jajaran aktor dan aktris yang harus diakui cukup menjanjikan, film ini ternyata tidak terlalu mampu banyak berbicara dalam menuturkan kisahnya untuk dapat menyentuh setiap penontonnya. Satu Jam Saja malah berakhir sebagai sebuah drama percintaan antara tiga karakter yang cenderung membosankan dan terlalu melelahkan untuk diikuti.

















