Diarahkan oleh Louis Leterrier (Clash of the Titans, 2010), Now You See Me membuka pengisahannya dengan memperkenalkan empat karakter pesulap yang masing-masing memiliki keahlian yang berbeda: J. Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), Henley Reeves (Isla Fisher), Jack Wilder (Dave Franco) dan Merritt McKinney (Woody Harrelson). Sebuah undangan dari sosok misterius kemudian membawa mereka ke satu tempat dan akhirnya memperkenalkan mereka satu sama lain. Linimasa jalan penceritaan kemudian berpindah ke masa satu tahun kemudian, dimana keempatnya kini telah tergabung dalam sebuah kelompok bernama The Four Horsemen dan memiliki pertunjukan yang begitu popular di Las Vegas dengan bantuan sokongan dana dari milyuner, Arthur Tressler (Michael Caine).
Posts Tagged ‘Mark Ruffalo’
Review: Now You See Me (2013)
Posted: June 11, 2013 in Movies, ReviewTags: Common, Conan O'Brien, Dave Franco, David Warshofsky, Elias Koteas, Isla Fisher, J. Larose, Jesse Eisenberg, Jose Garcia, Louis Leterrier, Mark Ruffalo, Mélanie Laurent, Michael Caine, Michael J. Kelly, Morgan Freeman, Movies, Now You See Me, Review, Woody Harrelson
Review: Iron Man 3 (2013)
Posted: May 1, 2013 in Movies, ReviewTags: Ashley Hamilton, Ben Kingsley, Don Cheadle, Guy Pearce, Gwyneth Paltrow, Iron Man 3, James Badge Dale, Jon Favreau, Mark Ruffalo, Miguel Ferrer, Movies, Paul Bettany, Rebecca Hall, Review, Robert Downey Jr, Shane Black, Shaun Toub, Stan Lee, Stephanie Szostak, Ty Simpkins, Wang Xueqi, William Sadler
So… what’s next for Marvel Studios after the huge success of that little movie called The Avengers (2012)? It’s the return of the Iron Man, apparently. Dan di bagian ketiga penceritaannya – yang masih dibintangi oleh Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow dan Don Cheadle namun kini disutradarai oleh Shane Black (Kiss Kiss Bang Bang, 2005) yang menggantikan posisi Jon Favreau, Iron Man terkesan menyerap secara seksama pola penceritaan yang diterapkan Joss Whedon dalam The Avengers yakni dengan memasukkan lebih banyak unsur komedi ke dalam jalan penceritaannya. Hasilnya mungkin akan menghasilkan pendapat yang beragam dari banyak penggemar franchise ini. But then again… jelas sama sekali tidak ada salahnya untuk mengambil rute penceritaan yang berbeda ketika Anda sedang menangani sebuah tema yang telah begitu familiar. Khususnya ketika Anda mampu menanganinya dengan baik dan berhasil muncul dengan sebuah presentasi cerita yang benar-benar cerdas dan menghibur.
Review: The Avengers (2012)
Posted: May 7, 2012 in Movies, ReviewTags: Alexis Denisof, Chris Evans, Chris Hemsworth, Clark Gregg, Cobie Smulders, Gwyneth Paltrow, Harry Dean Stanton, Jeremy Renner, Joss Whedon, Mark Ruffalo, Movies, Paul Bettany, Review, Robert dow, Samuel L. Jackson, Scarlett Johansson, Stellan Skarsgård, The Avengers, Tom Hiddleston
Ketika berhubungan dengan film-film yang dirilis pada masa musim panas, Hollywood tahu bahwa mayoritas para penikmat film dunia menginginkan film-film dengan kualitas penceritaan yang sederhana namun dengan pengemasan yang super megah. Film-film yang murni dibuat dengan tujuan hiburan semata. The Avengers – sebuah film yang menempatkan para pahlawan Marvel Comics seperti Captain America, The Black Widow, Iron Man, Hawkeye, Thor dan Hulk berada pada satu jalan penceritaan yang sama – jelas adalah salah satu film musim panas dengan nilai hiburan yang pastinya tidak dapat diragukan lagi. Namun, di bawah pengarahan Joss Whedon (Serenity, 2005), yang bersama dengan Zak Penn (The Incredible Hulk, 2008) juga menulis naskah cerita film ini, The Avengers berhasil tampil lebih dari sekedar sebuah summer movie. Fantastis dalam penampilan, tetapi tetap mampu tampil membumi dengan kisah yang humanis nan memikat.
Review: Sympathy for Delicious (2010)
Posted: August 9, 2011 in Movies, ReviewTags: Christopher Thornton, John Carroll Lynch, Juliette Lewis, Laura Linney, Mark Ruffalo, Movies, Noah Emmerich, Orlando Bloom, Review, Sympathy for Delicious
Dean O’Dwyer atau yang lebih dikenal sebagai Delicious D (Christopher Thornton) telah merasakan depresi di sepanjang hidupnya karena kelumpuhan yang ia alami. Berbagai cara untuk menyembuhkan kelumpuhan tersebut telah ia coba, termasuk dengan mendatangi pertemuan keagamaan yang dihadiri para faith healer yang mengaku dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit – walaupun ia sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Tuhan maupun adanya keajaiban yang dapat saja terjadi dalam hidup. Namun, tak satupun cara pengobatan yang ia tempuh mampu mengeluarkannya dari kursi roda di mana ia hidup di kesehariannya.
Review: The Kids Are All Right (2010)
Posted: November 8, 2010 in Movies, ReviewTags: Annette Bening, Josh Hutcherson, Julianne Moore, Lisa Cholodenko, Mark Ruffalo, Mia Wasikowska, Movies, Review, The Kids Are All Right, Yaya DaCosta
Adalah sangat mudah untuk mendeklarasikan The Kids Are All Right sebagai sebuah film drama keluarga terbaik yang pernah dihadirkan Hollywood dalam beberapa tahun terakhir. Yang membuat film ini tampil berbeda dengan film-film keluarga Hollywood lainnya adalah di film ini Anda tidak akan menemukan sebuah keluarga — yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan beberapa anak mereka — yang kemudian diterpa beberapa permasalahan yang di dalam perjalanan cerita kemudian justru akan menjadi sebuah penguat (atau pada beberapa kasus: pemecah) keluarga tersebut. Tidak ada sosok ayah di keluarga ini. Yang ada hanyalah dua orang wanita yang saling mencintai satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk menggunakan bantuan seorang donor sperma untuk dapat memberikan mereka dua orang anak. Baiklah… Anda dapat menjuluki sang donor sperma sebagai sosok ayah bagi kedua anak tersebut.
Review: Date Night (2010)
Posted: June 17, 2010 in Movies, ReviewTags: Common, Date Night, James Franco, Jimmi Simpson, Kristen Wiig, Leighton Meester, Mark Ruffalo, Mark Wahlberg, Mila Kunis, Movies, Olivia Munn, Ray Liotta, Review, Shawn Levy, Steve Carell, Taraji P Henson, Tina Fey
Dengan tiga anak diantara mereka, Phil (Steve Carrell) dan Claire Foster (Tina Fey) memiliki tipe pernikahan yang dipastikan akan menjadi mimpi buruk bagi seorang Carrie Bradshaw: berjalan lambat dan sangat membosankan. Phil dan Claire sendiri telah menyadari hal ini, yang membuat mereka selalu berusaha untuk meluangkan satu malam di setiap minggunya untuk keluar bersama berdua dan melupakan segala rutinitas harian mereka. Namun, tradisi keluar bersama berdua ini sendiri lama-kelamaan mulai menjadi sebuah rutinitas yang membosankan pula bagi pasangan ini. Phil dan Claire membutuhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan dalam kehidupan mereka!
Review: Shutter Island (2010)
Posted: March 25, 2010 in Movies, ReviewTags: Ben Kingsley, Elias Koteas, Emily Mortimer, Jackie Earle Haley, John Carroll Lynch, Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Martin Scorsese, Max von Sydow, Michelle Williams, Movies, Patricia Clarkson, Review, Ted Levine
Shutter Island adalah sebuah karya teranyar dari salah satu sutradara paling dihormati di Hollywood, Martin Scorsese. Kembali bekerjasama dengan Leonardo DiCaprio, film ini merupakan adaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya novelis Dennis Lehane.





















