Mengikuti prestasi seri-seri sebelumnya, seri terakhir The Twilight Saga, The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2, berhasil mendapatkan nominasi terbanyak di ajang The 33rd Annual Golden Raspberry Awards – atau yang lebih dikenal dengan nama Razzie Awards. The Twilight Saga: Breaking Dawn – Part 2 bahkan mendapatkan nominasi di setiap kategori, termasuk Worst Picture, Worst Actress untuk Kristen Stewart (juga untuk perannya di Snow White and the Huntsman), Worst Actor untuk Robert Pattinson dan Worst Screenplay. Jangan khawatir, Team Jacob! Taylor Lautner juga berhasil meraih nominasi di kategori Worst Supporting Actor.
Posts Tagged ‘Liam Neeson’
Review: Taken 2 (2012)
Posted: October 4, 2012 in Movies, ReviewTags: Aclan Bates, D. B. Sweeney, Famke Janssen, Kevork Malikyan, Leland Orser, Liam Neeson, Luke Grimes, Maggie Grace, Movies, Olivier Megaton, Rade Šerbedžija, Review, Taken 2
Tidak ada yang benar-benar tahu mengapa sekuel dari film Taken (2008) yang dibintangi oleh Liam Neeson diperlukan untuk diproduksi oleh Hollywood. Namun, mengingat film yang berdana produksi sebesar US$26 juta tersebut lalu sukses luar biasa selama masa perilisannya di seluruh dunia dan menghasilkan pendapatan sebesar US$226 juta… yahhh… jelas wajar saja jika kemudian Hollywood memutar otak mereka dan mencoba mengulangi kesuksesan yang tidak disengaja tersebut. Walau kali ini tidak lagi melibatkan sutradara seri pertamanya, Pierre Morel, Taken 2 masih dibintangi oleh Liam Neeson dengan dukungan Famke Janssen dan Maggie Grace. Naskah cerita Taken 2 juga masih ditulis oleh duo Luc Besson dan Robert Mark Kamen… yang kembali menghasilkan jalan cerita dengan formula yang benar-benar sangat familiar dengan seri pendahulunya. Easy money eh?
Review: The Dark Knight Rises (2012)
Posted: July 22, 2012 in Movies, ReviewTags: Aidan Gillen, Alon Abutbul, Anne Hathaway, Batman, Ben Mendelsohn, Brett Cullen, Burn Gorman, Chris Ellis, Christian Bale, Christopher Judge, Christopher Nolan, Cillian Murphy, Desmond Harrington, Gary Oldman, Joseph Gordon-Levitt, Josh Pence, Juno Temple, Liam Neeson, Marion Cotillard, Matthew Modine, Michael Caine, Morgan Freeman, Movies, Nestor Carbonell, Review, Rob Brown, The Dark Knight Rises, Tom Conti, Tom Hardy
Ketika dirilis pada tahun 2005, Batman Begins yang diarahkan oleh Christopher Nolan berhasil membersihkan imej karakter pahlawan tersebut dari kegagalan besar yang disebabkan oleh Joel Schumacher dengan Batman & Robin (1997) yang sempat dianggap telah mematikan potensi perkembangan franchise tersebut secara keseluruhan. Tidak hanya itu, atmosfer kelam dan cenderung depresif yang ditampilkan dalam penceritaan Batman Begins yang diarahkan Nolan kemudian memberikan pengaruh besar bagi banyak adaptasi kisah-kisah superhero yang muncul setelahnya, bahkan hingga saat ini. Kini, tujuh tahun setelah perilisan Batman Begins dan empat tahun selepas perilisan sekuelnya, The Dark Knight (2008), yang fenomenal itu, Nolan melengkapi trilogi The Dark Knight-nya dengan merilis The Dark Knight Rises: sebuah bagian yang nantinya mungkin akan dikenal sebagai bagian terkelam, termegah sekaligus terambisius dari trilogi The Dark Knight arahan Nolan. Tapi apakah The Dark Knight Rises akan menjadi bagian terbaik?
Review: Battleship (2012)
Posted: April 12, 2012 in Movies, ReviewTags: Adam Godley, Alexander Skarsgård, Battleship, Brooklyn Decker, Gary Grubbs, Griff Furst, Hamish Linklater, Jesse Plemons, John Bell, John Tui, Josh Pence, Liam Neeson, Marcus Lyle Brown, Movies, Peter Berg, Peter MacNicol, Review, Rihanna, Stephen Bishop, Tadanobu Asano, Taylor Kitsch
Disutradarai oleh Peter Berg, yang terakhir kali mengarahkan Will Smith dan Charlize Theron dalam Hancock (2008), diproduseri oleh Brian Goldner dan Bennett Schneir yang juga memproduseri franchise Transformers (2007 – 2011) dan dibintangi oleh Taylor Kitsch yang baru saja membintangi John Carter (2012) dengan jalan cerita yang terinspirasi dari sebuah video game yang populer, Battleship sepertinya memiliki seluruh elemen yang tepat untuk menjadi sebuah film science fiction aksi yang dapat menyenangkan para penontonnya. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi pada film ini. Dihantui oleh penulisan naskah dan dialog yang minimalis serta tampilan visual yang tidak mampu menghadirkan sesuatu yang baru, Battleship cenderung tampil membosankan di sepanjang 131 menit durasi film ini berjalan.
Review: Wrath of the Titans (2012)
Posted: April 2, 2012 in Movies, ReviewTags: Édgar Ramírez, Bill Nighy, Danny Huston, Freddy Drabble, John Bell, Jonathan Liebesman, Kathryn Carpenter, Liam Neeson, Lily James, Martin Bayfield, Movies, Ralph Fiennes, Review, Rosamund Pike, Sam Worthington, Spencer Wilding, Toby Kebbell, Wrath of the Titans
Dengan pendapatan lebih dari US$400 juta yang diperoleh Clash of the Titans (2010) selama masa rilisnya di seluruh dunia, adalah sangat mudah untuk memahami keputusan para produser film tersebut yang kemudian ingin melanjutkan kesuksesan tersebut dengan memproduksi sebuah sekuel – walaupun dari sisi kritikal, Clash of the Titans dapat digolongkan sebagai sebuah kegagalan dan hampir dapat dengan mudah dilupakan banyak orang keberadaannya. Mengangkat mengenai mitos dewa-dewa Yunani yang sebenarnya sangat menarik, Louis Leterrier sayangnya gagal untuk memberikan sebuah sentuhan yang menarik dalam penceritaannya. Posisi Leterrier sendiri di sekuel Clash of the Titans, Wrath of the Titans, kini digantikan oleh Jonathan Liebesman (World Invasion: Battle Los Angeles, 2011). Sayangnya, Liebesman sendiri sepertinya juga tidak dapat melakukan banyak hal untuk dapat meningkatkan kualitas penceritaan franchise ini.
Review: The Grey (2012)
Posted: February 23, 2012 in Movies, ReviewTags: Anne Openshaw, Ben Bray, Dallas Roberts, Dermot Mulroney, Frank Grillo, Jacob Blair, James Badge Dale, Joe Anderson, Joe Carnahan, Liam Neeson, Movies, Nonso Anozie, Review, The Grey
Diangkat dari cerita pendek berjudul Ghost Walker karya Ian MacKenzie Jeffers, yang bersama sutradara Joe Carnahan (The A-Team, 2010) juga menyusun naskah cerita untuk film ini, The Grey mengisahkan mengenai sekelompok pekerja pertambangan minyak di hari terakhir mereka bekerja. Setelah selama lima minggu terdampar di dinginnya hamparan luas Alaska, para pekerja tersebut akhirnya dapat kembali ke rumah mereka masing untuk mendapatkan masa istirahat mereka. Salah satu diantara para pekerja tersebut adalah John Ottway (Liam Neeson), yang di hari terakhir dirinya bekerja, menuliskan sebuah surat untuk istri (Anne Openshaw) yang semenjak beberapa lama selalu terbayang di benaknya untuk kemudian melakukan sebuah usaha bunuh diri. Lolongan seekor serigala kemudian membatalkan rencana tersebut.
Review: Unknown (2011)
Posted: April 22, 2011 in Movies, ReviewTags: Aidan Quinn, Bruno Ganz, Diane Kruger, Frank Langella, January Jones, Jaume Collet-Serra, Liam Neeson, Movies, Rainer Bock, Review, Sebastian Koch, Unknown

Terakhir kali penonton menyaksikan Liam Neeson beraksi di jalanan – di Paris, Perancis — dan menghajar banyak orang dalam perjalanannya, Neeson sedang mencari puterinya yang hilang dan terjebak dalam aksi perdagangan manusia dalam film Taken (2008). Dalam Unknown, sebuah film yang diadaptasi dari novel Hors de Moi (2003) karya penulis Perancis, Didier van Cauwelaert, Neeson kembali beraksi di jalanan – kini di Berlin, Jerman – dan kembali harus melawan sekelompok pihak yang mencoba merebut sesuatu yang berharga dari dirinya… identitas dirinya. Memiliki premis yang hampir sama, Unknown sayangnya gagal dalam memberikan sebuah material yang lebih segar bagi penontonnya, walaupun Neeson, salah satu aktor terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini, masih mampu menampilkan permainannya yang cukup cemerlang.
Review: After.Life (2010)
Posted: July 25, 2010 in Movies, ReviewTags: After.Life, Agnieszka Wojtowicz-Vosloo, Celia Weston, Chandler Canterbury, Christina Ricci, Josh Charles, Justin Long, Liam Neeson, Movies, Review
Menyaksikan After.Life, sebuah film yang menjadi debut penyutradaraan dari sutradara Agnieszka Wojtowicz-Vosloo, akan memberikan dua pemikiran yang berbeda bagi penontonnya. Beberapa orang akan memandang kagum atas kemampuan Wojtowicz-Vosloo dalam mengarahkan dua bintangnya, Liam Neeson dan Christina Ricci, untuk bermain sangat bagus dan menciptakan sebuah film horror yang memiliki atmosfer gelap dan cukup mencekam. Sementara itu, sebagian lagi akan meragukan kualitas film ini dan meletakkannya sebagai sebuah film yang terlalu absurd untuk diterima akal sehat.



















