Posts Tagged ‘Patrick Wilson’

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

(more…)

the-conjuring-header

Nama James Wan mungkin selamanya akan dikenal sebagai seorang penulis naskah sekaligus sutradara dari film Saw (2004) – sebuah film thriller yang sukses mencuri perhatian penikmat film dunia dan lalu berkembang menjadi sebuah franchise yang berisikan tujuh seri film sekaligus menyebarkan kembali virus torture porn di kalangan pembuat film Hollywood lainnya. Pun begitu, seperti yang dapat disaksikan lewat Dead Silence (2007) dan Insidious (2011), Wan kemudian memilih untuk menyajikan kengerian dalam film-film yang ia hadirkan berikutnya lewat formula horor tradisional yang lebih mengutamakan atmosfer penceritaan yang mencekam, intensitas ketegangan yang terjaga serta kejutan-kejutan horor daripada deretan adegan yang dipenuhi kekerasan, simbahan darah maupun potongan tubuh para karakter yang ada di dalam jalan cerita. Film teranyar arahan Wan, The Conjuring, sekali lagi mencoba untuk mengeksplorasi formula horor tradisional tersebut dalam memaparkan dua tema penceritaan horor yang familiar – rumah berhantu dan aksi pengusiran setan – dan menggabungkannya menjadi sebuah kesatuan cerita yang mampu menghadirkan rasa ketakutan mendalam pada setiap penontonnya.

(more…)

Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

(more…)

Mavis Gary (Charlize Theron) is a piece of work. Terkenal atas kecerdasan yang didukung dengan penampilan fisik yang sangat menunjang, Mavis adalah gadis yang sangat populer di masa sekolahnya. Reputasi tersebut berhasil membuat Mavis mendefinisikan istilah “dibenci karena banyak orang yang ingin menjadi dirinya” dengan baik. Dan Mavis sadar akan segala kelebihannya tersebut, yang acapkali membuat dirinya hadir dengan sikap yang begitu egois. Kini, di usia yang telah menginjak 37 tahun, Mavis masih mampu mempertahankan keindahan penampilan fisiknya – walau ia sekarang harus menghadapi fakta bahwa banyak helai rambutnya mulai mengalami kerontokan – serta kepribadian yang tetap tidak berubah. Kesuksesannya sebagai penulis bayangan dari satu seri novel populer juga semakin memperbesar ego Mavis.

(more…)

Adalah sangat mudah untuk mengetahui mengapa naskah cerita The Ledge yang ditulis oleh Matthew Chapman (Runaway Jury, 2003) mampu menarik nama-nama seperti Patrick Wilson, Liv Tyler, Charlie Hunnam dan Terrence Howard untuk membintangi film ini. Di atas kertas, The Ledge terdengar sebagai sebuah film yang cerdas, yang (sekali lagi) mempertentangkan dua pemikiran antara kaum relijius dan kaum atheis sekaligus tetap mempertahankan sisi drama romansa kisahnya melalui jalinan hubungan yang terjadi antara setiap karakter di film ini. Sayangnya, ketika jalan cerita tersebut diwujudkan dalam bentuk cerita audio visual sepanjang 100 menit, The Ledge terlihat begitu terbata-bata dalam penceritaannya, dengan deretan karakter yang terkesan begitu stereotype serta alur cerita yang menghabiskan cukup banyak waktu untuk akhirnya dapat tampil relevan bagi para penontonnya.

(more…)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

(more…)

Anda tidak sepenuhnya salah jika menganggap bahwa Aline Brosh McKenna masih mencoba memanfaatkan kesuksesannya dalam menuliskan naskah The Devil Wears Prada (2006) untuk merangkai cerita Morning Glory: dua cerita ini sama-sama memanfaatkan perspektif seorang wanita muda yang dengan gigih mengejar karirnya di dalam sebuah lingkungan pekerjaan yang kelihatannya tidak akan mampu ia atasi. Walau begitu, Morning Glory masih menyimpan keunggulan sendiri ketika film ini mampu memberikan para penontonnya kisah satir yang cukup menarik mengenai industri media serta dukungan akting para pemerannya yang sangat memuaskan, khususnya dari Nona Rachel McAdams yang tampil begitu mempesona di sepanjang durasi film.

(more…)

Jennifer Aniston dan film komedi romantis sepertinya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Walau begitu, pemilihan cerita yang monoton – dan sepertinya seringkali merefleksikan kehidupan nyata Aniston yang sering digambarkan di banyak tabloid gosip – membuat pilihan film Aniston banyak menerima kritikan, baik dari para kritikus film dunia hingga para penikmat film.

(more…)

Musim panas biasanya dimanfaatkan oleh industri film Hollywood untuk merilis film-film dengan jalur cerita cheesy namun dapat menutupi berbagai kekurangannya tersebut dengan plot action dan komedi yang dibuat dengan cara yang berlebihan untuk mencapai hasil yang menyenangkan. Fakta bahwa hingga pertengahan musim panas tahun ini baru Iron Man 2 yang (hampir) mencapai hal tersebut mungkin dapat menjadi pertanda bahwa musim panas tahun ini tidaklah semenyenangkan musim panas tahun-tahun sebelumnya. And then comes The A-Team.

(more…)

Aktris cantik Anne Hathaway memulai karirnya sebagai seorang aktris dengan membintangi film remaja sukses The Princess Diaries. Setelahnya, Hathaway sempat beberapa kali seperti terjebak dalam peran-peran sama di banyak film bertema keluarga lainnya.

(more…)