Posts Tagged ‘Michael Fassbender’

Hollywood sepertinya belum akan berhenti untuk mengeksplorasi mengenai asal usul mengenai darimana kehidupan manusia berasal. Setelah Terrence Malick tahun lalu menyajikan The Tree of Life yang syahdu, kini giliran Ridley Scott yang melakukannya lewat Prometheus. Prometheus merupakan film pertama yang diarahkan oleh Scott setelah merilis Robin Hood pada tahun 2010 lalu sekaligus menandai kembalinya Scott ke genre science fiction setelah dalam dua dekade terakhir terus menerus mengarahkan film-film drama – yang kemudian berhasil memberikannya tiga nominasi Best Director di ajang Academy Awards untuk Thelma and Louise (1991), Gladiator (2000) dan Black Hawk Down (2001).

(more…)

Adalah sangat mudah untuk membayangkan Haywire jatuh ke tangan seorang sutradara yang ahli dalam menangani film-film aksi untuk kemudian dieksekusi sebagai sebuah film yang menempatkan sang karakter wanita utama berjuang menuntut keadilan dan mencari kebenaran mengenai sebuah masalah dengan melalui berbagai perjuangan yang mengharuskannya untuk menghadapi sekelompok pria bersenjata dan pertarungan yang diwarnai dengan pertumpahan darah. Namun, Anda tentu tidak akan mengharapkan hal yang sama akan terjadi bila plot cerita tersebut jatuh ke tangan seorang sutradara yang sebelumnya pernah mengeksekusi jalan cerita mengenai pembasmian sebuah virus mematikan menjadi semacam sebuah video essay saintifik yang mungkin hanya dapat dicerna dengan mudah oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia kesehatan bukan?

(more…)

Berbeda dengan Pride and Prejudice (1813) yang ditulis oleh Jane Austen, novel karya Charlotte Brontë, Jane Eyre, memiliki struktur cerita yang lebih kelam dan tragis, meskipun sama-sama merupakan sebuah kisah romansa yang kisahnya dipimpin oleh seorang karakter wanita yang memiliki jalan pemikiran maju dan melebihi orang-orang di sekitarnya. Dirilis pertama kali pada tahun 1847, dengan konteks dan tema cerita yang kompleks namun diselimuti dengan kisah romansa yang begitu efektif, Jane Eyre kemudian mendapatkan tempat khusus di hati berjuta pecinta karya sastra dunia sekaligus menjadikannya sebagai karya terpopuler Brontë di sepanjang karirnya sebagai seorang novelis. Tidak mengherankan jika kemudian Jane Eyre banyak diadaptasi ke dalam medium penceritaan lainnya. Tercatat, versi teranyar dari Jane Eyre yang diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga (Sin Nombre, 2009) merupakan film layar lebar ke-16 yang mengadaptasi jalan cerita novel karya Brontë tersebut.

(more…)

The Tree of Life, yang merupakan film keenam Terrence Malick dalam karir penyutradaraannya yang telah berjalan semenjak tahun 1969, berhasil menjadi pemenang terbesar dalam The 15th Annual Online Film Critics Society Awards. Memimpin daftar nominasi dengan perolehan tujuh nominasi, The Tree of Life berhasil memenangkan lima penghargaan diantaranya termasuk untuk kategori Best Picture, Best Director (Terrence Malick) dan Best Supporting Actress (Jessica Chastain). Pemenang lainnya termasuk Michael Fassbender yang memenangkan kategori Best Lead Actor untuk penampilannya di Shame, Tilda Swinton (We Need to Talk About Kevin) yang memenangkan kategori Best Lead Actress dan Christopher Plummer (Beginners) yang memenangkan kategori Best Supporting Actor.

(more…)

Dalam Shame, Michael Fassbender berperan sebagai Brandon Sullivan, seorang eksekutif muda New York yang memiliki semua hal yang mungkin diinginkan setiap pria seusianya: wajah yang tampan, tubuh yang atletis, karir yang berjalan dengan lancar dan keuangan yang lebih dari sekedar cukup. Namun, Brandon menyimpan sebuah rahasia yang membuat dirinya begitu menjauhi dunia luar. Ia memiliki adiksi yang begitu parah terhadap seks. Adiksi yang menyebabkannya tidak mampu berhenti berhubungan dengan para pekerja seks komersial, bermasturbasi ketika dirinya sedang berada di kantornya, melakukan hubungan seks melalui dunia internet hingga membayangkan dirinya sedang berhubungan seks ketika sedang berhadapan dengan seorang wanita yang menarik. Brandon bahkan telah tiba pada fase bahwa berhubungan seks adalah sesuatu hal yang begitu menyiksa, namun ia tetap tidak dapat melepaskan diri dari kegiatan tersebut.

(more…)

Online Film Critics Society – sebuah perkumpulan jurnalis dan kritikus film yang berbasis internet terbesar di dunia, dimana penulis At the Movies, Amir Syarif Siregar, juga tergabung di dalamnya –  baru saja mengumumkan daftar nominasi untuk The 15th Annual Online Film Critics Society Awards. Film karya Terrence Malick, The Tree of Life, memimpin daftar perolehan nominasi dengan meraih sebanyak 7 nominasi, termasuk di kategori Best Picture, Best Director (Terrence Malick), Best Supporting Actor (Brad Pitt) dan Best Supporting Actress (Jessica Chastain). Mengikuti dibelakangnya adalah Drive yang meraih enam nominasi termasuk di kategori Best Picture dan Best Director (Nicolas Winding Refn) walaupun harus gagal menempatkan aktor utamanya, Ryan Gosling, ke dalam nominasi Best Lead Actor.

(more…)

Perebutan menuju gelar film terbaik untuk tahun 2011 semakin diperhangat dengan diumumkannya nominasi The 69th Annual Golden Globe Awards, malam ini. Untuk tahun ini, The Artist memimpin daftar perolehan nominasi setelah film asal Perancis tersebut berhasil meraih 6 nominasi termasuk nominasi di kategori Best Motion Picture – Comedy or Musical. Raihan The Artist tersebut diikuti oleh The Descendants yang memperoleh 5 nominasi serta The Ides of March, Midnight in Paris, The Help dan Moneyball yang sama-sama meraih 4 nominasi. Sementara itu, film karya Martin Scorsese, Hugo, berhasil meraih 3 nominasi termasuk untuk Best Motion Picture – Drama dan Best Director.

(more…)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

(more…)

Terlepas dari kualitas film yang berhasil ia tunjukkan dalam kurun waktu satu dekade terakhir, seperti Tigerland (2000), Phone Booth (2003) dan Veronica Guerin (2003), karir Joel Schumacher lebih sering dipandang secara sebelah mata setelah beberapa film terakhir yang ia rilis lebih banyak mendapatkan kritikan tajam dari para kritikus film dunia sekaligus gagal menarik perhatian penonton film layar lebar. Creek, atau yang juga dirilis dengan judul Blood Creek atau Town Creek di beberapa negara, adalah salah satu karya Schumacher yang hanya mendapatkan jadwal rilis layar lebar terbatas sebelum akhirnya dirilis dalam bentuk DVD. Pun begitu, para pecinta horor sepertinya tidak akan kecewa dengan apa yang ditawarkan Creek. Memberikan sebuah narasi cerita yang baru mengenai tema Nazi, Creek memiliki beberapa momen horor yang mencekam terlepas dari kurangnya konsistensi cerita yang ditunjukkan ketika durasi film ini terus bergerak.

(more…)

Tentu saja, lewat Gladiator (2000) dan 300 (2007), banyak orang telah mengenal prajurit Romawi sebagai sekumpulan serdadu yang tangguh ketika mereka sedang berada di medan peperangan. Jadi apa yang coba diberikan oleh Centurion, sebuah film bertema sama yang disutradarai oleh sutradara asal Inggris, Neil Marshall? Bayangkan apa yang terjadi jika seorang sutradara menyatukan The Descent (2005) dengan Gladiator, maka Centurion adalah hasil yang akan Anda dapatkan. Well… kurang lebih seperti itu.

(more…)