Setelah Rudi Soedjarwo (Kambing Jantan, 2009) dan Fajar Nugros (Cinta Brontosaurus, 2013), kini giliran Salman Aristo yang mencoba untuk mengeksekusi tatanan kisah komedi yang ditulis oleh Raditya Dika. Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Cinta dalam Kardus bukanlah sebuah film yang diadaptasi dari buku karya Raditya Dika – meskipun masih tetap memperbincangkan deretan problematika cinta yang dihadapi oleh sang karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Raditya Dika bersama dengan Salman Aristo – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dalam menuliskan naskah cerita Kambing Jantan, Cinta dalam Kardus berusaha menghadirkan sebuah sajian komedi eksperimental dimana sang karakter utamanya secara konstan berbicara kepada penonton melalui kamera sembari terus menggulirkan kisah-kisahnya. Jelas bukan sebuah penuturan komedi yang biasa untuk penonton Indonesia, namun harus diakui, mampu tergarap baik di tangan Salman Aristo dan Raditya Dika.
Posts Tagged ‘Movies’
Review: Cinta dalam Kardus (2013)
Posted: June 19, 2013 in Movies, ReviewTags: Adhitya Putri, Anizabella Lesmana, Asian Cinema, Cinta dalam Kardus, Dahlia Poland, Erly Ashy, Fauzan Nasrul, Felicya Angellista, Hadian Saputra, Indonesian Cinema, Lukman Sardi, Martina Tesela, Masayu Clara, Movies, Naziful Fuad, Raditya Dika, Review, Ryan Adriandhy, Salman Aristo, Sharena, Tina Toon, Tissa Biani Azzahra, Tony Taulo, Wichita Setiawati
Review: After Earth (2013)
Posted: June 17, 2013 in Movies, ReviewTags: After Earth, Chris Geere, David Denman, Gabriel Caste, Isabelle Fuhrman, Jaden Smith, Kristofer Hivju, Lincoln Lewis, M. Night Shyamalan, Movies, Review, Sophie Okonedo, Will Smith, Zoë Kravitz
First of all… let’s just be clear about one thing. Melihat bagaimana kualitas presentasi cerita beberapa film M. Night Shyamalan terakhir, rasanya tidak seorangpun yang harusnya masih menantikan Shyamalan kembali hadir dengan kualitas yang serupa seperti yang pernah ia hadirkan dahulu dalam The Sixth Sense (1999). On the other hand, rasanya adalah suatu hal yang jelas pula bahwa hingga saat ini, Shyamalan sama sekali belum pernah hadir dengan kualitas film yang benar-benar buruk. Baiklah, Lady in the Water (2006), The Happening (2008) maupun The Last Airbender (2010) mungkin sulit diterima banyak orang sebagai deretan karya yang menonjol karena jalan cerita yang cenderung datar, membosankan atau gagal tergarap dengan baik. Pun begitu, harus diakui, bahkan dalam filmnya yang dianggap memiliki kualitas terlemah, Shyamalan mampu menghadirkan alur cerita serta desain produksi yang masih sanggup memberikan filmnya beberapa poin keunggulan.
Review: 308 (2013)
Posted: June 13, 2013 in Movies, ReviewTags: 308, Asian Cinema, Denny Soemargo, Gilang Dirga, Indonesian Cinema, Jose Poernomo, Kartika Putri, Ki Kusumo, Kimberly Ryder, Marcell Domits, Movies, Review, Samudra Hotel, Shandy Aulia, Sylvia Fully R, Yafi Tesa Zahara
Heeeee’s baaaack! Jose Poernomo kembali hadir dengan membawakan sebuah film horor yang, tentu saja, berkisah tentang berbagai lokasi yang dianggap memiliki aura mistis di berbagai wilayah Indonesia. Kembali bekerjasama dengan penulis naskah Riheam Junianti serta aktris Shandy Aulia setelah sebelumnya sukses dalam Rumah Kentang (2012), lewat 308, Jose mencoba untuk bercerita mengenai keberadaan sebuah kamar hotel misterius dan keterkaitannya dengan salah satu tokoh mistis legendaris yang sebenarnya telah dieksplorasi oleh banyak film horor Indonesia: Nyi Roro Kidul. Sejujurnya, Jose Poernomo pernah hadir dengan kualitas film yang jauh lebih buruk dari 308. Namun tetap saja, dengan dukungan penggalian naskah cerita dan penampilan jajaran pemeran yang begitu minimalis, masih terasa sulit untuk dapat memberikan kredit lebih bagi film ini.
Review: Honeymoon (2013)
Posted: June 12, 2013 in Movies, ReviewTags: Ardina Rasti, Asian Cinema, Boyke Dian Nugraha, Caroline Elodie, Fathir Muchtar, Fera Feriska, Findo Purnomo HW, Garneta Haruni, Ghina Salsabila, Honeymoon, Indonesian Cinema, Indra Bekti, Jaja Mihardja, Lydia Kandou, Mastur, Maya Otos, Meriam Bellina, Movies, Nino Fernandez, Prilly Latuconsina, Review, Shireen Sungkar, Sylvia Fully R, Titi Qadarsih, Wakid Khalid
Jika saja kualitas sebuah film hanya dinilai dari penampilan fisik para jajaran pengisi departemen aktingnya, maka Honeymoon mungkin akan menjadi salah satu film terbaik yang pernah diproduksi… sepanjang masa. Layaknya film produksi Starvision Plus lainnya, Operation Wedding, yang dirilis beberapa bulan lalu, Honeymoon jelas terlihat merupakan sebuah film yang berusaha untuk menarik perhatian para penonton muda dengan mengedepankan jajaran pemeran berwajah atraktif yang memang cukup dikenal bagi demografi sasaran film ini. Well… here comes the bad news: atraktifnya wajah para pemeran sebuah film sama sekali tidak akan membantu meringankan beban penderitaan (beberapa) penonton dalam mengikuti eksekusi dari sebuah naskah cerita yang benar-benar dangkal… khususnya bila, seperti yang terjadi pada kasus film arahan Findo Purnomo HW (Fallin’ in Love, 2012) ini, jajaran pemeran berwajah atraktif tersebut juga sama sekali tidak mau berusaha untuk berakting dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan.
Review: Now You See Me (2013)
Posted: June 11, 2013 in Movies, ReviewTags: Common, Conan O'Brien, Dave Franco, David Warshofsky, Elias Koteas, Isla Fisher, J. Larose, Jesse Eisenberg, Jose Garcia, Louis Leterrier, Mark Ruffalo, Mélanie Laurent, Michael Caine, Michael J. Kelly, Morgan Freeman, Movies, Now You See Me, Review, Woody Harrelson
Diarahkan oleh Louis Leterrier (Clash of the Titans, 2010), Now You See Me membuka pengisahannya dengan memperkenalkan empat karakter pesulap yang masing-masing memiliki keahlian yang berbeda: J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher), Jack Wilder (Dave Franco) dan Merritt McKinney (Woody Harrelson). Sebuah undangan dari sosok misterius kemudian membawa mereka ke satu tempat dan akhirnya memperkenalkan mereka satu sama lain. Linimasa jalan penceritaan kemudian berpindah ke masa satu tahun kemudian, dimana keempatnya kini telah tergabung dalam sebuah kelompok bernama The Four Horsemen dan memiliki pertunjukan yang begitu popular di Las Vegas dengan bantuan sokongan dana dari milyuner, Arthur Tressler (Michael Caine).
Review: Laura & Marsha (2013)
Posted: June 6, 2013 in Movies, ReviewTags: Adinia Wirasti, Afiqah Ibrahim, Arry Susanto, Asian Cinema, Ayal Oost, Dinna Jasanti, Indonesian Cinema, Kartika Rizky, Laura & Marsha, Lie Darmawan, Movies, Prisia Nasution, Ratna Riantiarno, Restu Sinaga, Review, Tutie Kirana, Widiarto, Zefanya Christin Malau
Well… isn’t this nice? Dua aktris muda paling bertalenta di industri film Indonesia saat ini saling beradu peran dalam satu film. Di bawah arahan Dinna Jasanti (Burung-Burung Kertas, 2007) dengan naskah yang ditulis oleh Titien Wattimena (Sang Pialang, 2013), Laura & Marsha menempatkan Prisia Nasution dan Adinia Wirasti sebagai dua sahabat yang memutuskan untuk meninggalkan kesibukan harian mereka di Jakarta untuk sementara dan kemudian melakukan perjalanan bersama ke beberapa negara Eropa. Yep. Laura & Marsha adalah sebuah road movie yang akan membawa penontonnya untuk menikmati keindahan klasik kota-kota Eropa seperti Amsterdam, Verona hingga Viena. As usual, the basic rule of a road movie is: it’s not the destination that matters, but it’s the journey. Dan apakah Laura & Marsha mampu memberikan perjalanan yang dapat dinikmati tersebut kepada para penontonnya?





















