Posts Tagged ‘Maggie Grace’

So… this is the end. Hold your breath and count to ten. No… seriously. Franchise James Bond masih akan ada untuk puluhan tahun mendatang. Namun, kecuali jika Hollywood kemudian berusaha untuk mengambil keuntungan komersial tambahan dengan melakukan reboot atau mengadaptasi novel karya Stephanie Meyer menjadi sebuah serial televisi, maka The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 akan menjadi kali terakhir dunia dapat menyaksikan kisah percintaan antara Bella Swan dan Edward Cullen di layar lebar – yang tentu akan menjadi momen yang sangat menyedihkan bagi beberapa orang dan… momen yang patut untuk dirayakan bagi sebagian orang lainnya. Pun begitu, sebenci apapun Anda terhadap keberadaan franchise ini, rasanya adalah tidak mungkin untuk menyangkal bahwa keberadaan sutradara Bill Condon semenjak The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1 mampu memberikan perubahan yang menyegarkan pada franchise ini. Dan untuk menyelesaikan tugasnya, Condon ternyata mampu memberikan kejutan yang sangat, sangat manis pada The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2. Sebuah kejutan yang sebenarnya telah lama ditunggu kehadirannya dan, untungnya, mampu dieksekusi dengan sempurna.

(more…)

Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa sekuel dari film Taken (2008) yang dibintangi oleh Liam Neeson diperlukan untuk diproduksi oleh Hollywood. Namun, mengingat film yang berdana produksi sebesar US$26 juta tersebut lalu sukses luar biasa selama masa perilisannya di seluruh dunia dan menghasilkan pendapatan sebesar US$226 juta… yahhh… jelas wajar saja jika kemudian Hollywood memutar otak mereka dan mencoba mengulangi kesuksesan yang tidak disengaja tersebut. Walau kali ini tidak lagi melibatkan sutradara seri pertamanya, Pierre Morel, Taken 2 masih dibintangi oleh Liam Neeson dengan dukungan Famke Janssen dan Maggie Grace. Naskah cerita Taken 2 juga masih ditulis oleh duo Luc Besson dan Robert Mark Kamen… yang kembali menghasilkan jalan cerita dengan formula yang benar-benar sangat familiar dengan seri pendahulunya. Easy money eh?

(more…)

Dengan berbagai penghargaan dan nominasi yang ia raih dari banyak penghargaan film kelas internasional, Guy Pearce tidak dapat disangkal adalah salah satu ekspor akting terbaik dari Australia. Namun, pemilihan Pearce untuk lebih banyak berakting dalam film-film aksi kelas dua cenderung membuat kemampuan akting Pearce dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Padahal, tak peduli bagaimana kualitas cerita film yang ia bintangi, Pearce sepertinya selalu mampu menemukan cara untuk dapat membuat karakter yang ia perankan menjadi cukup berkesan – seperti yang ia lakukan pada peran-perannya di film Don’t Be Afraid of the Dark (2011) dan Seeking Justice (2011). Peforma akting yang sama juga akan ditunjukkan Pearce dalam Lockout, sebuah film aksi arahan James Mather dan Stephen St. Leger yang akan mampu memberikan hiburan yang cukup mumpuni bagi para penggemar film-film aksi terlepas dari kedangkalan jalan ceritanya.

(more…)

Jika terdapat satu kesamaan yang pasti antara Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 dengan The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 1, selain dari jalan cerita kedua film tersebut yang menawarkan sebuah alur kisah fantasi, maka hal tersebut dapat ditemukan dari kerakusan para produsernya untuk meraup keuntungan komersial sebanyak mungkin dari para penggemar berat franchise tersebut. Jujur saja, seri terakhir dari novel Harry Potter dan The Twilight Saga dapat saja ditampilkan dalam sebuah film cerita secara penuh – walau harus menghabiskan durasi waktu yang melebihi durasi penayangan standar film-film lainnya. Namun dengan alasan untuk ‘menampilkan seluruh esensi cerita yang terdapat dalam bagian terakhir dari seri novel tersebut,’ para produser film akhirnya membuatkan dua bagian film dari satu novel tersebut. Please!

(more…)

Ketika mantan bintang World Wrestling Entertainment, Dwayne Johnson atau yang pada masa itu dikenal sebagai The Rock, memulai karir aktingnya di film layar lebar, mungkin tidak ada seorangpun yang akan menyangka bahwa dirinya akan membintangi film semacam The Game Plan (2007), Race to Witch Mountain (2009) atau Tooth Fairy (2010), yang notabene merupakan film-film yang dipasarkan untuk kalangan keluarga. Johnson mungkin melakukannya atas nama variasi peran, namun sayangnya, kualitas film-film tersebut yang seringkali patut dipertanyakan, justru membuat nama Johnson menjadi terpuruk dengan kemampuan aktingnya yang semakin diragukan.

(more…)

Sejujurnya, adalah sangat mengenaskan untuk melihat dua aktor pemenang Academy Awards, Adrien Brody dan Forest Whitaker, beradu akting untuk pertama kalinya lewat film yang ternyata berakhir sebagai sebuah film yang berjalan sedatar The Experiment ini. Disutradarai oleh Paul Scheuring – seorang sutradara yang seharusnya mampu mengolah cerita yang berlatarbelakang kehidupan di balik penjara dengan pengalamannya bekerja di balik kesuksesan serial televisi, Prison BreakThe Experiment sebenarnya memiliki premis yang cukup menggoda, namun ternyata gagal dalam eksekusinya.

(more…)

Sebagai seorang sutradara, James Mangold mungkin adalah salah satu sutradara yang paling eksperimental di Hollywood. Semenjak memulai karirnya dengan menyutradarai Heavy (1995), Mangold kemudian telah menjelajah untuk menyutradarai berbagai film dengan genre yang berbeda-beda. Mulai dari Girl, Interrupted (1999) yang berbau drama, Kate and Leopold (2001) yang berada di jalur komedi romantis, film thriller Identity (2003), film musikal Walk the Line (2005) hingga film western 3:10 to Yuma (2007).

(more…)