Jika saja The Fighter (2010) tidak dirilis terlebih dahulu, dan berhasil meraih kesuksesan kritikal dan komersial yang begitu besar, mungkin tahun ini perhatian dunia akan tertuju pada penampilan luar biasa dari trio Tom Hardy, Joel Edgerton dan Nick Nolte dalam sebuah film bertemakan olahraga arahan Gavin O’Connor (Pride and Glory, 2008), Warrior. Secara kualitas, Warrior sama sekali tidak jauh berbeda dengan The Fighter. Sama-sama mewarnai jalan ceritanya dengan konflik keluarga yang terjadi di antara karakter-karakternya, Warrior mampu tampil cemerlang, lebih keras dan lebih gelap di bagian awal pengisahan cerita. Sayangnya, seiring dengan berjalannya durasi film, Warrior terjebak dengan banyak dramatisasi kisah yang hanya membuat durasi film ini membengkak hingga sepanjang 140 menit tanpa mampu memberikan ikatan emosional yang berarti.
Posts Tagged ‘Noah Emmerich’
Review: Warrior (2011)
Posted: November 23, 2011 in Movies, ReviewTags: Anthony "Rumble" Johnson, Bryan Callen, Denzel Whitaker, Erik Apple, Frank Grillo, Gavin O'Connor, Jake McLaughlin, Jennifer Morrison, Joel Edgerton, Josh Rosenthal, Kevin Dunn, Kurt Angle, Maximiliano Hernández, Movies, Nate Marquardt, Nick Nolte, Noah Emmerich, Rashad Evans, Review, Sam Sheridan, Tom Hardy, Vanessa Martinez, Warrior
Review: Super 8 (2011)
Posted: October 25, 2011 in Movies, ReviewTags: Amanda Michalka, Bruce Greenwood, Dan Castellaneta, David Gallagher, Elle Fanning, Gabriel Basso, Glynn Turman, J. J. Abrams, Joel Courtney, Joel McKinnon Miller, Kyle Chandler, Michael Hitchcock, Movies, Noah Emmerich, Remy Thorne, Review, Riley Griffiths, Ron Eldard, Ryan Lee, Super 8, Zach Mills
Mereka yang menyukai film-film karya Steven Spielberg seperti Close Encounters of the Third Kind (1977) atau E.T.: The Extra-Terrestrial (1982), sepertinya akan dengan mudah menemukan diri mereka terbuai dan jatuh cinta dengan Super 8, sebuah film yang menjadi kelanjutan karir J. J. Abrams sebagai seorang sutradara film layar lebar setelah kesuksesannya dalam menggarap ulang Star Trek di tahun 2009 lalu. Tidak mengherankan, sebenarnya. Untuk film ini, Abrams untuk pertama kalinya bekerjasama dengan Spielberg – yang semenjak lama telah dianggap Abrams sebagai salah satu tokoh yang paling ia idolakan dan berpengaruh dalam karir filmnya – dan karenanya, mungkin adalah tepat untuk melihat Super 8 sebagai sebuah penghormatan terhadap film-film science fiction karya Spielberg yang selalu dapat tampil menarik, hangat dan selalu dengan mudah menemukan tempat di hati para penontonnya.
Review: Sympathy for Delicious (2010)
Posted: August 9, 2011 in Movies, ReviewTags: Christopher Thornton, John Carroll Lynch, Juliette Lewis, Laura Linney, Mark Ruffalo, Movies, Noah Emmerich, Orlando Bloom, Review, Sympathy for Delicious
Dean O’Dwyer atau yang lebih dikenal sebagai Delicious D (Christopher Thornton) telah merasakan depresi di sepanjang hidupnya karena kelumpuhan yang ia alami. Berbagai cara untuk menyembuhkan kelumpuhan tersebut telah ia coba, termasuk dengan mendatangi pertemuan keagamaan yang dihadiri para faith healer yang mengaku dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit – walaupun ia sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan maupun adanya keajaiban yang dapat saja terjadi dalam hidup. Namun, tak satupun cara pengobatan yang ia tempuh mampu mengeluarkannya dari kursi roda di mana ia hidup di kesehariannya.
Review: Fair Game (2010)
Posted: February 27, 2011 in Movies, ReviewTags: Adam LeFevre, Broke Smith, Bruce McGill, David Andrews, David Denman, Doug Liman, Fair Game, Geoffrey Cantor, Khaled El Nabawy, Michael Kelly, Movies, Naomi Watts, Nassar, Noah Emmerich, Review, Sam Shepard, Satya Bhabha, Sean Penn, Ty Burrell
Masih ingat dengan Nothing but the Truth (2008)? Film thriller politik arahan sutradara Rod Lurie yang terinspirasi dari kisah nyata mengenai seorang jurnalis The New York Post, Judith Miller, yang terpaksa harus mendekam di penjara setelah ia menolak permintaan pemerintahan Amerika Serikat untuk membuka rahasia siapa narasumber yang ia gunakan dalam sebuah berita yang ia tulis? Fair Game adalah film yang masih berputar di pembahasan masalah yang sama, namun kali ini menggunakan sudut pandang yang berbeda. Jika Nothing but the Truth mengupas masalah tersebut – dengan jalan cerita fiktif — dari sudut pandang sang jurnalis, maka Fair Game mengambil ceritanya dari sudut pandang Valerie Plame, seorang agen Central Intelligence Agency yang ditulis beritanya oleh Judith Miller dan menyebabkan Miller dijebloskan ke penjara.















