Posts Tagged ‘Owen Wilson’

Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)

Free Birds (Reel FX Creative Studios/Relativity Media, 2013)

Thanksgiving Day adalah sebuah hari libur nasional tahunan yang umumnya diperingati oleh warga Amerika Utara tepatnya pada hari Kamis keempat di bulan November. Diperkirakan dimulai pada tahun 1621 sebagai wujud rasa terima kasih warga pendatang yang berasal dari Eropa kepada penduduk pribumi Amerika dengan membagikan hasil panen mereka, Thanksgiving Day biasanya dirayakan setiap keluarga di Amerika dengan menikmati penganan khas perayaan tersebut yaitu kalkun. Well… kebiasaan warga Amerika dalam menikmati penganan kalkun untuk merayakan Thanksgiving Day itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi jalan penceritaan Free Birds. Diarahkan oleh Jimmy Hayward (Jonah Hex, 2010) yang juga bertugas sebagai penulis naskah film ini bersama dengan Scott Mosier, Free Birds sayangnya gagal untuk mengembangkan premis ceritanya untuk menjadi sebuah presentasi yang menarik. Medioker – baik dari tampilan visual maupun penggarapan ceritanya.

(more…)

The-Internship-header

They’re back! Setelah sebelumnya sukses berperan dalam Wedding Crashers (2005) – yang berhasil meraih banyak pujian dari para kritikus film dunia sekaligus meraup keuntungan komersial sebesar lebih dari US$285 juta dari masa rilisnya di seluruh dunia, duo Vince Vaughn dan Owen Wilson kini kembali hadir dalam sebuah film komedi arahan Shawn Levy (Real Steel, 2011) yang berjudul The Internship. Vaughn sendiri kali ini tidak hanya berperan sebagai seorang aktor. Selain bertindak sebagai produser bersama Levy, Vaughn juga menuliskan naskah cerita film ini bersama dengan Jared Stern (Mr. Popper’s Penguins, 2011) berdasarkan ide cerita yang dikembangkan sendiri oleh Vaughn. Kualitas naskah cerita The Internship sebenarnya jauh dari kesan istimewa. Namun, pengarahan serta penampilan jajaran pengisi departemen akting yang kuat mampu membuat The Internship tampil hangat dalam bercerita dan begitu menghibur di sepanjang 119 menit durasi penceritaannya.

(more…)

Akan sangat mudah untuk jatuh cinta kepada Midnight in Paris – sebuah film yang menandai kali pertama perjalanan sinema seorang Woody Allen di kota romantis tersebut. Semenjak pertama film ini dimulai, yang ditandai dengan sebuah adegan pembuka sepanjang tiga menit yang berisi banyak pemandangan indah kota Paris yang diiringi dengan musik jazz yang sangat menghipnotis, penonton telah dapat merasakan bahwa Midnight in Paris akan menjadi sebuah persembahan cinta Allen kepada kota terbesar di negara Perancis tersebut. Namun, Midnight in Paris tidak hanya melulu berkisah seputar kesuksesan Allen dalam menangkap esensi keindahan kota tersebut. Allen – yang dalam beberapa film terakhirnya gagal mempersembahkan sebuah presentasi cerita yang segar kepada para penggemarnya – kali ini berhasil memberikan jalan cerita yang begitu ringan namun begitu imaginatif serta, layaknya kota Paris, begitu indah dan romantis untuk disimak.

(more…)

Perebutan menuju gelar film terbaik untuk tahun 2011 semakin diperhangat dengan diumumkannya nominasi The 69th Annual Golden Globe Awards, malam ini. Untuk tahun ini, The Artist memimpin daftar perolehan nominasi setelah film asal Perancis tersebut berhasil meraih 6 nominasi termasuk nominasi di kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical. Raihan The Artist tersebut diikuti oleh The Descendants yang memperoleh 5 nominasi serta The Ides of March, Midnight in Paris, The Help dan Moneyball yang sama-sama meraih 4 nominasi. Sementara itu, film karya Martin Scorsese, Hugo, berhasil meraih 3 nominasi termasuk untuk Best Motion Picture – Drama dan Best Director.

(more…)

Seandainya Pixar bukanlah sebuah rumah produksi animasi yang menghasilkan film-film seperti The Incredibles (2007), WALL•E (2008), Up (2009) dan Toy Story 3 (2010), mungkin tidak akan ada seorangpun yang memandang sebelah mata terhadap Cars 2. Namun, seperti yang telah diketahui setiap penggemar film di dunia, semenjak merilis Toy Story di tahun 1995, Pixar telah tumbuh menjadi sebuah trademark akan sebuah kualitas film animasi bercitarasa tinggi yang sulit untuk disaingi rumah produksi lainnya. Di empat tahun terakhir, Pixar secara perlahan lebih meningkatkan kualitas penulisan naskah cerita film-filmnya, dengan menjadikan film-film seperti WALL•E, Up dan Toy Story 3 terkadang bahkan lebih mampu menguras emosi penontonnya jika dibandingkan dengan film-film non-animasi yang dirilis pada tahun bersamaan.

(more…)

Semenjak keberhasilan mereka untuk memikat hati banyak kritikus film dunia sekaligus mengundang banyak penonton untuk jatuh hati terhadap film komedi, Dumb and Dumber (1994), Bobby dan Peter Farrelly, yang secara bersama dikenal sebagai The Farrelly Brothers, kemudian melanjutkan sukses mereka dengan serangkaian film-film komedi yang cenderung memiliki banyak adegan-adegan “dewasa,” seperti There’s Something About Mary (1998), Me, Myself and Irene (2000) serta Shallow Hal (2001). Nama The Farrelly Brothers kemudian menjadi jaminan kualitas tersendiri bagi film-film komedi dewasa yang dirilis oleh Hollywood… hingga akhirnya Hollywood dibanjiri dan jatuh cinta dengan film-film komedi karya Kevin Smith, Adam McKay dan Judd Apatow, yang sama-sama memberikan tema dan konten cerita dewasa namun memiliki cara penceritaan yang lebih segar.

(more…)

Terakhir kali penikmat film melihat nama sutradara pemenang Academy Awards, James L. Brooks, mendapatkan kredit sebagai sutradara di sebuah film adalah ketika Brooks merilis Spanglish di tahun 2004 – yang mendapatkan reaksi yang bervariasi dari banyak kritikus film dunia. Selebihnya, Brooks lebih banyak menghabiskan banyak waktu untuk menjadi produser bagi beberapa film serta serial televisi komedi. Dengan 25 nominasi dan 7 kemenangan di ajang Academy Awards yang diraihnya untuk film Terms of Endearment (1983), Broadcast News (1987) dan As Good as It Gets (1997), wajar saja jika How Do You Know mendapatkan ekspektasi yang cukup tinggi dari banyak kritikus maupun penikmat film dunia.

(more…)