Posts Tagged ‘Muhammad Yusuf’

kemasukan-setan-header

Setelah kesuksesannya menggarap The Witness (2012) – yang meraih popularitas cukup tinggi ketika ditayangkan di Filipina dan sempat dinominasikan untuk mewakili negara tersebut berlaga di kategori Best Foreign Language Film pada ajang The 85th Annual Academy Awards, Muhammad Yusuf kembali lagi dengan film terbarunya, Kemasukan Setan. Berbeda dengan empat film yang pernah diarahkan Muhammad Yusuf sebelumnya, Kemasukan Setan adalah sebuah film thriller yang memanfaatkan teknik penceritaan found footage sekaligus menumpukan seluruh perhatian ceritanya pada satu karakter utama. Jelas sebuah gaya penceritaan yang cukup beresiko, khususnya bagi pangsa pasar penonton Indonesia. Sayang, keberanian Muhammad Yusuf untuk mengambil resiko tersebut hadir dengan naskah cerita yang berisi terlalu banyak kelemahan di berbagai sisi penceritaannya yang kemudian membuat Kemasukan Setan seringkali tampil cenderung membosankan.

(more…)

Sebagai seorang sutradara, nama Muhammad Yusuf mungkin masih belum familiar bagi banyak penonton film Indonesia. Muhammad Yusuf sendiri, yang juga pernah menjadi seorang aktor di tahun 1980an, memulai debut penyutradaraannya dengan kurang mengesankan. Film Jinx yang ia arahkan dan dirilis pada tahun 2010, gagal untuk mendapatkan perhatian publik, baik dari sisi kualitas maupun komersial. Kegagalan tersebut sepertinya menjadi pemicu bagi Muhammad Yusuf untuk menghasilkan Tebus (2011), yang walaupun masih hadir dengan beberapa kelemahan, namun mampu menunjukkan sebuah peningkatan kualitas yang berarti. Tebus sendiri kemudian berhasil memberikan sebuah nominasi Penulis Cerita Asli Terbaik bagi Muhammad Yusuf dan Sarjono Sutrisno serta nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik bagi Tio Pakusadewo di ajang Festival Film Indonesia tahun lalu.

(more…)

Mereka yang selama ini mengeluhkan bahwa tema cerita film-film Indonesia memiliki variasi yang sangat minim seharusnya dapat merasa cukup senang dengan kehadiran Tebus, yang ditulis dan disutradarai oleh Muhammad Yusuf, yang tahun lalu sempat menggoreskan sedikit memori buruk di banyak ingatan penonton film Indonesia lewat film yang menjadi debut penyutradaraannya, Jinx (2010). Tebus sama sekali bukan sebuah karya yang brilian maupun revolusioner – para sineas Korea Selatan sepertinya telah menetapkan standar yang sangat tinggi untuk film-film bertemakan pembalasan dendam. Namun, belajar dari kesalahannya di film pertama, Muhammad Yusuf berhasil menyusun Tebus menjadi sebuah film yang penuh dengan teka-teki dan intensitas ketegangan yang makin meningkat di tiap menitnya dengan menggunakan alur kisah maju mundur yang sangat efektif.

(more…)