Posts Tagged ‘Norman Akyuwen’

ffi2013Setelah Fiksi yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Belenggu arahan Upi. 13 dari 15 kategori yang tersedia dalam Festival Film Indonesia 2013! That’s huge! Belenggu berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Naskah Asli Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Upi, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Abimana, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk dua pemerannya, Imelda Therinne dan Laudya Cinthya Bella, serta Film Terbaik dimana Belenggu akan bersaing dengan 5 cm, Habibie & Ainun, Laura & Marsha dan Sang Kiai.

(more…)

get-m4rried-header

Meski tak satupun diantara seri lanjutan Get Married (2007) yang mampu menghadirkan kualitas presentasi cerita maupun guyonan sekuat seri pemulanya, namun harus diakui bahwa seri film tersebut telah mendapatkan sejumlah penggemar loyal dari kalangan penonton film Indonesia. Seri terakhirnya, Get Married 3 (2011) – yang hadir dengan kualitas paling buruk jika dibandingkan dengan dua seri Get Married sebelumnya, bahkan masih mampu meraih kesuksesan dengan perolehan jumlah penonton berada di atas angka 500 ribu. Karenanya, tidak mengherankan jika kemudian Starvision Plus kembali mengumpulkan para jajaran pemeran serta kru produksi seri film ini untuk membuat seri keempat yang diberi judul Get M4rried dan berusaha untuk mengulang kesuksesan tersebut.

(more…)

tak-sempurna-header

Dengan konsep penceritaan yang berjalan hanya selama satu hari, Tak Sempurna memulai kisahnya dengan mengenalkan tiga karakter utama film ini, yang juga saling bersahabat, Dey (Derry Neo) yang sama sekali tidak memiliki rasa takut, Ba’on (G-voiz) yang tidak dapat berbicara karena lidahnya yang telah terpotong serta Sabun (Dallas Pratama) yang merupakan sosok pemuda taat beragama. Ketiganya tinggal di sebuah daerah pinggiran kota yang jelas jauh dari kesan mewah. Dalam kesehariannya, Dey dan Ba’on menjual ganja hasil olahan Prof (Norman Akyuwen) sementara Sabun menjual DVD bajakan – walaupun ia sepertinya sama sekali tidak menyadari kalau pekerjaannya adalah sebuah tindakan yang ilegal.

(more…)

sang-kiai-header

Rako Prijanto makes a really bold move with Sang Kiai. Sutradara yang sebelumnya lebih banyak mengarahkan film-film drama romansa serta komedi seperti Ungu Violet (2005), Merah Itu Cinta (2007) hingga Perempuan-Perempuan Liar (2011) ini mencoba untuk keluar dari zona nyamannya dengan mengarahkan sebuah film biopik mengenai Hasyim Asy’ari yang merupakan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan sekaligus pendiri organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Again, it’s a really bold move… dan Rako jelas terlihat memiliki visi yang kuat mengenai jalan cerita yang ingin ia hantarkan. Namun sayangnya, naskah arahan Anggoro Saronto (Malaikat Tanpa Sayap, 2012) justru kurang berhasil untuk tampil kuat dalam bercerita, kehilangan fokus di banyak bagian dan, yang terlebih mengecewakan, menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat mengenalkan dengan lugas sosok besar Hasyim Asy’ari kepada penonton modern.

(more…)

Deddy Mizwar sepertinya belum puas untuk bermain di sekitar wilayah drama satir. Setelah film-film semacam Kentut (2011) dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010), Deddy kembali hadir sebagai produser – sekaligus hadir sebagai pemeran dalam kapasitas terbatas – untuk film terbaru arahan Herwin Novianto (Jagad X Code, 2009) yang berjudul Tanah Surga… Katanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Danial Rifki, Tanah Surga… Katanya mencoba untuk membahas struktur kehidupan masyarakat yang berada di daerah perbatasan negara Indonesia – Malaysia, khususnya dari segi ekonomi. Sebuah sentuhan kritis yang jelas terasa begitu sensitif, namun Tanah Surga… Katanya mampu menyajikannya dengan penceritaan yang elegan.

(more…)

Kita Versus Korupsi adalah sebuah film omnibus, yang berdasarkan judul yang digunakan oleh film ini, menceritakan mengenai berbagai hal yang menyinggung mengenai tindak kasus korupsi – sebuah penyakit sosial dan hukum yang saat ini sedang mewabah dengan begitu hebatnya di kalangan masyarakat Indonesia. Namun, mungkin akan jauh dari bayangan banyak orang, Kita Versus Korupsi tidaklah berniat untuk bercerita secara investigatif mengenai proses perlawanan terhadap kasus-kasus besar korupsi di negeri ini. Empat film pendek yang ada dalam satuan Kita Versus Korupsi lebih ingin menunjukkan bagaimana sebenarnya sebuah tindakan korupsi sebenarnya dapat berada di berbagai sudut kehidupan keseharian penontonnya.

(more…)

Ketika Jaleswari (Marcella Zalianty) ditugaskan oleh pimpinan perusahaannya (Amroso Katamsi) untuk menyelidiki mengapa kegiatan Corporate Social Responsibility dalam bidang pendidikan perusahaan mereka tidak berjalan dengan lancar pada sebuah perkampungan di wilayah Entikong, Kabupaten Sangau, Kalimantan Barat, Jaleswari tentu saja tidak akan mengharapkan bahwa ia akan tertahan lama di wilayah tersebut. Jaleswari, seorang wanita yang terbiasa hidup dengan gaya hidup modern dan baru saja kehilangan suaminya sekaligus menyadari bahwa ia sedang hamil, hanya ingin agar masalah tersebut cepat selesai. Karenanya, walau sang ibu (Tetty Liz Indriati) dengan tegas meminta agar Jaleswari menolak penugasan tersebut, Jaleswari tetap bersikukuh untuk pergi ke wilayah terpencil itu selama dua minggu. Jauh dari peradaban dan keluarganya di Jakarta, Jaleswari akan segera mengenal sejauh mana batas ketahanan dirinya dalam mengenal dan bertahan dalam sebuah lingkungan baru.

(more…)