So… this is the end. Hold your breath and count to ten. No… seriously. Franchise James Bond masih akan ada untuk puluhan tahun mendatang. Namun, kecuali jika Hollywood kemudian berusaha untuk mengambil keuntungan komersial tambahan dengan melakukan reboot atau mengadaptasi novel karya Stephanie Meyer menjadi sebuah serial televisi, maka The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 akan menjadi kali terakhir dunia dapat menyaksikan kisah percintaan antara Bella Swan dan Edward Cullen di layar lebar – yang tentu akan menjadi momen yang sangat menyedihkan bagi beberapa orang dan… momen yang patut untuk dirayakan bagi sebagian orang lainnya. Pun begitu, sebenci apapun Anda terhadap keberadaan franchise ini, rasanya adalah tidak mungkin untuk menyangkal bahwa keberadaan sutradara Bill Condon semenjak The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 mampu memberikan perubahan yang menyegarkan pada franchise ini. Dan untuk menyelesaikan tugasnya, Condon ternyata mampu memberikan kejutan yang sangat, sangat manis pada The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2. Sebuah kejutan yang sebenarnya telah lama ditunggu kehadirannya dan, untungnya, mampu dieksekusi dengan sempurna.
Posts Tagged ‘Michael Sheen’
Review: Midnight in Paris (2011)
Posted: December 31, 2011 in Movies, ReviewTags: Adrien Brody, Adrien de Van, Alison Pill, Carla Bruni, Corey Stoll, Daniel Lundh, David Lowe, Emmanuelle Uzan, François Rostain, Gad Elmaleh, Kathy Bates, Kurt Fuller, Laurent Claret, Léa Seydoux, Marcial Di Fonzo Bo, Marion Cotillard, Michael Sheen, Midnight in Paris, Mimi Kennedy, Movies, Nina Arianda, Olivier Rabourdin, Owen Wilson, Rachel McAdams, Review, Sonia Rolland, Tom Cordier, Tom Hiddleston, Vincent Menjou Cortes, Woody Allen, Yves Heck, Yves-Antoine Spoto
Akan sangat mudah untuk jatuh cinta kepada Midnight in Paris – sebuah film yang menandai kali pertama perjalanan sinema seorang Woody Allen di kota romantis tersebut. Semenjak pertama film ini dimulai, yang ditandai dengan sebuah adegan pembuka sepanjang tiga menit yang berisi banyak pemandangan indah kota Paris yang diiringi dengan musik jazz yang sangat menghipnotis, penonton telah dapat merasakan bahwa Midnight in Paris akan menjadi sebuah persembahan cinta Allen kepada kota terbesar di negara Perancis tersebut. Namun, Midnight in Paris tidak hanya melulu berkisah seputar kesuksesan Allen dalam menangkap esensi keindahan kota tersebut. Allen – yang dalam beberapa film terakhirnya gagal mempersembahkan sebuah presentasi cerita yang segar kepada para penggemarnya – kali ini berhasil memberikan jalan cerita yang begitu ringan namun begitu imaginatif serta, layaknya kota Paris, begitu indah dan romantis untuk disimak.
Review: The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 (2011)
Posted: November 22, 2011 in Movies, ReviewTags: Alex Meraz, Anna Kendrick, Ashley Greene, Billy Burke, Booboo Stewart, Casey LaBow, Chaske Spencer, Christian Camargo, Christopher Heyerdahl, Jackson Rathbone, Jamie Campbell Bower, Julia Jones, Kellan Lutz, Kristen Stewart, Maggie Grace, Mia Maestro, Michael Sheen, Michael Welch, Movies, MyAnna Buring, Nikki Reed, Peter Facinelli, Review, Robert Pattinson, Sarah Clarke, Taylor Lautner, The Twilight Saga: Breaking Dawn - Part 1, Ty Olsson
Jika terdapat satu kesamaan yang pasti antara Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 dengan The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1, selain dari jalan cerita kedua film tersebut yang menawarkan sebuah alur kisah fantasi, maka hal tersebut dapat ditemukan dari kerakusan para produsernya untuk meraup keuntungan komersial sebanyak mungkin dari para penggemar berat franchise tersebut. Jujur saja, seri terakhir dari novel Harry Potter dan The Twilight Saga dapat saja ditampilkan dalam sebuah film cerita secara penuh – walau harus menghabiskan durasi waktu yang melebihi durasi penayangan standar film-film lainnya. Namun dengan alasan untuk ‘menampilkan seluruh esensi cerita yang terdapat dalam bagian terakhir dari seri novel tersebut,’ para produser film akhirnya membuatkan dua bagian film dari satu novel tersebut. Please!
Review: Beautiful Boy (2010)
Posted: August 10, 2011 in Movies, ReviewTags: Alan Tudyk, Austin Nichols, Beautiful Boy, Kyle Gallner, Maria Bello, Meat Loaf Aday, Michael Sheen, Moon Bloodgood, Movies, Review, Shawn Ku
Bayangkan jika orang yang paling Anda sayangi menjadi korban dalam sebuah tragedi berdarah. Bayangkan jika setelah mengetahui bahwa orang yang Anda sayangi menjadi korban dalam sebuah tragedi berdarah, pihak kepolisian datang ke rumah Anda dan menyatakan bahwa orang yang paling Anda sayangi tersebut diduga kuat menjadi dalang terjadinya tragedi berdarah tersebut. Setelah Bowling for Columbine (2002) dan Elephant (2003) serta We Need to Talk About Kevin yang akan dirilis akhir tahun ini, sutradara Shawn Ku mencoba untuk membahas mengenai tragedi penembakan yang terjadi di sekolah dalam karya fiktif yang naskah ceritanya ia tulis bersama Michael Armbruster, Beautiful Boy.
Review: Tron: Legacy (2010)
Posted: December 17, 2010 in Movies, ReviewTags: Beau Garrett, Bruce Boxleitner, Cillian Murphy, Garrett Hedlund, James Frain, Jeff Bridges, Joseph Kosinski, Michael Sheen, Movies, Olivia Wilde, Review, Tron: Legacy
Ketika Walt Disney merilis Tron untuk pertama kalinya pada tahun 1982, film tersebut mendapatkan sambutan yang luar biasa dari para kritikus film dunia. Walau kebanyakan pendapat yang muncul turut menggarisbawahi kekurangan Tron dalam memberikan jalan cerita yang kuat, namun penggunaan teknologi yang jauh lebih maju dari masanya di dalam jalan cerita Tron mampu menjadikan film ini meraih banyak penggemar yang terus memujanya hingga saat ini. Wajar jika hampir 30 tahun kemudian, Walt Disney memutuskan untuk membangkitkan kembali memori banyak penggemar film dunia akan Tron dengan membuatkan film tersebut sebuah sekuel, Tron: Legacy, dengan tentu saja menggunakan teknologi perfilman yang telah amat jauh berkembang (baca: eksploitasi teknologi 3D).


















