Posts Tagged ‘Lukman Sardi’

Aku Cinta Kamu (Starvision/Upbeat Publishing/Indie Pictures, 2014)

Aku Cinta Kamu (Starvision/Upbeat Publishing/Indie Pictures, 2014)

Aku Cinta Kamu adalah sebuah omnibus yang berisikan empat film pendek yang diarahkan oleh empat sutradara berbeda. Persamaan antara keempat film pendek tersebut? Seluruh film pendek yang mengisi Aku Cinta Kamu naskah ceritanya ditulis oleh Cassandra Massardi (Slank Nggak Ada Matinya, 2013) berdasarkan lagu-lagu yang ditulis oleh Satriyo Yudi Wahono – sosok yang di blantika musik Indonesia lebih dikenal dengan sebutan Piyu. Well… seperti yang mungkin dapat digambarkan banyak penonton dari judul film ini, Aku Cinta Kamu berniat untuk memberikan gambaran mengenai berbagai peristiwa besar nan dramatis yang dapat terjadi dalam kehidupan manusia akibat dipicu dari penggunaan kalimat sederhana “aku cinta kamu”. Sounds romantic? Mungkin saja. Sayangnya, kecuali Anda menganggap kedangkalan penceritaan, pengarahan yang lemah, akting yang kaku dan jauh dari meyakinkan adalah sesuatu hal yang romantis, maka Anda kemungkinan besar tidak akan menemukan satupun sentuhan romansa dalam jalan penceritaan Aku Cinta Kamu.

(more…)

Laskar-Pelangi-Sekuel-2-Edensor-header

Melanjutkan perjalanan cerita Laskar Pelangi (2008) dan Sang Pemimpi (2009), Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor – yang dimaksudkan sebagai sekuel kedua dari seri film Laskar Pelangi, in case you’re wondering – berkisah mengenai Ikal (Lukman Sardi) dan sepupunya, Arai (Abimana Aryasatya – yang menggantikan pemeran Arai di seri sebelumnya, Nazril Irham), yang kini berada di Perancis karena berhasil mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Universitas Sorbonne, Paris. Ketibaan mereka di kota tersebut sendiri dimulai dengan cukup buruk: akibat terlambat mengkonfirmasi kedatangan mereka, Ikal dan Arai tidak diterima kehadirannya di asrama dan harus menghabiskan malam mereka kedinginan di jalanan kota Paris. Walaupun begitu, Ikal dan Arai telah memutuskan bahwa mereka tidak akan menyerah dalam mengejar mimpi mereka meskipun banyak halangan yang akan datang merintangi.

(more…)

soekarno-header

Setelah menggarap Sang Pencerah (2011) serta membantu proses produksi film Habibie & Ainun (2012), Hanung Bramantyo kembali hadir dengan sebuah film biopik yang bercerita tentang kehidupan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Berbeda dengan sosok Ahmad Dahlan – yang kisahnya dihadirkan dalam Sang Pencerah – atau Habibie yang cenderung memiliki kisah kehidupan yang lebih sederhana, perjalanan hidup Soekarno – baik dari sisi pribadi maupun dari kiprahnya di dunia politik – diwarnai begitu banyak intrik yang jelas membuat kisahnya cukup menarik untuk diangkat sebagai sebuah film layar lebar. Sayangnya, banyaknya intrik dalam kehidupan Soekarno itu pula yang kemudian berhasil menjebak Soekarno. Naskah cerita yang ditulis oleh Hanung bersama dengan Ben Sihombing (Cinta di Saku Celana, 2012) seperti terlalu berusaha untuk merangkum kehidupan Soekarno dalam tempo sesingkat-singkatnya – excuse the pun – sehingga membuat Soekarno seringkali kehilangan fokus penceritaan dan gagal untuk bercerita serta menyentuh subyek penceritaannya dengan lebih mendalam.

(more…)

ffi2013Setelah Fiksi yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Belenggu arahan Upi. 13 dari 15 kategori yang tersedia dalam Festival Film Indonesia 2013! That’s huge! Belenggu berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Naskah Asli Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Upi, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Abimana, Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk dua pemerannya, Imelda Therinne dan Laudya Cinthya Bella, serta Film Terbaik dimana Belenggu akan bersaing dengan 5 cm, Habibie & Ainun, Laura & Marsha dan Sang Kiai.

(more…)

leher-angsa-header

Alenia Pictures kembali hadir dengan film terbarunya, Leher Angsa. Seperti halnya film-film yang sebelumnya telah dirilis oleh rumah produksi milik Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen tersebut, Leher Angsa masih menawarkan sebuah jalinan kisah yang dikendalikan oleh sudut pandang karakter anak-anak, pengisahan yang berusaha merangkum masalah sosial hingga lokasi penceritaan yang berada di wilayah yang masih jarang dieksplorasi oleh kebanyakan film-film Indonesia lainnya – yang kali ini membawa penontonnya ke wilayah kaki Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sejujurnya, jika dibandingkan dengan tiga film hasil pengarahan Ari Sihasale sebelumnya; Tanah Air Beta (2010), Serdadu Kumbang (2011) dan Di Timur Matahari (2012), Leher Angsa terasa begitu sederhana, tidak tampil berlebihan dan mengalir dengan mudah – sebagian besar karena kualitas tata penulisan Musfar Yasin (Alangkah Lucunya (Negeri Ini), 2010). Namun, disaat yang bersamaan, naskah arahan Musfar berusaha memasukkan terlalu banyak karakter serta konflik yang akhirnya membuat Leher Angsa tidak pernah tampil fokus ataupun kuat dalam bercerita.

(more…)

cinta-dalam-kardus-header

Setelah Rudi Soedjarwo (Kambing Jantan, 2009) dan Fajar Nugros (Cinta Brontosaurus, 2013), kini giliran Salman Aristo yang mencoba untuk mengeksekusi tatanan kisah komedi yang ditulis oleh Raditya Dika. Berbeda dengan kedua film sebelumnya, Cinta dalam Kardus bukanlah sebuah film yang diadaptasi dari buku karya Raditya Dika – meskipun masih tetap memperbincangkan deretan problematika cinta yang dihadapi oleh sang karakter utamanya. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Raditya Dika bersama dengan Salman Aristo – yang sebelumnya juga pernah bekerjasama dalam menuliskan naskah cerita Kambing Jantan, Cinta dalam Kardus berusaha menghadirkan sebuah sajian komedi eksperimental dimana sang karakter utamanya secara konstan berbicara kepada penonton melalui kamera sembari terus menggulirkan kisah-kisahnya. Jelas bukan sebuah penuturan komedi yang biasa untuk penonton Indonesia, namun harus diakui, mampu tergarap baik di tangan Salman Aristo dan Raditya Dika.

(more…)

kisah-3-titik-header

Lola Amaria sepertinya memiliki rasa ketertarikan yang sangat mendalam untuk mengangkat karakter-karakter yang seringkali terasa terpinggirkan dalam kehidupan keseharian masyarakat. Setelah sebelumnya mengangkat seluk-beluk kehidupan para buruh migran Indonesia di Hong Kong lewat Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan berbagai sisi penceritaan kaum homoseksual lewat omnibus Sanubari Jakarta (2012), film terbaru yang ia produseri, Kisah 3 Titik, berusaha untuk memberikan gambaran mengenai kehidupan para kaum pekerja dan buruh di Indonesia. Sebuah tema penceritaan yang jelas cukup rumit sekaligus sulit untuk dijabarkan secara menyeluruh hanya dalam 104 menit durasi penceritaan, namun Kisah 3 Titik setidaknya mampu menghadirkan sisi nyata kehidupan para buruh yang tidak dapat dipungkiri akan memberikan rasa miris di hati banyak penontonnya.

(more…)