Sang Pialang memulai kisahnya dengan menceritakan persahabatan antara Mahesa (Abimana Arya) dengan Kevin (Christian Sugiono) yang sama-sama bekerja sebagai pialang saham di sebuah perusahaan sekuritas terbesar yang dimiliki oleh ayah Kevin, Rendra (Pierre Gruno). Walaupun bersahabat dekat, namun Mahesa dan Kevin memiliki pola pemikiran yang saling bertolak belakang, khususnya dalam menangani pekerjaan mereka. Mahesa dikenal sebagai sosok konservatif yang selalu berusaha sedapat mungkin untuk mengikuti dan mematuhi setiap prosedur serta peraturan yang ada. Sementara itu, Kevin adalah sosok yang lebih berani dalam melintasi aturan-aturan yang tergaris untuk mencapai keinginannya. Dua pemikiran yang berbeda inilah yang kemudian mulai menimbulkan friksi dalam hubungan persahabatan keduanya.
Posts Tagged ‘Mario Irwinsyah’
Review: Sang Pialang (2013)
Posted: January 20, 2013 in Movies, ReviewTags: Abimana Arya, Alblen Filindo Fabe, Asad Amar, Asian Cinema, Christian Sugiono, Early Ashy, Ferry Salim, Indonesian Cinema, Jaja Mihardja, Joehana Sutisna, Kamidia Radisti, Lukman Sardi, Mario Irwinsyah, Meriza Febriani, Movies, Pierre Gruno, Review, Sang Pialang, Slamet Rahardjo, Tio Pakusadewo
Review: Negeri 5 Menara (2012)
Posted: March 9, 2012 in Movies, ReviewTags: Affandi Abdul Rachman, Ahmad Dhahnial, Andhika Pratama, Arifal Faozi, Aris Putra, Ariyo Wahab, Asian Cinema, Billy Sandy, D Syamrizal Ardiwinata, David Chalik, Donny Alamsyah, Ence Bagus, Eriska Rein, Ernest Samudera, Faizal, Gazza Zubizareta, Ghecca Tavvara, Hardy Hartono, Ikang Fawzi, Indonesian Cinema, Inez Tagor, Jiofani Lubis, Khiva Iskak, Lulu Tobing, Mario Irwinsyah, Martesa Sumendra, Meirayni Fauziah, Movies, Negeri 5 Menara, Nur Nevi Awanggi, Nur Salis Alamin, Qhivva Tawwata, Rangga Djoned, Review, Rizki Ramdani, Sakurta Ginting, Tegar Satrya, Udjo Permato
Tidak salah jika Negeri 5 Menara kemudian mendapatkan perbandingan dalam skala berat terhadap film Laskar Pelangi (2008) yang legendaris itu. Sama-sama merupakan film dengan naskah cerita yang mengadaptasi sebuah novel popular, sama-sama mengisahkan mengenai perjuangan beberapa anak dari keluarga dari strata sosial menengah ke bawah yang mencoba untuk mencapai mimpi besar mereka serta, tentunya, sama-sama mengisahkan mengenai persahabatan erat yang kemudian terjalin antara mereka terlepas dari berbagai perbedaan yang terdapat dalam diri masing-masing, Negeri 5 Menara, sayangnya tidak memiliki kedalaman cerita seperti yang dimiliki Laskar Pelangi. Affandi Abdul Rachman (The Perfect House, 2011) kembali membuktikan kehandalannya dalam mengarahkan cerita dan para pengisi departemen akting filmnya. Namun jalan cerita yang minim konflik yang berarti membuat Negeri 5 Menara terasa tidak memiliki esensi cerita yang kuat untuk disampaikan.
Review: Sang Pencerah (2010)
Posted: September 12, 2010 in Movies, ReviewTags: Abdurrahman Arif, Agus Kuncoro, Alex Komang, Asian Cinema, Dennis Adhiswara, Giring Ganesha, Hanung Bramantyo, Ihsan Tarore, Ikranegara, Indonesian Cinema, Joshua Suherman, Lukman Sardi, Mario Irwinsyah, Movies, Review, Ricky Perdana, Sang Pencerah, Sitok Srengenge, Slamet Rahardjo, Sudjiwo Tedjo, Yati Surachman, Zaskia Adya Mecca
Berbeda dengan banyak rumah produksi di Hollywood, yang sepertinya selalu dapat mengandalkan karya yang berisi kisah biopik untuk dapat meraup banyak penghargaan dari berbagai ajang festival, sineas Indonesia sepertinya masih merasa bahwa biopik adalah sebuah genre film yang selain susah untuk direalisasikan, juga salah satu genre yang sulit untuk dipasarkan. Tercatat semenjak era kebangkitan kembali film Indonesia di awal tahun 2000, hanya ada dua film yang berasal dari genre ini, Marsinah (Cry Justice) (2001) karya aktor sekaligus sutradara Slamet Rahardjo serta Gie (2005) yang disutradarai oleh Riri Riza.
Review: Bebek Belur (2010)
Posted: April 12, 2010 in Movies, ReviewTags: Ade Firman Hakim, Adrianto Sinaga, Asian Cinema, Bajaj, Bebek Belur, Deddy Mizwar, Didi Petet, GIGI, Ida Kusumah, Indonesian Cinema, Jajang C Noer, Joshua Pandelaki, Kaharudin Syah, Laela Sari, Mario Irwinsyah, Movies, Nana S Patah, Nungki Kusumastuti, Review, Rima Melati, Rini Yulianti, Sam Bimbo, Sigit Hardadi, Slamet Rahardjo, Thessa Kaunang, Torro Margens, Ully Artha, Valentino
Dying is easy. Comedy is hard. Untuk membuat sekelompok orang tertawa ketika menyaksikan Anda melucu adalah lebih sulit daripada untuk membuat sekelompok orang bersedih ketika melihat Anda sengsara. Khususnya di Indonesia, dimana hampir seluruh film komedi yang ada, harus diasosikan dengan imej wanita-wanita berpakaian minim dan guyonan-guyonan (yang tidak lucu) kasar tentang seks.















