Disajikan dengan gaya interwoven, dimana setiap cerita dihadirkan dalam satu lini masa yang sama walaupun tidak pernah benar-benar saling bersinggungan antara satu dengan yang lain, Rectoverso mencoba untuk menghadirkan lima buah cerita berbeda dengan satu tema cerita yang sama: cinta yang tak terucap, yang kisahnya diangkat dari novel berjudul sama karya Dewi Lestari (Perahu Kertas, 2012). Rectoverso sendiri digarap oleh lima nama sutradara wanita pemula namun merupakan nama-nama yang cukup popular di kalangan dunia seni peran Indonesia: Olga Lydia, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Happy Salma dan Marcella Zalianty.
Posts Tagged ‘Olga Lydia’
Review: Rectoverso (2013)
Posted: February 19, 2013 in Movies, ReviewTags: Acha Septriasa, Amanda Soekasah, Asian Cinema, Asmirandah, Cathy Sharon, Dewi Irawan, Dwi Sasono, Fauzi Baadilla, Hamish Daud, Happy Salma, Indonesian Cinema, Indra Birowo, Lukman Sardi, Marcell Domits, Marcella Zalianty, Movies, Olga Lydia, Priangga Adiyatama, Prisia Nasution, Rachel Maryam, Rangga Djoned, Rectoverso, Review, Sophia Latjuba, Tetty Liz Indriati, Tio Pakusadewo, Widyawati, Yama Carlos
Review: Brandal Brandal Ciliwung (2012)
Posted: August 17, 2012 in Movies, ReviewTags: Aldy Rialdy Indrawan, Anna Tarigan, Asian Cinema, Brandal Brandal Ciliwung, Endy Arfian, Gritte Agatha, Guntur Soeharjanto, Hengky Solaiman, Idrus Madani, Indonesian Cinema, Ira Wibowo, Julian Liberty, Lukman Sardi, M Syafikar, Movies, Olga Lydia, Review, Sehan Zack
Brandal Brandal Ciliwung berkisah mengenai sekelompok anak yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta yang masing-masing berasal dari latar suku dan kebudayaan yang berbeda namun mampu saling bersahabat erat satu sama lain. Terdengar seperti puluhan film anak-anak Indonesia lainnya yang diselipi berbagai pesan moral tentang sikap nasionalisme dan rasa saling menghargai terhadap adanya perbedaan? Benar. Walau diadaptasi dari sebuah novel arahan Achmad MS berjudul sama yang diterbitkan pada tahun 1974, Brandal Brandal Ciliwung nyaris hadir tanpa sebuah adanya perbedaan cerita yang dapat membedakannya dari kebanyakan film-film Indonesia modern yang ditujukan bagi para penonton muda. Konfliknya juga cenderung datar dengan pendeskripsian cerita yang cenderung bertele-tele yang akhirnya membuat durasi film ini melebar menjadi sepanjang 111 menit dengan tanpa kehadiran esensi cerita yang kuat.
Review: Soegija (2012)
Posted: June 10, 2012 in Movies, ReviewTags: Andrea Reva, Andriano Fidelis, Annisa Hertami, Asian Cinema, Butet Kartaredjasa, Cahwati, Cor Van Der Kruk, Eko Balung, Endah Laras, Garin Nugroho, Hengky Soelaiman, Imam Wibowo, Indonesian Cinema, Landung Simatupang, Margono, Marwoto Kawer, Movies, Muhammad Abbe, Narung, Nirwan Dewanto, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Review, Rukman Rosadi, Sagita, Soca Ling Respati, Soegija, Wouter Braaf, Wouter Zweers
Apa yang akan Anda harapkan dari sebuah film yang berjudul Soegija – atau film-film yang menggunakan nama salah satu karakter dalam cerita sebagai judul filmnya? Tentu saja, jawaban paling sederhana adalah Anda akan mengharapkan karakter tersebut menjadi tumpuan utama cerita dimana para penonton akan diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat siapa karakter tersebut dan kemungkinan besar akan menjadi karakter utama dalam pengisahan jalan cerita film tersebut. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada Soegija. Lewat press release dan beberapa konferensi pers yang diadakan oleh Garin Nugroho dalam rangka memperkenalkan film ini, ia berulangkali mengungkapkan bahwa Soegija bukanlah sebuah film biografi. Soegija lebih bercerita mengenai sifat nasionalisme sang karakter dan perjuangannya dalam membantu perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaan – lewat cara diplomasi – melalui deretan karakter yang hadir dalam cerita film ini. Dan memiliki porsi yang jauh lebih banyak daripada sang karakter yang namanya dijadikan judul film.
Review: Xia Aimei (2012)
Posted: January 16, 2012 in Movies, ReviewTags: Alyandra, Asian Cinema, Ferry Salim, Franda, Gilang Dirgahari, Indonesian Cinema, Jasmine Julia Machate, Movies, Norman Kamaru, Olga Lydia, Review, Samuel Rizal, Shareefa Daanish, Xia Aimei
Tahun 2012 baru memasuki minggu keduanya namun para penggemar sinema Indonesia sepertinya tidak akan begitu kesusahan untuk menemukan salah satu kandidat film terkuat untuk memenuhi daftar film Indonesia terburuk mereka di akhir tahun nanti. Film tersebut berjudul Xia Aimei, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan bagi seorang sutradara yang bernama Alyandra serta menampilkan penampilan akting perdana dari Franda dan Norman Kamaru – yes, that Norman guy! – serta didukung oleh penampilan akting dari nama-nama seperti Ferry Salim, Olga Lydia, Samuel Rizal dan Shareefa Daanish. Lalu apa yang salah? Hampir semuanya. Pengarahan yang begitu lemah, naskah cerita yang memiliki kecerdasan yang begitu terbatas hingga penampilan akting yang… well… ssangat sukar untuk dikategorikan sebagai akting dari sleuruh jajaran pemerannya.
Review: Te[rekam] (2010)
Posted: March 21, 2010 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Indonesian Cinema, Julia Perez, Koya Pagayo, Monique Henry, Movies, Olga Lydia, Review, Te[rekam]
Te[rekam] adalah sebuah film yang tercipta akibat sebuah “ketidaksengajaan” yang terjadi ketika model dan aktris Olga Lidya hendak membuat sebuah film horror bersama dua orang temannya, Julia Perez dan Monique Henry. Berbagai hal aneh yang dialami oleh mereka dan terekam dalam beberapa buah handycam ternyata sudah lebih dari cukup untuk membuat sebuah film horror ketika kumpulan footage tersebut jatuh ke tangan seorang sutradara sekelas… Koya Pagayo.
















