Posts Tagged ‘Masayu Clara’

cinta-dalam-kardus-header

Setelah Rudi Soedjarwo (Kambing Jantan, 2009) dan Fajar Nugros (Cinta Brontosaurus, 2013), kini giliran Salman Aristo yang mencoba untuk mengeksekusi tatanan kisah komedi yang ditulis oleh Raditya Dika. Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Cinta dalam Kardus bukanlah sebuah film yang diadaptasi dari buku karya Raditya Dika – meskipun masih tetap memperbincangkan deretan problematika cinta yang dihadapi oleh sang karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Raditya Dika bersama dengan Salman Aristo – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dalam menuliskan naskah cerita Kambing Jantan, Cinta dalam Kardus berusaha menghadirkan sebuah sajian komedi eksperimental dimana sang karakter utamanya secara konstan berbicara kepada penonton melalui kamera sembari terus menggulirkan kisah-kisahnya. Jelas bukan sebuah penuturan komedi yang biasa untuk penonton Indonesia, namun harus diakui, mampu tergarap baik di tangan Salman Aristo dan Raditya Dika.

(more…)

true-heart-header

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Armantono (Soegija, 2012) dan berlatar belakang lokasi cerita di Batam, True Heart berkisah mengenai Ferry (Agung Saga) yang kini sedang terjerumus ke dalam lembah hitam penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Ferry sebenarnya memiliki hidup yang mungkin didambakan banyak orang. Ia dan adiknya, Vina (Tri Novia Vantinasari), berasal dari latar belakang keluarga yang berkecukupan. Sayangnya, kesibukan kedua orangtua mereka (Ray Sahetapy dan Keke Soeryo Renaldi) membuat Ferry dan Vina tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup. Keterlibatan Ferry dalam penggunaan narkoba bahkan akhirnya juga turut menjebak Vina sekaligus merenggut nyawa gadis tersebut.

(more…)

Para generasi baru penikmat film mungkin sangatlah jarang untuk mendengar nama besar seorang Eduart Pesta Sirait. Padahal, pria kelahiran Tapanuli yang telah berusia 68 tahun ini memiliki catatan perjalanan yang cukup panjang dalam dunia pefilman Indonesia. Memulai karirnya sebagai seorang sutradara di tahun 1976, Eduart kemudian berhasil mencatatkan kesuksesan, baik secara kritikal maupun komersial, lewat film-filmnya. Lihat saja bagaimana film-film semacam Chicha (1976), Gadis Penakluk (1980), Sang Guru (1981) atau Blok M (1990) mampu bertahan melewati ujian waktu dan tetap tidak terasa membosankan ketika dinikmati saat ini.

(more…)