Well… isn’t this nice? Dua aktris muda paling bertalenta di industri film Indonesia saat ini saling beradu peran dalam satu film. Di bawah arahan Dinna Jasanti (Burung-Burung Kertas, 2007) dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena (Sang Pialang, 2013), Laura & Marsha menempatkan Prisia Nasution dan Adinia Wirasti sebagai dua sahabat yang memutuskan untuk meninggalkan kesibukan harian mereka di Jakarta untuk sementara dan kemudian melakukan perjalanan bersama ke beberapa negara Eropa. Yep. Laura & Marsha adalah sebuah road movie yang akan membawa penontonnya untuk menikmati keindahan klasik kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Verona hingga Viena. As usual, the basic rule of a road movie is: it’s not the destination that matters, but it’s the journey. Dan apakah Laura & Marsha mampu memberikan perjalanan yang dapat dinikmati tersebut kepada para penontonnya?
Posts Tagged ‘Prisia Nasution’
Review: Laura & Marsha (2013)
Posted: June 6, 2013 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Afiqah Ibrahim, Arry Susanto, Asian Cinema, Ayal Oost, Dinna Jasanti, Indonesian Cinema, Kartika Rizky, Laura & Marsha, Lie Darmawan, Movies, Prisia Nasution, Ratna Riantiarno, Restu Sinaga, Review, Tutie Kirana, Widiarto, Zefanya Christin Malau
Review: Rectoverso (2013)
Posted: February 19, 2013 in Movies, ReviewTags: Acha Septriasa, Amanda Soekasah, Asian Cinema, Asmirandah, Cathy Sharon, Dewi Irawan, Dwi Sasono, Fauzi Baadilla, Hamish Daud, Happy Salma, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Lukman Sardi, Marcell Domits, Marcella Zalianty, Movies, Olga Lydia, Priangga Adiyatama, Prisia Nasution, Rachel Maryam, Rangga Djoned, Rectoverso, Review, Sophia Latjuba, Tetty Liz Indriati, Tio Pakusadewo, Widyawati, Yama Carlos
Disajikan dengan gaya interwoven, dimana setiap cerita dihadirkan dalam satu lini masa yang sama walaupun tidak pernah benar-benar saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, Rectoverso mencoba untuk menghadirkan lima buah cerita berbeda dengan satu tema cerita yang sama: cinta yang tak terucap, yang kisahnya diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Perahu Kertas, 2012). Rectoverso sendiri digarap oleh lima nama sutradara wanita pemula namun merupakan nama-nama yang cukup popular di kalangan dunia seni peran Indonesia: Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty.
Review: Sang Penari (2011)
Posted: December 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Aji Santosa, Arswendi Nasution, Asian Cinema, Dewi Irawan, Happy Salma, Hendro Djarot, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Movies, Ni Made Aurel, Oka Antara, Prisia Nasution, Review, Sang Penari, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Yayu Unru, Zainal Abidin Domba
Dirangkum dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk – Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985) dan Jantera Bianglala (1986) – karya Ahmad Tohari, Sang Penari memfokuskan kisahnya pada kehidupan masyarakat Dukuh Paruk di tahun 1960-an, di masa ketika setiap masyarakat masih memegang teguh aturan dan adat istiadat leluhurnya serta jauh dari modernisasi – termasuk pemahaman agama – kehidupan yang secara perlahan mulai menyentuh wilayah di luar desa tersebut. Salah satu prinsip adat yang masih kokoh dipegang oleh masyarakat Dukuh Paruk adalah budaya ronggeng, sebuah tarian adat yang ditarikan oleh seorang gadis perawan yang terpilih oleh sang leluhur. Layaknya budaya geisha di Jepang, gadis perawan yang terpilih untuk menjadi seorang ronggeng nantinya akan menjual keperawanan mereka pada pria yang mampu memberikan harga yang tinggi. Bukan. Keperawanan tersebut bukan dijual hanya untuk urusan kepuasan seksual belaka. Bercinta dengan gadis yang terpilih sebagai ronggeng merupakan sebuah berkah bagi masyarakat Dukuh Paruk yang beranggapan bahwa hal tersebut dapat memberikan sebuah kesejahteraan bagi mereka.















