Posts Tagged ‘Josh Hutcherson’

the-hunger-games-catching-fire-header

Ketika The Hunger Games dirilis tahun lalu, dunia dengan sesegera mungkin membandingkannya dengan seri film The Twilight Saga. Tidak mengherankan memang. Selain karena kedua jalan ceritanya dipimpin oleh sosok karakter utama wanita yang begitu dominan, baik The Hunger Games dan seri film The Twilight Saga (2008 – 2012) juga melibatkan jalinan kisah cinta segitiga yang, tentu saja, tampil begitu menggiurkan bagi kalangan penonton young adult yang memang menjadi target penonton utama bagi kedua seri film ini. Meskipun begitu, The Hunger Games kemudian membuktikan kekuatannya ketika berhadapan dengan  faktor kritikal maupun komersial: The Hunger Games tidak hanya mampu menarik perhatian penonton dalam skala besar – total pendapatan sebesar lebih dari US$ 691 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$78 juta – namun juga berhasil meraih pujian luas dari para kritikus film dunia, khususnya atas susunan cerita yang lebih kompleks dan menegangkan daripada The Twilight Saga serta penampilan Jennifer Lawrence yang begitu memikat.

(more…)

epic-header

Unfortunately, there’s actually nothing epic abouterrrEpic. Jangan salah. Chris Wedge (Robots, 2005) mampu menghadirkan presentasi visual film ini dengan kualitas yang cukup mengesankan. Sangat indah, meskipun bukanlah presentasi terbaik yang dapat diberikan oleh sebuah film yang memanfaatkan teknologi 3D dalam tampilan visualnya. Wedge juga mampu menata intensitas cerita yang kuat pada beberapa bagian cerita sehingga membuat Epic terlihat begitu menarik untuk diikuti oleh para penonton muda. Namun, terlepas dari segala keunggulan tersebut, secara keseluruhan, Epic terasa jauh dari kesan spektakuler. Pada kebanyakan bagian kisahnya, Epic lebih terkesan sebagai sebuah film yang menghadirkan pola penceritaan dan karakter yang (terlalu) tradisional. Tidak salah. Namun… yah… jelas tidak istimewa.

(more…)

Ketika pertama kali kabar bahwa trilogi novel The Hunger Games (2008 – 2010) karya Suzanne Collins akan diadaptasi ke layar lebar, banyak pihak yang mengharapkan bahwa versi film dari trilogi tersebut akan memiliki pengaruh komersial yang sama besarnya dengan versi adaptasi film dari The Twilight Saga (2005 – 2008) karya Stephanie Meyer. Tentu saja, harapan tersebut muncul karena kedua seri novel tersebut sama-sama menghadirkan kisah cinta segitiga yang biasanya dapat dengan mudah menarikj perhatian para penonton muda. Kisah romansa memang menjadi salah satu bagian penting dalam penceritaan The Hunger Games. Namun, kisah romansa tersebut hanyalah salah satu bagian kecil dari tema penceritaan The Hunger Games yang tersusun dari deretan kisah yang lebih kompleks, dewasa dan jauh lebih kelam dari apa yang dapat ditawarkan oleh The Twilight Saga.

(more…)

Michael Caine adalah salah satu aktor yang paling dihormati di Hollywood. Berhasil memenangkan dua penghargaan Academy Awards dan kemudian menjadi salah satu aktor yang secara konsisten selalu berhasil meraih nominasi akting di ajang penghargaan film Hollywood tersebut di setiap dekade semenjak tahun 1960an, Caine mempertajam reputasinya sebagai seorang aktor kelas atas dengan selalu memberikan penampilan yang sempurna pada film-film yang secara hati-hati ia pilih untuk bintangi. Karenanya, cukup mengherankan untuk melihat mengapa Caine mau ambil bagian dalam Journey 2: The Mysterious Island – sekuel dari film Journey to the Center of the Earth yang sukses besar secara komersial ketika dirilis pada tahun 2008 dan menjadi salah satu film pelopor bangkitnya penggunaan teknologi 3D di film-film Hollywood. Journey 2: The Mysterious Island tidak hanya memiliki jalan cerita yang begitu mudah ditebak. Jalan cerita film ini tampil begitu malas, tanpa berusaha untuk memberikan sebuah nuansa penceritaan baru serta deretan karakter yang begitu dangkal dan sulit untuk disukai.

(more…)

Columbia Pictures sepertinya harus melakukan kampanye yang lebih giat lagi untuk mempromosikan film David Fincher, The Social Network, jika mereka tidak menginginkan film tersebut secara perlahan mulai tenggelam oleh kepopuleran The King’s Speech maupun The Fighter. Setelah “hanya” berhasil memperoleh enam nominasi di ajang The 68th Annual Golden Globe Awards, perolehan nominasi The Social Network di ajang The 17th Annual Screen Actors Guild Awards kali ini juga hanya mampu berdiri di belakang The King’s Speech dan The Fighter. Jika kedua film tersebut berhasil memimpin dengan meraih empat nominasi, maka The Social Network harus berpuas diri dengan hanya meraih dua nominasi.

(more…)

Adalah sangat mudah untuk mendeklarasikan The Kids Are All Right sebagai sebuah film drama keluarga terbaik yang pernah dihadirkan Hollywood dalam beberapa tahun terakhir. Yang membuat film ini tampil berbeda dengan film-film keluarga Hollywood lainnya adalah di film ini Anda tidak akan menemukan sebuah keluarga — yang terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan beberapa anak mereka — yang kemudian diterpa beberapa permasalahan yang di dalam perjalanan cerita kemudian justru akan menjadi sebuah penguat (atau pada beberapa kasus: pemecah) keluarga tersebut. Tidak ada sosok ayah di keluarga ini. Yang ada hanyalah dua orang wanita yang saling mencintai satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk menggunakan bantuan seorang donor sperma untuk dapat memberikan mereka dua orang anak. Baiklah… Anda dapat menjuluki sang donor sperma sebagai sosok ayah bagi kedua anak tersebut.

(more…)

Dibintangi oleh nama-nama besar seperti Kate Beckinsale, Dakota Fanning, Guy Pearce, Forest Whitaker, Jennifer Hudson dan Josh Hutcherson, Winged Creatures sempat menjadi film yang paling banyak dinantikan oleh banyak penonton di akhir 2008. Selain karena nama-nama besar tersebut, tema yang dibawakan film ini juga sepertinya akan menjadi sebuah tema yang cukup layak untuk dibawakan ke berbagai tingkat penghargaan film.

(more…)