Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Jujur Prananto – yang juga bertanggungjawab atas penulisan naskah cerita film komedi Sule, Ay Need You yang dirilis beberapa waktu yang lalu – Ambilkan Bulan berkisah mengenai seorang gadis cilik berusia 10 tahun, Amelia (Lana Nitibaskara), yang merasa hidupnya selalu dirundung rasa kesepian semenjak wafatnya sang ayah (Agus Kuncoro). Rasa kesepian tersebut semakin diperparah dengan kesibukan sang ibu, Ratna (Astri Nurdin), yang sepertinya selalu memberikan jarak diantara hubungan keduanya. Tidak heran, ketika mendengar bahwa paman dan bibinya (Manu dan Harbani Setyowati Wibowo) yang berasal dari sebuah desa di Solo akan berkunjung ke Jakarta, Amelia merasa senang yang begitu luar biasa.
Posts Tagged ‘Marwoto’
Review: Ambilkan Bulan (2012)
Posted: July 1, 2012 in Movies, ReviewTags: Adrian Simon, Agus Kuncoro, Ambilkan Bulan, Arthur Boyer, Asian Cinema, Astri Nurdin, Berlianda Adelianan Naafi, Bramantyo Suryo Kusumo, Dedek Witranto, Djarot Budi Darsono, Harbani Setyowati Wibowo, Harsh Bhardhan, Hemas Nata Negari, Ifa Isfansyah, Indonesian Cinema, Jhosua Ivan Kurniawan, Laetitia Boyer, Lana Nitibaskara, Landung Simatupang, Manu, Marwoto, Movies, Mudiono, Phoebe Venetia Saputra, Review, Rima Kusuma, Sheila On 7, Sinta Novasari, Stephani Wiharto Boyer, Suharno, Supana, Tenten Tanaka, Titi Dibyo, Topik Tardjo, Wahyu Widayati, Wyan Sonata, Yuristian Adi, Yuya Mulyasih
Review: Cewek Saweran (2011)
Posted: March 8, 2011 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Cewek Saweran, Djaduk Ferianto, Dyah Arum, Eddie Cahyono, Harry Izwan, Indonesian Cinema, Juwita Bahar, Krisshatta Luis, Landung Simatupang, Marwoto, Movies, Review
Apakah menjual sebuah film dengan jalan cerita yang tidak mengandung konotasi horror dan seks begitu sulit untuk dilakukan di ranah Indonesia? Beberapa fakta dan data mungkin menunjukkan hal tersebut, walaupun masih diperlukan beberapa penelitian lanjutan untuk mendapatkan keabsahan jawaban. Namun, apa yang dilakukan oleh produser film Cewek Saweran kemungkinan besar adalah salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut. Film yang berkisah mengenai perjuangan seorang gadis remaja untuk mencapai kesuksesan sebagai seorang penyanyi dangdut – perjuangan yang tanpa mengharuskannya berpakaian minim atau melakukan adegan ranjang – dijual dengan judul Cewek Saweran – yang jelas merupakan sebuah konotasi seks bagi banyak orang – dan sebuah poster yang memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian sangat minim. Sebegitu beratnyakah menjual sebuah film ‘normal’ kepada para penonton film Indonesia?
Review: Laskar Pemimpi (2010)
Posted: October 2, 2010 in Movies, ReviewTags: Asian Cinema, Candil, Dimas Projosujadi, Dwi Sasono, Gading Marten, Gugum, Indonesian Cinema, Laskar Pemimpi, Marcell Siahaan, Marwoto, Masayu Anastasia, Moch Zaid Assiddiq, Monty Tiwa, Movies, Odie, Oon, Review, Shanty, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Udjo, Yosi
Laskar Pemimpi adalah sebuah kasus yang cukup aneh. Disutradarai dan dituliskan naskahnya oleh Monty Tiwa, film ini menjadi film kedua di tahun 2010 setelah Merah Putih II: Darah Garuda yang jalan ceritanya mengisahkan mengenai perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan militer Belanda di masa agresinya yang kedua. Dengan meletakkan nama grup musik, Project Pop, yang dikenal sering menyanyikan lagu-lagu bernuansa komedi, tentu saja Laskar Pemimpi merupakan film yang jauh berbeda isi jalan ceritanya jika dibandingkan dengan film yang disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Connor Allyn tersebut. Tidak hanya jalan ceritanya yang berada di wilayah yang berbeda, kualitas keduanya juga berada pada tingkatan perbedaan yang cukup jauh.














